Satu

479 38 7
                                        

"Noona, ini permen untukmu."

"Jinjja??"

"Eoh."

"Kookie baik sekali, terima kasih."

"Kookie suka noona.", katanya tersipu.

🍁

Masih aku ingat jelas anak laki-laki kecil dengan mata bulat, pipi gembul dan gigi kelincinya yang selalu mengikutiku kemanapun aku pergi.

Dia juga selalu memberikan sesuatu yang dia punya padaku seperti permen, cokelat, kue. Apapun akan ia bagi denganku.

Dan bibir mungilnya yang tidak pernah berhenti berkata "Kookie suka noona.", membuat senyumku melebar saat mendengarnya.

Saat hari pertama kepindahanku aku melihatnya berdiri di depan rumahku, dia begitu lucu dengan boneka teddy bear kecil yang selalu dibawanya. Aku mencoba mendekatinya yang tersenyum malu-malu kemudian menanyakan namanya.

"Kookie", jawabnya sambil memamerkan gigi kelincinya.

Kami berteman sejak hari itu.

Usia kami berbeda, dia jauh lebih muda dua tahun dari pada aku. Dia punya seorang kakak laki-laki yang sebaya denganku tapi aku lebih dekat dengan Kookie.

Makan bersama, bermain bersama, terkadang ia juga tidur denganku di kamarku bahkan kebiasaan ini berlanjut sampai aku masuk sekolah menengah. Orang tua kami juga jadi dekat karena kedekatan kami.

Tapi semuanya kebiasaan itu berhenti saat dia lulus dari sekolah menengah pertama dan mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan sekolahnya di negeri Paman Sam.

Saat itu aku sedih tentu saja, aku menangis saat dia bilang dia mendapatkan beasiswa ke Amerika. Mengunci diriku di dalam kamar seharian, tidak mau makan ataupun keluar kamar.

Yang aku lakukan hanya menangis di kamar seharian. Meskipun untuk usiaku saat itu tindakanku terkesan kekanakan tetapi orang tuaku memaklumi, mereka mengerti apa yang aku rasakan mengingat selama ini tak satu haripun aku lewatkan tanpa Jungkook.

Ya namanya Jeon Jungkook tapi aku lebih suka memanggilnya Kookie, seperti saat pertama kali dia menyebutkan namanya padaku.

"Noona, ini aku. Buka pintunya jebal...", terdengar suaranya membujuk.

Aku bergeming, tidak ingin bertemu dengannya karena aku merasa ditinggal olehnya.

"Noona jebal..", kali ini suaranya lirih.

Akhirnya aku menyerah, aku tidak ingin membuang sisa waktuku bersama Jungkook yang akan pergi dalam beberapa hari.

Aku membuka kunci pintu kamarku kemudian kembali melangkah ke tempat tidur mendudukkan diriku dan membiarkannya masuk. Dia ikut duduk di sampingku.

"Noona jangan menangis.", katanya.

Aku diam.

"Aku hanya pergi sebentar, hanya tiga tahun. Aku janji pasti kembali."

"Tapi kau meninggalkanku. Kau bilang ingin terus bersamaku. Kenapa aku di tinggal sendiri?", tuntutku.

"Aku juga ingin selalu disisi noona, tapi noona tahu kan ini juga impianku untuk dapat bersekolah disana?"

Aku kembali bergeming.

"Noona jangan sedih, aku pasti kembali. Tiga tahun itu sebentar. Lagipula ada ayah ibumu, ayah ibuku juga Joohyuk hyung yang menemani noona. Noona tidak sendiri. Aku yang akan sendiri disana.", katanya lirih

Aku baru sadar kalau disini aku masih di kelilingi orang-orang yang menyayangiku tapi dia akan sendiri disana. Hatiku sedih memikirkannya.

Aku egois ternyata. Aku hanya memikirkan diriku sendiri tanpa memikirkannya dan baru tersadar saat dia berkata begitu.

"Kookie-ya mianhae. Aku egois.", kataku kembali terisak.

Rasa sayangku terlalu besar padanya, aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpanya sampai aku bertindak begitu egois.

"Gwenchana noona. Aku mengerti perasaanmu. Noona jangan sedih lagi, eoh? Nanti aku juga ikut sedih.", katanya.

"Jadi noona mau menungguku kan? Kita masih bisa saling menghubungi" katanya lagi.

Aku mengangguk kemudian memeluknya, dia membalas pelukanku erat.

Kenapa di umurnya yang jauh berada di bawahku dia bisa bersikap begitu dewasa?

***

Dua tahun pertama kami masih terus berkomunikasi seperti biasa, dia menghubungiku setiap hari. Di tahun ketiga setelah Jungkook pergi, keluarga kami pindah ke Seoul karena ayahku yang diminta kakek untuk melanjutkan usahanya.

Aku yang sedang berkuliah di Busan memilih mengikuti orang tuaku untuk pindah ke Seoul karena tidak ingin tinggal sendiri di Busan. Dan mulai saat itu aku kehilangan kontak dengan Jungkook dan juga keluarganya.

Jungkook yang biasanya setiap hari menghubungiku tiba-tiba saja memutuskan komunikasi kami begitu saja, menghilang bagai di telan bumi. Pun keluarganya, orang tuaku tidak bisa menghubungi mereka sama sekali.

Saat aku libur, aku dan ayahku sengaja datang ke Busan untuk bertemu mereka tetapi nihil. Ternyata mereka juga pindah dan tidak ada yang tahu kemana mereka pindah.

Aku frustasi dengan keadaanku saat ini. Aku menyesali kepindahanku saat itu untuk mengikuti orang tuaku. Tak tahu harus bagaimana lagi mencari keberadaan mereka. Aku kembali mengurung diriku seperti pertama kali Jungkook bilang bahwa dia akan pergi.

Beruntung beberapa bulan setelahnya aku kembali mendapatkan semangat hidupku lagi. Aku berpikir aku tidak boleh seperti ini terus. Hidupku harus tetap berlanjut dengan atau tanpa Jungkook di hidupku.

Akhirnya mulai saat itu aku memutuskan untuk melupakan Jungkook di hidupku.

🍁🍁🍁

LOSTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang