Ketukan alat-alat makan terdengar mendominasi ruangan makan yang amat besar nan megah dengan interior mengagumkan.
Tepat di sana berkumpul para Uchiha yang hampir menyelesaikan ritual makan malam mereka, hingga 5 menit kemudian secara berantai satu per satu anggota Uchiha meletakkan alat-alat makan mereka secara teratur dan tertata.
Madara. Pria tua dengan kuasa dan tahta dalam keluarga Uchiha, menatap tajam dan penuh intimidasi Uchiha Sasuke.
Di sisi lain, Sasuke balik menatap Madara tanpa ada rasa takut ataupun gentar.
"Aku ingin wanita itu dan cucukku tinggal di sini. Kau tahu seberapa besar keinginanku untuk memiliki cucu perempuan, bukan?"
"Aku tahu." sambung Sasuke cepat.
Sudah bukan rahasia lagi jika seorang Uchiha Madara sangat mendambakan cucu perempuan.
Bagi pria sepuh itu, 4 cucu laki-laki sudah cukup untuk menjadi fondasi keluarga Uchiha, dan cucu perempuan adalah penyempurna terakhir kebahagiaannya di usia senja.
Ketika Madara mendengar kabar Sasuke memiliki anak perempuan, ia mendesak pria itu untuk membawa cucu serta merta dengan ibu nya agar tinggal dan meramaikan kediaman suram bak kuburan ini.
Madara sudah muak dengan kekakuan anggota Uchiha. Ia merasa hidupnya puluhan tahu akan sia-sia jika mati dikelilingi mereka yang jauh lebih dingin dari balok es meski nyatanya dia juga sama. Sebelum malaikat maut menyapa dirinya, satu keinginan terbesar Madara adalah mendengar rumah besar nan megah ini diisi oleh gelak tawa serta kehangatan. Karena itu, Sakura dan Sarada adalah unsur terpenting dari keinginan Madara.
Bukan Sasuke namanya jika dia mau tunduk begitu saja. Apalagi Sakura adalah mantan istri yang dulu terpaksa ia nikahi karena kecelakaan bodoh yang ia lakukan. Sayangnya kuasa dan kecerdasan seorang Madara tak bisa dilawan.
"Dua bulan. Jika dalam dua bulan kau tidak berhasil membawa mereka ke rumah ini, bersiap lah untuk melepas nama Uchiha."
Suara dingin dan tenang milik Madara berhasil memaksa semua anggota Uchiha yang sejak tadi diam menyimak, kini membelalakkan mata mereka tak percaya.
Melepas nama Uchiha adalah mimpi buruk bagi anggota Uchiha jika titah itu disampaikan langsung oleh sang pemegang kipas kekuasaan.
Hanya ada 1 akhir dari mereka yang telah menanggalkan marganya.
Dihancurkan hingga tak bersisa.
Madara bukan pria tua bangka yang asal menggertak. Jika dia memberi ancaman, maka dia benar-benar akan melakukannya tanpa pandang bulu.
Jika ancaman yang Madara berikan hanya sekedar kehilangan saham, perusahaan atau harta warisan, maka Sasuke tak akan ambil pusing.
Tapi melepas nama Uchiha?
Ia percaya itu awal dari kehidupan penuh penderitaan tiada akhir baginya.Madara pasti akan menghancurkan nya hingga rata dengan debu.
Di sisi lain Mikoto tampak terkejut mendengar ancaman sang mertua. Ia hendak perotes, karena ancaman Madara adalah hal tergila yang pernah ia dengar. Tapi dengan sigap Fugaku memberi isyarat untuk bungkam.
Posisi mereka sebagai orang tua tidak berpengaruh banyak untuk situasi Sasuke yang bisa dibilang di ambang batas hidup dan mati. Salah bicara, Madara bisa saja menumpahkan kekesalannya pada Mikoto.
Fugaku percaya Sasuke adalah anak yang hebat. Dia pasti bisa mengatasi masalahnya sendiri, dan semua itu tersampaikan dengan sempurna lewat isyarat mata sang ayah.
"Aku mengerti."
.
Tok Tok Tok
Tanpa menunggu sang empu mengizinkan masuk, Itachi membuka pintu ruang kerja Sasuke dan memberi senyum terhangatnya. Itachi mengerti saat ini Sasuke pasti sangat tertekan.
"Bagaimana perasaanmu?" pria 32 tahun itu menyamankan diri di sofa dan menatap teduh sang adik yang sejak tadi sibuk melihat laporan.
"Kacau."
"Lalu, bagaimana perasaanmu pada mantan istri dan anak mu?"
Menyadari pembicaraan mereka cukup serius, Sasuke menutup laporannya dan balik menatap lekat sang kakak.
Onyxnya tak berdusta. Sasuke merasakan beragam perasaan yang asing tergambar jelas di sana. Sorot mata yang biasa tajam kini terlihat kacau, sekacau perasaannya.
"Aku tidak tahu. Sampai aku bertemu lagi dengan mereka, aku tidak tahu."
"Dia?"
Menghela nafas berat. Sasuke paham betul siapa yang Itachi singgung. Dan masalah kian rumit dengan kenyataan bahwa ada hati lain yang harus Sasuke jaga.
"Kau tahu aku tidak mungkin melepas Karin, Itachi. Dia hidupku."
"Dan kau akan menyeret Sakura juga Sarada ke sini? Tinggal di rumah bersama dengan mu yang hanya bisa memberi luka?"
Itachi tahu perkataannya sedikit keterlaluan. Tapi membayangkan posisi Sakura membuat nya tak sampai hati. Ia tahu Sakura wanita baik, sudah cukup wanita itu terluka karena kebodohan adiknya.
Sebersit rasa sesal menyeruak masuk memenuhi rongga hatinya, rasa sesal yang telah bersemayam sejak belasan tahun silam.
"Andai saja anak itu bukan anakmu, dengan senang hati aku akan mempersunting Sakura dan menjadi ayah bagi Sarada. Aku menyesal bertemu dengannya setelah ia menikah denganmu."
Tubuh jangkung Itachi melenggang pergi meninggalkan sang adik yang masih terdiam membisu. Perkataan Itachi sukses menohok sisi lain Sasuke yang kerap bersikap egois.
Dalam diam Sasuke merenungkan banyak hal. Berharap dengan begitu Kami-sama akan memberinya jalan keluar termudah untuk mengatasi masalah baru di hidupnya.
#TBC
Yo! Halo penghuni dunia jeruk keprok.
Salam kenal dari pendatang baru hehehe. Ale harap kalian suka cerita ini.
Untuk typo, kesalahan penempatan alur dan lain sebagainya Ale minta maaf. Jangan sungkan mengoreksi jika kalian merasa ada yang kurang cocok.
See you!
Hapus/Lanjut ?
YOU ARE READING
Memorable
Romance12 tahun Sarada hidup tanpa tahu jati diri dan keberadaan ayahnya. Hanya selembar foto yang diam-diam Sarada lihat dari balik buku agenda sang ibu yang ia yakini sebagai ayah biologisnya. Kekesalan, kemarahan, kesedihan, kekecewaan, semua bergumpal...
