PROLOG: DUA KEMATIAN, SATU PINTU

168 11 1
                                        

PROLOG: DUA KEMATIAN, SATU PINTU

---

Hujan badai menghantam kaca jendela kantor penthouse di lantai enam puluh. Suara gemuruh petir bergema jauh di bawah awan gelap yang menutupi kota. Raydon berdiri di depan jendela raksasa itu, menatap lautan lampu jalanan yang berkilauan seperti mata kucing di kegelapan.

Di belakangnya, sebuah meja mahogani tua terbentang luas. Di atasnya, dokumen merger tergeletak terbuka—kertas tebal berwarna krem dengan tinta hitam pekat yang masih basah. Tanda tangannya baru saja mengering di pojok kanan bawah.

Raydon mengangkat cangkir kopi porselen yang sudah dingin. Ia meneguknya tanpa merasakan apa-apa. Rasa pahit kopi murah bercampur dengan sesuatu yang lebih tajam—logam, mungkin. Ia tidak peduli. Pikirannya sibuk menghitung margin keuntungan.

Ini adalah merger yang tepat. Secara logika, secara finansial, secara strategis.

Dan ini adalah hadiah terakhir yang bisa ia berikan pada satu-satunya keluarga yang ia miliki.

Badai di luar semakin keras. Kaca jendela bergetar.

---

Aula perjamuan sunyi. Hanya ada cahaya lilin yang gemetar di atas meja panjang dari kayu eboni tua. Bayangan menari di dinding batu yang lembap, menciptakan pola-pola yang tampak seperti wajah-wajah tanpa mata.

Pangeran Javion duduk di ujung meja yang terlalu besar untuknya. Tubuhnya kurus, punggungnya membungkuk. Tangannya terletak lemah di atas pangkuan. Di depannya, sebuah cawan perak berisi anggur merah tua memantulkan wajahnya yang pucat—mata cekung, bibir kering, rambut hitam yang berminyak.

---

Raydon berbalik dari jendela. Ia hendak menutup dokumen merger itu, tapi sebuah bayangan muncul di pantulan kaca—sosok pria bersetelan jas abu-abu yang selalu rapi, bahkan di tengah badai.

David Chen.

Pria yang menemukannya saat ia masih menjadi analis muda yang ambisius dan kesepian. Pria yang mengajarinya cara bertahan hidup di dunia korporat yang kejam. Mentor. Mitra. Satu-satunya keluarga yang ia akui.

David berdiri di ambang pintu dengan tenang. Tangannya disimpan santai di saku celana. Senyumnya tipis. Matanya—dua titik hitam yang dingin—menatapnya tanpa berkedip.

Raydon merasakan sesuatu yang salah. Bulu kuduknya berdiri. Ruangan terasa lebih dingin meskipun penghangat ruangan menyala penuh.

"Selesai?" tanya David. Suaranya datar seperti permukaan danau yang membeku.

Raydon mengangguk. Tangannya meraih gagang cangkir kopi lagi, mencoba mengusir rasa tidak nyaman yang merayap di dadanya.

David melangkah maju. Langkahnya pelan, terkontrol. Seperti predator yang sudah yakin mangsanya tidak bisa lari.

"Kau murid yang cerdas, Raydon."

Suara itu terdengar seperti pujian. Seperti doa pemakaman.

"Tapi seorang ayah tidak akan membiarkan anaknya melampaui dirinya."

---

Langkah kaki berat menggema di lantai batu.

Sosok besar melangkah keluar dari bayangan di ujung aula. Kaisar Jovani—ayahnya, penguasa absolut Kekaisaran Ceoslutha, penjaga peradaban melawan kiamat yang disebut The Bleed.

Tubuhnya seperti tembok batu. Bahunya selebar pintu gerbang. Mahkota besi di kepalanya memantulkan cahaya lilin dengan suram. Wajahnya keras, tanpa ekspresi—seperti patung yang diberi napas. Matanya adalah dua lubang granit yang tidak mengenal belas kasihan.

The Exiled Prince Who Outsmarted the GodsStories to obsess over. Discover now