PROLOGUE - Lunair : The Crimson Oath

3.8K 75 3
                                        


~ The Crimson Oath ~
"Sumpah Merah Darah"

⋆⁺‧₊☽◯☾₊‧⁺⋆

Kematian dan kelahiran, dua kata itu mungkin yang paling tepat menggambarkan keadaan Bumi setelah seribu tahun berjalan menuju tahun 3467.

Bumi yang pernah kita cintai, hijau dan segar, kini telah hancur bahkan sebelum Matahari sempat menelannya. Permata biru itu menjelma menjadi gundukan kumuh, penuh sampah, dengan atmosfer yang tak lagi sanggup melindungi kehidupan.

Manusia perlahan punah. Peradaban runtuh bersama waktu.

Berkali-kali mereka mencoba meninggalkan Bumi, mencari rumah baru di antara bintang. Namun setiap percobaan hanya berujung pada kegagalan. Para ilmuwan memang kerap mendeteksi tanda-tanda kehidupan di kejauhan, tapi jarak adalah pengkhianat abadi. Bahkan cahaya butuh ribuan tahun untuk menempuhnya. Mustahil rasanya memindahkan umat manusia.

Kini, Bumi dan manusia hanya tinggal fana. Bayang-bayang dari peradaban yang pernah berjaya.

Andai saja waktu bisa diputar kembali—seandainya keserakahan dapat ditahan, mungkin Bumi masih bisa menjadi rumah yang layak hingga jauh lebih lama.

Namun semesta tak pernah benar-benar membiarkan kehancuran menjadi akhir. Dari kematian satu dunia, kehidupan lain lahir.

⋆⁺‧₊☽◯☾₊‧⁺⋆

Jauh di antara bintang-bintang, tersembunyi sebuah planet yang tak terjamah manusia: Lunair. Planet itu bagai serpihan mimpi, langitnya selalu berwarna perak lembut, seperti cahaya rembulan yang tak pernah padam dan hutan-hutannya bercahaya seakan dipenuhi kunang-kunang abadi. Di sana, zaman tak berlari menuju mesin, melainkan berputar dalam lingkaran kerajaan, pedang, dan takhta.

Planet itu terlihat indah tak menyilaukan seperti Matahari namun tenang seperti Bulan kedua. Karena itu disebut Lunair.

Dan di planet itulah sebuah Kerjaan lahir, Kerjaan yang menorehkan sejarah di Planet itu.

Seorang putri datang ke dunia dengan tangisan yang membawa duka. Malam kelahirannya diselimuti kabut kelabu, lilin-lilin padam tanpa sebab, dan sang ratu menghembuskan napas terakhirnya begitu bayi itu membuka mata.

Namanya Lyra Seraphim Yvaine.

Seindah bintang, sesuci malaikat, sekaligus mematikan layaknya api abadi. Wajahnya adalah pedang tak kasatmata—terlalu elok untuk ditatap, terlalu berbahaya untuk dicintai. Maka topeng perak menjadi sahabatnya, penjara sekaligus pelindung agar dunia tetap hidup di hadapannya.

Namun Lunair tidak hanya mengenal terang.

Di bawah bayangan yang tak pernah tidur, ada satu nama lain yang dibisikkan dengan ketakutan:

Arron Luxwrath Morrivane.
Sang penguasa kegelapan. Cahaya yang lahir dari murka.

Dan di bawah langit Lunair yang pucat, kisah keduanya mulai bergerak kisah tentang kutukan dan cahaya, tentang murka dan bintang, tentang dua jiwa yang diciptakan semesta untuk saling menghancurkan… atau menyelamatkan.

LUNAIR : The Crimson Oath Stories to obsess over. Discover now