*****
Seorang cowok ber-hoddie tengah bersandar di tembok pembatas jalan yang menjulang, seolah meraih langit. Nafasnya gusar tak beraturan, pikirannya kacau tak menentu. Para preman pasar yang memalak ibu-ibu telah menjadi sasaran pukulannya. Tetapi, rasa sesak masih tetap menyelimuti hati Riko. Pernyataan yang keluar dari gadis yang kini menetap di hatinya membuat Riko merasa kacau. Ia hancur sehancur-hancurnya. "Apakah setiap pertemuan harus berakhir seperti ini?"
"Maafkan, A. Aku tidak bisa menerima kamu, karena sekat kita tak bisa ditembus oleh apa pun." Perkataan yang lembut keluar dari mulut Zachra masih menari di memori otaknya. Bak benalu yang hinggap di tumbuhan utama perkataan selanjutnya membuat Riko ingin bunuh diri saat itu juga. Ah pikiran konyol darimana itu.
"A ... A, aku sudah dilamar oleh Fachri, salah satu santri di sini. Dia menungguku," ucapan gadis itu terus terngiang dalam benaknya.
Masih terlihat jelas kilasan-kilasan menyakitkan yang terjadi beberapa jam yang lalu. Gadisnya terisak, tapi untuk menyentuhnya saja dia tak bisa. Riko tahu, gadis yang ia cintai itu sangat memegang teguh pendiriannya, sedikit keras kepala tetapi lemah lembut, sehingga mampu membuat semua orang terpesona. Tidak cantik, tapi menarik. Itulah Zachra. Tapi sangat sayang, gadis ini memilih orang lain. Pertemuan mereka terjadi setahun lalu, saat Zachra menemukan mobil Riko yang sudah terbalik karena kecelakaan.
*
"Tolong... tolong... tolong..."
Saat dalam perjalanan pulang menuju pesantren, Zachra mendengar ada suara meminta tolong dari arah mobil yang terbalik dan benar saja. Seorang pria dengan kondisi yang sangat memprihatinkan, tergeletak tak jauh dari mobil yang terbalik. Kepala dan tangan kanannya dipenuhi darah. Dengan susah payah, Zachra membawa korban kecelakaan itu ke pesantren kemudian merawatnya. Selama satu minggu, laki-laki itu tak sadarkan diri, tapi Tuhan masih berkenan memberinya kehidupan. Mungkin juga berkat doa semua orang akhirnya dia kembali sadar.
"Terima kasih karena sudah merawat saya," ucap Riko dengan terbata
"Sesama manusia harus saling membantu, meski pun kita beda agama." ujar Zachra dengan menyunggingkan senyumnya
"Kamu tau dari mana aku bukan muslim" tanya Riko
"Kalung di lehermu, itu sudah membuktikan."
"Ya... Meski pun beda agama, kita bolehkan berteman?"
"Dengan senang hati," jawab Zachra.
Lalu mereka pun berkenalan. Sejak hari itu mereka mulai akrab. Riko juga belum bisa pulang karena masih banyak pemulihan yang harus dijalaninya. Riko merasa ada desiran yang membuatnya tertarik dengan kepribadian Zachra. Dia merasa jatuh cinta pada gadis muslim yang sudah menolongnya.
*
Riko tengah berpikir. Haruskah ia memilih cinta dan mengorbankan Tuhannya? Tampak dari raut wajahnya, ia sedang dilanda kebingungan yang sangat menyiksa. Riko tahu, meski pun dia membuat Zachra jatuh cinta, itu tak kan mampu membuat gadis itu bersanding dengannya.
Riko meraba kalung yang tergantung di lehernya sejak kecil. Menggenggamnya sangat erat. Hingga tangan kirinya terluka, tergores sudut kalung berbentuk lancip tersebut. Riko merasakan perih. Namun, bukan pada luka di tangannya itu. Perih yang ia rasakan datang jauh dari dalam hati yang bimbang. Riko berlari dengan sempoyongan bersama air mata yang tanpa izinnya mengalir membasahi pipi.
"AAAHH!" teriak Riko, menumpahkan semua rasa yang tengah hinggap. Isak tangis kian terdengar miris. Pikirannya kacau, amarahnya memuncak. Namun, kepada siapa amarahnya ditujukan? Dia tak menyangka Tuhannya hanya diam melihat ini semua terjadi padanya.
YOU ARE READING
Zachra
Short StoryKisah dua laki-laki yang telah jatuh hati kepada seorang gadis yang tidak cantik namun menarik, yang bisa disapa dengan sebutan "Zachra". Kisah cinta perbedaan agama membuat salah satu dari kedua pemuda tampan itu harus mengalah. "Semua orang berha...
