Botol air mineral

1.3K 18 2
                                        


Pada suatu sore yang cerah, aku mengisi waktu 'senggangku' dengan menatap malas proyeksi layar yang daritadi dibiarkan memancar diam. Di sebelahku, duduk tegak dengan wajah sumringah, temanku tak henti mengoceh tentang penyuluhan kali ini.

"Rame banget ya."

Dia menyenggol lenganku pelan, memastikan bahwa aku mendengar bisikannya kali ini. Aku menanggapinya dengan anggukan pelan malas.

Sebenarnya, kalau memang tak terpaksa, sore ini aku masih asik menonton drama yang tadi baru terputar separuh bagian. Tapi karena teriakan emakku yang terlalu mengganjal jika aku abaikan, akhirnya aku terpaksa menyanggupi permintaan emakku untuk pergi ke balai desa, mengikuti sebuah acara penyuluhan lingkungan yang diadakan oleh suatu instansi.

"Udah sana gih berangkat sama si Siti, tadi emak udah bilang sanggup loh sama pak kadus kalau kalian berdua yang berangkat."

"Beneran nih mak?"

"Iyalah, tadi pak kadusnya sendiri yang bilang."

"Lah kok harus aku?"

"Udah tinggal berangkat aja kok repot."

Akhirnya terdamparlah aku di sini, di antara lautan manusia yang tumpah ruah di kursi-kursi yang kian menyesak. Siti masih asik menatapi lalu lalang orang yang lewat di sampingnya, mengedarkan pandangannya riang sambil kadang berbisik padaku. Lima menit kemudian, proyeksi layar di depan sudah berganti memutar sebuah video pengantar.

"Selamat sore, hadirin sekalian."

Acara pun segera berlangsung lancar dan semarak. Aku yang memang tidak benar-benar berminat, menguap satu-dua kali sambil sesekali mengucek mata yang berair. Siti yang tadi duduk diam disebelahku sudah ribut sambil rusuh tanya ini-itu dengan salah satu pengisi acara yang mengenakan setelan warna coklat dengan kacamata bundar yang mengisi wajahnya yang tirus.

Dua jam berlalu dan acara pun ditutup. Aku dan Siti segera keluar dari sela kursi bersama peserta lainnya yang ikut penyuluhan.

"Tadi mbahas apa Ti?"

"Memangnya nggak dengerin?"

"Dikit. Ngantuk. Tentang pemanasan global?"

"Dasar. Iya tentang pemanasan global sama bencana. Tapi lebih ke topik air sih, yuk kapan-kapan kita buat program hemat air buat desa gimana?"

Aku menatapnya lalu mengangguk pelan, "yah terserahlah."

"Kamu ih nggak asik."

Aku hanya membalasnya dengan gumaman samar, "palingan juga percuma."

Namun sebelum aku sampai di tempat parkir untuk mengambil sepedaku. Aku tak sengaja menangkap momen yang seketika membuatku tercengang. Aku memastikan pandanganku dengan memasang kacamataku lekat. Di jalan setapak samping balai desa, pengisi acara bersetelan coklat tadi, tampak berjalan santai sambil melempar botol air mineral yang masih terisi setengah air ke selokan di dekatnya. Kemudian kembali berjalan santai sambil menyapa teman-temannya yang bergerombol di teras balai desa.

Aku menganga. Mengucek mataku untuk memastikan. Botol plastik itu nyata jatuh menyaru bersama sampah yang berserakan di selokan.

Jadi dua jam tadi aku ngapain?

"Jangan bengong. Udah sore pulang yuk!"

📌Kadang, apa yang kita ucapkan sering tidak sinkron dengan apa yang kita kerjakan.📌

Jangan lupa kritik sarannya🙏🙏

Terimakasih~~💕💕💕

Tentang Realita? HUH!?Où les histoires vivent. Découvrez maintenant