Guys, jangan lupa vomentnya (vote&coment) sebelum membaca:))
~~
Hari ini, tepatnya berada di perjalanan menuju SMA Tunas Harapan Jakarta, Dante mulai menetralkan hidupnya, dimana dia yang dulu sempat putus sekolah dibangku kelas X selama satu tahun, karena permasalahan dengan kedua orang tuanya itu. Kini ia sangat terinspirasi untuk kembali melanjutkan jenjang SMA nya, mungkin bila ia melanjutkan pendidikan, sedikit demi sedikit dengan beriringnya waktu, ia akan kembali bangkit menjadi Dante yang semestinya.
Dering telpon milik Dante yang tak disilent seketika memecahkan lamunannya, begitu kesal perasaannya jika mengetahui tampilan nama orang tuanya yang menelpon Dante, tak harus banyak berfikir, Dante langsung mereject panggilan dari orang tuanya.
"Huft...ganggu orang terus" Gerutu Dante dengan kesal.
Tak lama setelah itu, lampu merah yang berada di hadapan Dante berubah menjadi hijau, pertanda pengemudi disegerakan untuk kembali melaju, Dante bersama motor CBR keluaran terbarunya langsung melaju dengan kecepatan diatas rata rata, namun seberapapun cepatnya dia berkemudi, mungkin tidak akan keburu untuk sampai di sekolah tepat waktu, dikarenakan macetnya ibu kota yang semakin memadat.
Sesampainya di sekolah, ternyata benar apa yang ia perkirakan sebelumnya, Dante terlambat 10 menit setelah bel sekolah berbunyi, saat upacara bendera, ia langsung dibariskan menuju deretan siswa yang bermasalah hari Senin ini, dengan kawalan guru BK dibelakang barisan, sudah bisa terbaca guru itu pasti kilernya seantero bumi, namun ini bukan suatu masalah yang besar baginya, toh apapun hukumannya ia fikir tak akan sekejam orang tuanya bersikap pada Dante. Setelah upacara bendera berlangsung, Dante bersama siswa bermasalah lainnya langsung dibawa menuju ruang BK.
"Silahkan duduk" Ucap guru BK lebih tepatnya Bu Rianti, sembari mempersilahkan.
"Tanpa dipersilahkan, saya bisa duduk sendiri" Balas Dante dengan ekspresi watados khasnya.
"Kamu murid baru di sekolah ini kan? Sudah berani sekali kamu!" Ujarnya dengan nada bicara sedikit meninggi.
"Maaf bu, Ibu seharusnya ngerti gimana situasi jalanan Ibu Kota" Ucap Dante.
"Saya tahu itu, tapi biar bagaimanapun kamu tetap salah, karena kamu telah melanggar peraturan sekolah" Jawab guru BK itu sembari menekankan perkataannya
"Terserah deh" Tegas Dante agar semua urusan cepat beres.
"Oke kalau begitu, saya mau mulai besok, kamu selama 3 hari berturut turut membersihkan ruangan saya" Ujar Bu Rianti dengan mempertegas ucapannya.
"Oke saya jalanin, tapi kalau saya nggak lupa" Ujar Dante sembari memberikan cengiran khas wajahnya
"Silahkan kamu masuk kelas" Perintah guru BK itu dengan wajahnya yang penuh ketegasan
"Saya pergi, jangan kangen sama muka ganteng saya yang sebelas duabelas sama manurios" Jawab Dante sembari berjalan meninggalkan ruangan BK.
Dante menelusuri koridor dilantai dua sekolahnya sembari mencari ruangan kelasnya, namun sedari tadi ia berjalan tidak sama sekali menemukan ruang kelasnya, hingga seorang wanita seusia Dante berpapasan dengan dirinya, tak memerlukan waktu panjang, Dante segera menanyakan keberadaan ruang kelas yang ia cari.
"Eh Maemunah kan nama lo? Ruang kelas XI IPA II dimana ya?" Tanya Dante dengan asal.
Tak ada respon dari wanita tersebut yang baru Dante ketahui namanya, Gladya Rista, sederet nama itu yang Dante baca dari name tag di bajunya.
YOU ARE READING
ADANTE
Teen Fiction"maaf dulu kita hanyalah saya dan kamu yang kebetulan" -Adante- "Kan sudah kubilang mustahil untuk saya kamu, ingat tidak?" -Gladya- Adante Nikolas, pria pecandu cinta asal Jerman. Buih cinta yang ia miliki berbanding terbalik dengan segala tingkahn...
