Ari menarik nafas lalu membuangnya secara perlahan tatapannya menengadah keatas dimana langit yang tadinya cerah kini berganti oleh awan hitam yang menggulung diatas sana.
"Kayaknya mau hujan." Ujarnya, ia merunduk dan mengusap wajahnya dengan telapak tangan yang mulai mendingin karena angin yang bertiup semakin mengencang .
Ari berdiri dari kursi didekat taman. Langkahnya gontai menuju mobil yang berada diujung jalan sanah. Benar dugaannya. Kini rintik-rintik air yang berada diatas sana mulai menetes kepermukaan tanah yang berada disekitarnya.
Ia sedikit berlari menuju mobil yang berada didepannya.
"Alhamdulillah, Allahumma shayyiban naafi'an." Ucap ari setelah ia masuk kedalam mobil. Setelah berdo'a turun hujan iapun mengamini do'a tersebut. Kini ari berada dikeheningan dalam mobil. Hanya suara air hujan yang semakin deras.
Ari menoleh dan menengadah keatas langit, tatapannya mulai sendu, Ia teringat pada seseorang yang pernah mengatakan sesuatu padanya perihal hujan. "Belajar dari sang hujan. Ia selalu punya cara kembali meski jatuh berkali-kali."
Deringan ponsel ari berbunyi memberhentikan lamunannya, ia mengambilnya yang berada disaku Almetnya.
"Iya, nina. Ada apa?"
"Maaf mengganggu, pak. Anda sudah ditunggu oleh Tuan Herlan yang sedari tadi berada diruangan bapak."
"Sejak kapan Ayah saya datang?"
"Satu jam yang lalu."
Ari menarik nafasnya pelan, melihat kearah kaca mobil dimana hujan semakin deras mengguyur "Baik saya akan segera kesana," Ujar ari sebelum ia menutup panggilan telepon dari seketarisnya itu.
Ia menyalahkan mesinnya lalu melaju menerobos hujan. Sambil menyetir, ari sesekali bersenandung ria. Hingga mobilnya terparkir rapih dikantor yang selama 2 tahun ini ia kembangkan.
Satpam yang sedari tadi berada diambang pintu kantor, mengahmpiri ari dengan membawa payung. Ari keluar dan disambut oleh hangatan senyuman Pak Idan selaku satpam terdekatnya.
"Terima kasih,"
"Sama-sama, pak. Mari." Ari mengangguk dan berjalan menuju kantor yang dipayungi oleh pak idan.
Semua yang berada disana menyambut ari dengan senyuman dan sedikit tertunduk. Ari membalas dengan senyuman tipis dan berjalan mendekat kearah Lift pribadinya yang langsung sampai keruangan pribadinya.
Mata ari mengamati seluruh ruangannya. Tempat kerja. Bahkan diruangannya terdapat berbagai fasilitas pribadinya.
Disisi sana ada Ayahnya yang tengah berdiri tegak dengan kedua tangan yang dimasukan kedalam saku celananya. Pakaiannya tak jauh dari sebelum yang ari liat. Jubah putih. Dengan tambahan kemeja yang melingkar dilengan panjangnya. Tak lupa kopea yang selalu melekat dikepalanya ditambahi dengan sorban yang bertengger diatas bahu hingga menutupi dada bidangnya.
"Assallammualaikum, Ayah?"
"Waallaikumusallam Warhamtullah..." ayah herlan berbalik yang mendapati ari tengah menundukan kepalanya.
Ayah herlan berjalan kearah sofa yang berwarna silver dan duduk diatasnya. Ari masih berdiri dengan tatapan yang merunduk kebawah.
"Sini, nak." ari mendekat dan duduk disamping ayahnya yang mulai mengamatinya.
"Berapa umurmu?" ari mendongak.
"Lebih dari 20 tahun?" Ayah herlan terkekeh sedangkan ari hanya diam saja tanpa mengatakan apapun "Sudah sangat dewasa. Bahkan kalo Ayah ingatkan diumur yang lebih dari segitu, kamu seharusnya sudah memiliki keluarga."
Ada hembusan nafas lelah yang terdengar dari ari. Ayah herlan menepuk pundak anaknya itu.
"Tidak baik, terus bergelut dengan karir ataupun pekerjaan dunia. " ayah herlan menggantungkan ucapannya, menatap lekat-lekat pada ari "Ini sudah waktunya, kamu berkeluarga. Menyempurnakan Agama yang kamu miliki. Apa kamu tidak berniat untuk menikah, nak?"
Ada nada yang berhasil memohok pada bagian dada ari. Ari tau maksud Ayahnya, ia menyuruh ari agar cepat menikah. Sudah lebih dari sepuluh atau lima belas kali ayahnya memintanya.
"Tapi, yah—"
"—Kamu masih mau nunggu gadis yang jelas sudah berkeluarga?" Rasanya sakit diingatkan seperti itu. Rahang ari mengeras, namun jelas ia tidak akan memukul ayahnya sendiri bukan?
Bukan salah ari, jika perasannya belum menghilang untuk Aisyah. Selama ini, ia telah berjuang penuh untuk melupakan gadis itu namun bukannya berhasil, perasaannya semakin menggelayutinya. Ari tau ia salah, namun ia tidak bisa apa-apa selain menyibukan diri dengan karir dan pekerjaannya sebagai Direktur dikantornya.
Untuk meminang gadis lain? Itu sama saja menyakiti perasannya. Bagaimana bisa ia menikah dengan seorang gadis, namun hatinya masih memilih orang lain? Orang yang jelas sudah berkeluarga.
Mungkin saja selama itu Aisyah sudah memiliki anak, atau bahkan perasaan yang dulu Aisyah punya telah memudar pada ari. Dan berganti dengan suaminya, Jidan?.
"Ayah—"
"Ayah tau maksud kamu. Kamu masih belom moveon, kan? Sampai kapan, nak? Sampai kapan kamu terus begini." Ayah herlan berdiri menatap pada luar kaca jendela yang sudah berembun, hujan sudah mereda. "Astaghfirullah. Maaf, Ayah akan menjodohkan kamu dengan gadis pilihan Ayah dan Bunda. "
Ari mendongak dan berdiri menatap punggung Ayah herlan.
"Bagaimana pun juga kamu harus melupakan dia. Dan dengan adanya Istri kamu akan lebih mudah melupakan-nya." Ayah herlan berbalik "Ini semua Ayah lakuin untuk kebaikan kamu juga." lantas tanpa menunggu persetujuan ari Ayah herlan pergi begitu saja setelah mengucap salam.
Mata ari terus mengikuti langkah Ayahnya sebelum ia benar-benar turun menaiki Lift yang berada diujung sana. Ari menjambak rambutnya Frustasi.
"Astaghfirullah, Lahaulla walla kuwwataa illabillahi." Ia mengusap wajahnya sesekali mengucapkan kalimat yang membuatnya sedikit tenang.
Ia mendongak menatap pada langit ruangannya yang berwarna cat biru dongker "Allah. Jika memang ini takdir-Mu, hamba terima. Bantulah hamba, untuk melupakannya. Bimbinglah hati hamba agar mudah melupakan dan mengikhlaskan aisyah. " gumam ari sebelum dirinya benar-benar jatuh dihamparan permadani dengan tangis yang sulit ia tahan.
"Aisyah, maaf . Maaf, karena ari belum bisa menghapus rasa ini untukmu. Maaf, aisyah. Maaf untuk semua cinta yang tak seharusnya ada saat ini untukmu," Gumam hati ari yang sedikit merasakan perih.
To be continued
Akhirnya, jeng-jeng-jeng. Ini dia lanjutan Aisyah ari dari work pertama.
Gua ambil ari versi Sholeh. Wkwk
Bayangin aja sendiri. Wkwk
Jangan tanya kelajutannya gimana, ikutin aja udah.
Jalani aja udah, layaknya angin yang terus bertiup kesana kemari. Hasek.
Jadi, maaf maaf kata nih kalo yang ini kurang muasin kalian-kalian pada.
Maaf juga kalo ada kesalahan ngetik, ataupun apapun itu. Terutama tentang agamanya. Karena ya masih cuit.
Cuman sekedar Imajinasi penulis, jangan diambil hati.
Untuk cerita ini, gua posting ga nentu ya. Kadang seminggu sekali. Kadang ya sesuai mood.
Hehe.
Sekian. Makasih.
Dadah.
YOU ARE READING
Rahasia Takdir
SpiritualLanjutan dari work pertama. Jika memang ditakdirkan untuk bersama, maka akan tetap bersama meski jarak dan waktu memisahkan. Ini adalah bentuk dari Rahasia Takdir yang tidak bisa kita duga ataupun tebak. Apapun yang terjadi, semuanya adalah kehen...
