Bahagia itu sederhana, sesederhana saat kamu menarik kedua sudut bibirmu, melengkung manis.
🍁🍁🍁
Gedung tinggi dan besar sekolah SMA Garuda tampak masih sepi di pagi hari. Disana Ara sudah datang dan duduk di depan kelasnya yang memberikan pemandangan indah didepannya, air mancur dan bunga-bunga seperti umumnya pada taman. Sekolah ini memang memberikan fasilitas yang bisa membuat murid-muridnya betah.
Ara menyilangkan kakinya, menikmati udara yang masih sangat sejuk di pagi ini. Ia mengeluarkan ponselnya, dan mengambil earphone di dalam tasnya. Ia memutar musik disana sambil mengikuti irama dan lirik lagu itu.
Ara kalau sudah seperti ini, ia akan membayangkan apapun yang ingin ia bayangkan. Misalnya saja ia bermimpi untuk bertemu idolanya, atau pergi mengelilingi dunia. Menjalankan setiap inci bumi. Ia ingin, dan pastinya bukan hanya ia yang membayangkan hal itu.
Tiba-tiba ia tersentak saat dirasa ada seseorang yang tiba-tiba duduk disebelahnya. Ara menoleh dan mendapati tubuh tinggi tegap milik Satria. Sama, cowok itu memandang kearah depan meski ia yakin Ara tengah menoleh kearahnya.
Ara melepas sebelah earphone nya. "Aku kiraiin tadi siapa, ternyata kamu, Sat!"
Satria menoleh kearah Ara. Ia tersenyum, "Kamu rajin banget ya, Ra. Dateng pagi-pagi terus." ucap Satria berbasa-basi.
Ara menggidikan bahunya, "Biar pas dijalan nggak panas, kamu sendiri kenapa dateng selalu pagi kayak aku?" tanya Ara balik.
"Ya karena aku suka." jawab Satria simpel.
Ara mengangguk saja mengiyakan, ia menyodorkan sebelah earphone nya. Bermaksud mungkin ingin mengajak Satria mendengarkan lagu bersamanya.
Sesaat Satria memandangnya, hingga kemudian menerima sebelah earphone milik Ara. Kemudian ia memasang pada telinganya.
Mereka berdua menikmati alunan lagu yang terputar secara acak di ponsel Ara, hingga sampai pada lagu I'm not broken hearted-girl. Awalnya Satria biasa-biasa saja, namun karena perasaannya terbawa dan lirik lagu yang menusuk hatinya. Ia jadi teringat ibunya.
Meski bukan ibu kandungnya, Satria tetap menyayangi wanita itu, wanita yang setiap hari tetap mendambakan cinta laki-laki brengsek yang ingin Satria musnahkan andaikan bisa. Wanita itu ingin membenci pria yang telah banyak menorehkan luka, namun ia tidak bisa. Karena tanpa si brengsek itu, ibunya tidak bisa.
Dan itu membuat Satria membenci laki-laki itu. Satria akhirnya dengan cepat melepaskan earphone Ara.
Ara menoleh, dan terkejut saat Satria seolah sedang emosi. Dipandanginya wajah Satria yang menegang, dari sana Ara tahu kalau Satria mungkin sedang merasa sedih, namun Ara urung menanyakan kenapa, karena ia tidak ingin terlibat dalam urusan orang lain.
🍁🍁
Gibran berjalan terburu-buru ke kelas nya, setelah melewati hukuman menyapu daun-daun kuning yang rontok, entah kenapa bagi Gibran setiap hari daun itu selalu mengotori pinggir lapangan.
Setelah sampai di depan kelas, ia mengetuk pintu pelan. "Assalamualaikum," sapa Gibran sopan.
Namun meski sopan, guru ekonomi yang sedang mengajar itu seolah tetap tidak toleransi pada murid yang telat masuk. Seluruh pandangan murid dikelasnya langsung beralih menatapnya, membuat Gibran gugup namun detik berikutnya. Ia memberikan senyum pada Bu Lilik. Mencoba meleburkan tatapan tajam dari wanita itu.
"Kenapa harus telat, Gibran?" tanya Bu Lilik dengan suara sinis.
"Maaf bu!" sahut Gibran. Ia tidak bisa jujur menyebutkan alasan kenapa ia terlambat.
"Padahal saya liat tadi pagi, dia samaan berangkatnya sama saya bu. Mungkin dia telat gara-gara nongkrong." sahut salah seorang murid yang duduk di baris kedua di depan papan tulis.
Satria baja hitam-- gumam Gibran merasa sedikit emosi. Baginya Satria adalah seseorang yang cari perhatian dan sok teladan.
Bu Lilik menoleh lagi pada Gibran. "Benar, Gibran?" tanya wanita itu lagi, nada suaranya terdengar sengaja mengejeknya.
Tidak ada alasan lain, Gibran mengangguk pelan. Hingga satu sentakan penggaris kayu dihentakkan wanita itu pada papan tulis membuat jantungnya serasa ingin lepas. Bahkan murid satu kelasnya pun ada yang terkejut mendengarnya.
"Kamu niat sekolah nggak?" tanya Bu Lilik.
Gibran tidak menjawab, ia bisa melihat tatapan datar dari kawan-kawannya, meski Gibran yakin murid dikelas ini sebagian bahagia dengan insiden terlambatnya karena berhasil mengalihkan perhatian Bu Lilik. Jadinya mereka tidak perlu berkutat dengan penjelasan dan pelajaran Bu Lilik.
"Maaf Bu!" tidak ada kata apapun lagi selain maaf, Gibran tidak bisa berfikir.
Karena ia bukan murid badboy yang akan melawan gurunya sendiri seperti novel-novel, karena Gibran bukan anak bandel yang suka merusuh, ia punya rasa takut pada guru-guru.
"Kamu berdiri aja sampai pelajaran saya selesai." ucap Bu Lilik, "Dan nggak boleh nyander ya."
---
Lelah Gibran terbayar sudah saat belum istirahat yang artinya habis sudah pelajaran Bu Lilik. Sebelum guru itu meninggalkan kelasnya, Gibran mencium punggung tangannya, sembari berucap maaf pada Bu Lilik.
Sementara Bu Lilik akhirnya luluh juga, ia mengusap rambut Gibran, "Jangan ulangi lagi ya, maaf kalau ibu marah-marah tadi."
Setelah ada sebagian murid keluar, Gibran mendatangi Satria yang sudah bersiap untuk pergi ke kantin.
"Hebat kamu, Sat!" gumam Gibran membuat Satria menoleh padanya dan memandangnnya dengan sinis.
"Jujur itu baik." sahut Satria santai.
"Tapi nggak seharusnya kamu ngaduin--"
Satria menganggap jari telunjuknya menghentikan ucapan Gibran, "Ada perbuatan ada resiko, kalau nggak mau dengan semua resiko ya nggak usah berbuat. Bodoh!"
Gibran menerjang Satria dan menarik kerah baju cowok itu, tangannya terkepal namun seseorang menghentikannya.
Tiara. Atau Ara.
"Gibran nggak boleh pukul Satria, nanti bisa tambah panjang masalahnya." cegah Ara menarik Gibran dari Satria.
Ara mengambil sebuah botol berisi air putih dari tasnya, "Ini. Gibran pasti capek kan? Minum ya." sodor Ara.
Sementara Satria memandang tajam kearahnya, "Coba aja pukul aku nanti kalau kamu bisa, dan ingat resikonya." ancam Satria.
Gibran menahan emosinya yang meluap, ia akhirnya mengambil botol yang disodorkan Ara padanya. Dan menegak habis isinya. Lalu tersenyum, "Makasih Ara."
[]
maafkan segala typo. Kalau suka jangan lupa komen yups.
YOU ARE READING
Hope!
Short StoryTemui Satria. Namanya memang memiliki arti sesungguhnya seperti lelaki sejati. Benar, Satria begitu mencintai wanita ... yang selalu ia panggil Bunda. Meskipun wanita itu bukan Ibu kandungnya sendiri. Dan Temui Tiara Arsjad, atau yang sering dipangg...
