Prolog

25 7 2
                                        

          XAXER-S.
          Nama sekolah swasta itu ditulis besar-besar di dinding sekolah. Sekolah yang benar-benar seperti bukan sekolah.

          Pos penjaga sekolah ini berada di muka sekolah. Dindingnya penuh dengan coretan tak bermakna dan jelas saja tak berseni. Di dalamnya ada sekitar lima siswa yang sedang merokok. Pakaiannya benar-benar berantakan. Rambut mereka acak-acakan yang menambah kesan seram di wajahnya.

         Salah satu dari mereka menyadari kedatangan kami. Dia berdiri dan mendatangi kami. Cowok di sebelahku ini mulai grasak-grusuk. Tak tahan, akhirnya aku menoleh dan mendapati guratan cemas di wajah tampannya itu.

          Huh! Aku menyesal membawanya kesini. Aku sempat menolak permintaannya. Tapi, dia langsung mengancamku dengan tidak mengakuiku Kakak, jika dia ditinggal lagi. Setan memang ini anak. Aku hampir kehilangannya sekali dan aku tidak mau mencobanya lagi.

          Bukannya aku meragukan kemampuannya. Bukan. Dia sangat hebat. Bahkan dialah yang menyelamatkanku dua tahun yang lalu.Ingatan itu masih sangat jelas. Dua tahun yang lalu, kami mendapat misi yang beranggotakan hanya kami berdua. Kalau saat itu dia tidak datang, aku tidak akan pernah menginjak Xaxe-s ini.

           Garra terkena 2 kali tembakan di bagian tungkai kakinya dan area perut. Aku masih trauma melihat adik kecil kesayanganku  bersimbah darah dan berusaha mati-matian menahan sakit hanya untuk menarikku.

           Kisah heroiknya sangat panjang, menghabiskan waktu jika ku ceritakan disini, sementara anak cowok di depanku ini melihatku seperti ingin menelanku mati-mati.
 
           Semenjak hari itu, katanya hidupnya jadi lebih bersemangat. Iya, aku juga semangat. Semangat jitak kepalanya yang kebanyakan bergaul sama om-om atom -_-

          "Tenang kak. Tarik napas dulu. Satu dua tiga tarik, hembuskan. Ulangi lagi" suara Garra mengembalikan aku pada dunia nyata. Dia sibuk menirukan sesuai dengan perkataannya.

           "Hello please deh. Sekarang siapa yang wajahnya kicep? Aku aja masih sempat flashback tadi" protesku. Wajahnya sudah pucat saat salah satu dari mereka mendekat. Enak saja aku yang diremehin. Yang benar saja!

           "Aku bukannya takut kak. Aku lagi nahan sesak bab atau bahasa halusnya boker nih" dia kembali menarik-hembuskan nafasnya seperti menahan sesak boker.

          "Sialan! Bilangin kek dari tadi. Ini malah diam tatap-tatapan kayak orang jatuh cinta aja"

          "Ya udah nyari toilet aja kak! Aku lebih butuh toilet daripada ceramah sekarang." Dia menarik tanganku melewati mereka yang sudah lengkap semua.

          Aku tidak tahu sejak kapan jumlah mereka jadi banyak gini. Mungkin aku melamunnya lama ya? Ya maklum aja kali. Namanya juga lagi teringat. Untung gak pakai acara tarik-tarik ingus. Hehe

          Aku dan Garra terlalu santai melewati mereka. Terlalu santai. Sampai kami menimbulkan geraman dari salah satu dari mereka.

          Pria berambut merah dengan tindikan di bibirnya menarik tanganku sangat kuat.

          Tanpa persiapan,tangan kananku terlepas begitu saja dari tangan Garra. Alhasil, pantatku mendarat gak cantik di tanah yang gak cantik juga.

          Aku ingin sekali mencabik-cabik rambutnya yang terbakar itu, jika saja saat ini aku tidak sedang dibawah pengaruh misi. Sumpah kesal setan!

          Aku masih meringis kesakitan, Garra menatapku sebentar tanpa ekspresi lalu berpindah ke arah mereka yang sedang tertawa terbahak-bahak. Garra melangkahkan kakinya dengan mantap dan membuat aku tercengang sekaligus shock.

                                ...

VARIOSWhere stories live. Discover now