Elooo, nama gue Renata mira aka Reira aka Rei aka Ira. Ini ff pertama gue si wkwk. Cuma karna bosen aja makanya bikin ff yang cenderung ke arah imagine mungkin (?)
Enjoy yuksss.
.
.
.
.
.
***
"bang dimana? Jadi jemput enggaa?"
Reira menepuk betisnya saat merasakan beberapa nyamuk menempel bahkan sesekali menggingit gemas(?) kulit putihnya.
"jemput gimana? Emang udah pulang?"
Reira menjauhkan ponsel dari telinganya. Ia berdecak menatap layar yang menampakkan nama kakaknya.
"ngigo ya? Kan udah aku teksss?"
"masa sih? Yaudah tunggu bentar abis ini abang otw."
Pip-
Diputus seenaknya sodara,
Demi manusia kuda, tadi udah diteks dari jam empat sore, dan sekarang udah mau magrib bang, magrib?! Berapa jam coba ini? Gatau capek berdiri mana digigit banyak nyamuk pula! Aaah!
Reira tak berhenti meruntuki dirinya sendiri tatkala hasil dari perbuatan kakaknya sendiri. Matanya sudah berkaca-kaca melihat disekeliling.
"huffh! Jangan nangis! Tahan! Malu-maluin!" ia menggembungkan pipinya dengan tangan yang dikibas-kibaskan ke wajah berharap dapat meredakan emosinya.
Tintin!
"Naik!"
ia menghembuskan napas kasar saat mobil jendela kakaknya terbuka.
BREB!
Reira masuk dan menutup pintu mobil dengan penuh amarah. Biasanya ia duduk didepan tepat disamping kakaknya, namun kali ini ia lebih memilih untuk duduk dibelakang.
"Reiraaa." ia tau sedang dihadiahi tatapan tajam lewat kaca mobil tapi ia enggan untuk menanggapi.
"Ponsel abang loh engga ada pesan masuk sama sekali dari kamu."
Reira terus menatap jalan.
"Ra dengerin Bang Jey ngomong enggak?"
"Denger."
"Kalau denger kenapa gak dijawab?"
"Karna gak nanya. Abang tadi kan cuma bilang kalau gada pesan masuk, bukan nanya kenapa pesannya gabisa masuk?"
Nadanya bergetar tapi masih terdengar ketus.
"Rei, kalau mama tau kamu gasopan gini terus dimarahin, abang gamau belain ya."
"Aduin aja aduin! Biar ade' dimarahin biar diusir biar kalian seneng!"
JeyHope melihat adiknya dari kaca mobil dengan mata berkaca-kaca dan napas yang tersenggal-senggal.
Sesaat kemudian..
Em..
Uh..
"hueee~." tumpah sudaaah.
"Udah cupppp, ga baik magrib-magrib nangis, nanti setannya masuk gimana?"
"uh?" JeyHope melirik lagi menunggu aksi Reira berikutnya. "Hue abanggg~"
Ahahahaha, JeyHope udah apal gengs...
***
Sampai dirumah, Reira enggan turun takut ditanyai oleh yang lain kenapa ia bisa menangis. Jadi ia menyuruh JeyHope untuk jangan masuk dulu dan menyuruh diam dimobil sampai tangisannya reda.
Jeyhope yang gemas karna sudah tiga puluh menit tak kunjung reda juga, didorong rasa lapar diperutnya, akhirnya ia turun dan membuka pintu belakang mobil tempat Reira duduk untuk mengelap air mata dengan bajunya.
