1. Kaluna Cherisse Aglaia (REVISI)

39 5 0
                                        

Matahari sudah kembali ke peraduannya, menandakan manusia kembali memulai aktivitasnya. Namun, tidak dengan seorang gadis yang masih terjebak dalam mimpi. Namanya Kaluna.

Kaluna, atau yang akrab dipanggil Luna, adalah gadis mungil dengan tinggi tak lebih dari 154 cm. Tubuhnya kecil dan ringan, membuatnya terlihat seperti anak kecil dibandingkan teman-teman seusianya. Rambutnya panjang berwarna coklat, sedikit berantakan karena kebiasaannya tidur dengan posisi yang selalu berubah-ubah. Matanya besar, penuh rasa ingin tahu, dan suaranya terdengar lucu saat berbicara. Luna dikenal sebagai anak yang aktif, selalu penasaran akan banyak hal, dan sering kali berpikir di luar logika yang biasa orang bayangkan. Ia polos, terlalu banyak berkhayal, dan sering tidak realistis dalam menghadapi kenyataan. Ditambah dengan sifatnya yang perasa serta sedikit clumsy, kombinasi itu membuatnya terlihat menggemaskan sekaligus merepotkan.

BRAKK!!

Suara pintu kamar terbuka dengan keras, menampilkan sosok ibunya yang berdiri dengan kedua tangan di pinggang. Raut wajahnya penuh dengan kejengkelan bercampur sedikit gemas.

"Luna! Berapa kali mama bilang jangan molor terus?!" suara ibunya, Clara, menggema di kamar.

Luna hanya bergumam tak jelas, masih memeluk gulingnya erat. Ibunya menghela napas panjang, lalu senyum licik terukir di wajahnya. Ide cemerlang terlintas di kepalanya, dan tanpa banyak berpikir, ia beranjak keluar. Beberapa detik kemudian, ia kembali dengan sebuah ember kecil berisi air dingin.

Byurrr!

"AAAH!" Luna terbangun dengan terkejut. Dengan rambut yang kini basah dan wajah yang masih mengantuk, ia menatap ibunya dengan tatapan penuh duka.

"Bunda! Kenapa sih nyiram Luna?! Luna lagi mimpiin cowok ganteng, loh!" protesnya sambil cemberut.

Ibunya hanya menatap Luna dengan ekspresi menahan tawa, lalu menggeleng pelan. Dalam hati, ia ingin sekali mencubit pipi anaknya yang selalu bertingkah lucu. "Anjir, gemes banget anak gue. Tapi harus keliatan marah. Tahan, Clara, tahan."

"Lagian, Luna! Lihat jam!" Ibunya meraih kepala Luna dan mengarahkannya pada jam dinding.

Luna yang awalnya masih setengah sadar, langsung tersentak. Matanya membulat ketika angka di jam menunjukkan pukul tujuh lebih sepuluh menit.

"BUNDAAAA! KENAPA GA BILANG DARI TADI?! LUNA TELAT! HARI PERTAMA DI SEKOLAH BARU LAGI!" Luna langsung meloncat dari tempat tidur, menyibak selimut, dan berlari menuju kamar mandi dengan panik.

Ibunya hanya menggeleng pelan melihat tingkah putrinya. "Gue dulu ngidam apa, ya, sampe anak gue begini?" gumamnya sambil menutup pintu kamar Luna dan beranjak ke dapur untuk menyiapkan sarapan.

Setibanya di sekolah, Luna menghela napas lega. Hampir saja ia terlambat. Dengan semangat yang masih tersisa, ia berjalan menuju ruang kepala sekolah untuk mengambil jadwal dan kelasnya. Ia mendapat kelas XI IPS 1, yang membuatnya cukup senang. Memang, ia tidak terlalu suka pelajaran eksakta dan lebih menikmati mata pelajaran sosial yang lebih banyak bercerita.

Bu Siska, wali kelasnya, datang untuk menjemputnya dan mengantarnya ke kelas. Luna berjalan di belakang gurunya, mulutnya tidak bisa diam.

"Hai, nama aku Kaluna, panggil aja Luna. Aku pindahan dari—"

Bu Siska menoleh dan menatap Luna dengan tatapan bingung. "Kamu ngomong apa?"

Luna cengengesan. "Latihan perkenalan, Bu. Aku deg-degan."

Guru itu hanya terkekeh. "Tenang saja, teman-temanmu baik, kok."

Setibanya di depan kelas, Bu Siska masuk lebih dulu. Kelas yang awalnya berisik langsung hening.

SOSIOPATH (REVISI)Histórias para pegar e não largar. Descubra agora