Antara Aku Malam dan Bintang Permohonan

49 9 0
                                        

Ribuan bintang bertaburan di angkasa, Menyinari tanpa hadirnya rembulan, Ku tatap satu persatu sambil ku hitung, Namun lelah tetap ada dalam setiap lirikan. Aku Miruka, Miruka shitagami. Ku tunggu malam ini. Menunggu di kekelaman malam. berharap bahwa bintang yang selama ini ku nantikan akan jatuh di angkasa. Saatku membuat suatu permohonan. Dan mimpiku menjadi nyata.

"Hah bintang jatuh ? Masih percaya sama legenda semacam itu ? Haduh kamu tuh miruka. Baru saja naik kelas 9 tapi masih saja seperti anak kelas 4 SD. Sudahlah tidur sudah malam. Lagian bintang jatuh itu tak akan pernah turun ke bumi. Selagi kakak berharap bahwa bintang itu tak kan turun lagi." Ucap mitsuka kakak dari miruka

"Maksudnya ??"

"Gini dulu saat kakak seusiamu kakak kecewa dengan harapan kakak sendiri karna bermohon pada bintang jatuh dan tidak pernah terkabul. Setiap bulan. Tahun. Bahkan setiap malam kakak selalu menunggu dan mengharapkan bintang jatuh itu. Namun tidak pernah satu pun keinginan kakak yang menjadi kenyataan. Kakak mulai kecewa dan membalikan cerita. bermohon agar bintang jatuh itu tak akan pernah terlihat lagi selamanya."

"Hah gimana kak Aku masih tidak mengerti."

"Hm..Jadi gini."

6 tahun yang lalu

"Cantik sekali adik mu ini mitsuka" ucap mamah.
" iya sangat lucu. Akan papah berikan nama apa ya ??"
"Bagaimana kalau miruka. Kedengarannya cukup sama dengan nama anak kita yang pertama yaitu mitsuka. Jadi Mitsuka dan Miruka ? Bagaimana ?

Hari itu kami bertiga mencarikan nama yang sesuai untuk anggota keluarga baru kami. Yaitu adikku Miruka. Hari kelaharinnya adalah hari yang sangat berbahagia. senyuman. Tawa. Tangis haru. Bersatu membuat sebuah peristiwa yang takan pernah terlupakan. Miruka sangat di sayang. Miruka yang paling di cinta. Dia segalanya. Sebenarnya aku iri dengan hal ini. Entah mengapa begitu. Namun rasanya ingin menyingkirkannya dari dunia ini

Beberapa tahun kemudian,
Semua terasa berbeda, bukan hal yang cukup indah melainkan aku yang t'lah dilupakan. Kamar tidurku sekarang di pakai menjadi kamar tidur miruka, semua foto ku yang di pajang di hampir setiap sudut rumah pun di ganti dengan foto miruka. Seakan semua yang kumiliki direbut olehnya. Dia mengambil semua kebahagian ini aku sudah tak tahan lagi.

Esok hari adalah hari bersinar benderang di desaku yang artinya semua warga desa mengikuti adat tradisi dan melihat bintang jatuh di angkasa semacam perayaan tahunan yang jarang diketahui banyak orang. Semua keluarga turun kejalanan untuk melihat perayaan ini tak terkecuali adikku miruka serta orang tua ku. Aku lebih memilih untuk tidak ikut, karna sudah tau pasti akan di abaikan jika aku berada disana,

"Mitsuka." Terdengar suara seseorang memanggilnya dari kejauhan
"Hah taki ?."
Taki tersenyum tipis menatap mitsuka.
"sedang apa kamu di depan pagar rumahku." Mitsuka menyambung pertakataannya
"Menunggu mu. Kamu tidak ikut perayaan cahaya benderang ?."
"Tidak malas miruka lebih diprioritaskan dari padaku.... Sebelumnya tidak ada yang mengajakku untuk pergi keluar rumah selain kamu taki trimakasih."
"Ayo turun kebawah mitsuka ikut bersamaku."
"Lain kali saja aku sedang sibuk maaf taki."
Lalu mitsuka menutup tirai jendela kayunya.

Ribuan bintang di angkasa menghiasi malam ini . Sejuk. Terbawa suasana dingin dikekelaman malam. Aku lari ke atap rumahku dan menanti berharap bintang permohonan itu akan jatuh tepat dihadapanku.
" itu bintang jatuh." Seru ku mitsuka
Terlintas suatu hal besar di benakku entah ini jahat atau tidak namun maaf ini yang harus kulakukan untuk merebut semua hak milikku yang t'lah direbutnya karna Aku akan menghilangkan miruka dari keluarga ini.

____________BUUUSHHH______________
"Miruka. Miruka." Terdengar beberapa kali mamah memanggil adikku miruka sambil sesekali melihat seisi rumah untuk mencarinya." Mirukaa mirukaa kamu dimana." Silang beberapa menit setelah peristiwa itu. Mamahku menangis di hadapan papah. " Mas miruka hilang emh..emh..emh.." ucap mamah seraya bersedih

Ternyata permohonan pertamaku terkabul. Adikku Miruka menghilang. Namun Ternyata aku salah Bukan berarti setelah peristiwa itu. Aku yang akan di sayang oleh Mamah dan papah . Namun justru tak ada lagi rasa belai kasih dari kedua orang tuaku.

Mamah selalu bersedih memikirkan kehilangan miruka. Ia tak henti hentinya menangis sambil memegang bingkai foto adikku itu.
Papah pun sama ia melaporkan kejadian ini kepada pihak yang bersangkutan untuk menelusuri kehilangan adikku miruka, Semua brosur dan beberapa gambar di sebar di seluruh Desa, namun hasilnya nihil tidak ada tanda tanda keberadaan miruka

Aku sangat kecewa campur sedih. rasanya ingin memutar waktu dan mengembalikan kembali cerita ini. "Mitsuka jahat. Jahat. Jahat. Sangat jahat. Membiarkan air mata mamah dan papah berjatuhan. Akibat menghilangkan adikmu sendiri. Mitsuka aku membenci dirimu."
Itulah ungkapan rasa yang selalu hadir di dalam benak dan hatiku. Menyesal Sudah tak tertahankan.
"Apakah aku harus mengatakan pada mereka bahwa aku yang telah menghilangkan miruka. bagaimana kalau mereka mengusirku dari rumah setelah aku mengatakan hal itu. Mereka akan marah dan membenciku aahh bingung."

Mamah pingsan tak sadarkan diri dan terjatuh sakit akibat depresi berat kehilangan anaknya. Papah pun sama ia syok berat. Seiring berjalannya waktu papah menjadi pribadi yang pelupa. Sampai akhirnya papah meninggal dunia.

Mamah dan aku sangat sedih benar benar menjadi saat itu. Tak kuasa menahan asa yang kadang tersesali. Benar benar menyesal. Hari itu aku duduk menatap langit di atap rumah tak ada satupun kilauan bintang menyinari.
"Aku sendiri ... lagi." Ucapku
"Tidak kamu bersamaku mitsuka." Jawab taki merangkul mitsuka sambil duduk di sebelahnya
"Hah taki ,sedang apa kamu di atap rumahku bagaimana kamu bisa."
"SSHTT.. mitsuka. Aku tahu kamu sedang membutuhkanku kan." Ujar taki sambil tertawa kecil.
"Tidak siapa yang membutuhkan mu." Sumpah aku malu mengatakan hal ini sial dia menggodaku.
"Masaa?" Taki menekan
"Iyaaa." Jawabku bentak
"Iya apaa ? Hha."
"Iya aku sedang membutuhkan mu aku sengat frustasi."
Air mataku liur dihadapan pemuda ini lalu aku pun bercerita semua hal yang ku alami.

Antara Aku Malam dan Bintang PermohonanStories to obsess over. Discover now