Prolog

14 2 8
                                        

Menjadi seorang anak yatim piatu bukan sebuah pilihan. Siapapun tidak ingin memilihnya. Namun yang bisa dilakukan manusia adalah menerima jika itu terjadi padanya.

Aku adalah seorang anak yatim piatu sejak 9 tahun yang lalu, ketika itu umurku baru 8 tahun. Orangtuaku meninggal karena kecelakaan lalu lintas, padahal setelah itu kami berencana pergi berpiknik di bukit yang ada di belakang rumah.

Setelah itu orang-orang dewasa dari keluarga ayahku mulai meributkan siapa yang akan mengurusku.

Akhirnya salah satu keluarga dekat ayah ingin mengurusku. Mereka memberi ku makan dengan baik dan perhatian yang penuh. Hanya dalam beberapa hari sebelum anaknya marah padaku karena aku menjadi bahan ejekkan di sekolah, karena tidak punya teman dan keluarga.

Dia bilang dia tidak ingin aku berada di rumahnya seraya membanting makanannya. Itu adalah kejadian pertama yang berhasil mengguncangku selama menjadi seorang anak yatim piatu.

Beberapa hari kemudian, aku dipindahkan di keluarga lain. Sama seperti sebelumnya, salah satu dari mereka juga tidak menyukai kehadiranku dan menganggap aku adalah sebuah beban yang ditinggalkan kedua orang tuaku.

Aku takut, sering dipindah-pindahkan, dan akhirnya tidak ingin menuntut banyak dari mereka. Jika aku bisa melakukan sesuatu, aku akan melakukannya sendiri. Aku tidak akan meminta bantuan.

Seberapa keras aku berusaha, aku terus di pindah-pindahkan dari satu keluarga ke keluarga yang lain.

Di umurku yang ke tujuh belas--saat ini--keluargaku yang ketujuh, berencana memindahkanku di sebuah keluarga sederhana dari kota kecil yang tidak pernah kuketahui. Seperti biasa yang aku lakukan, aku mengangguk tanpa bisa berkata; tolong jangan membuangku.

Mereka adalah keluarga Ihara yang hidup sederhana di rumah kecil dengan halaman yang luas. Hampir seluruh tanaman bunga memenuhi setiap sisi pagarnya. Ada pohon mangga yang besar. Mereka menyambutku dengan hangat, diluar perkiraan ku.

"Ah, astaga.. aku khawatir kau akan tersesat. Karena kota ini terlalu banyak jalan. Sudah kubilang bukankah kita harus membangun rumah yang dekat saja dari jalan utama?" Wanita paruh baya itu mengomel pada suaminya. (Bibi Narumi Ihara. Umurnya 40 tahun dan seorang ibu rumah tangga.)

"Oh, Ye Won, kau bisa memakai kamar di atas. Kami sudah membersihkannya untukmu. Jika kau butuh sesuatu katakan pada kami" pria paruh baya itu menunjukkan jalan ke arah tangga. (Paman Kou Ihara, seorang pekerja kantoran. Karena jarak yang jauh dia jarang kembali ke rumah)

Setelah meletakkan pakaian di lemariku yang sangat jauh dari kata tidak layak, aku berjalan ke depan jendela, sebelumnya aku tidak pernah punya lemari. Kamarku juga tidak sebesar ini dan aku tidak memiliki meja belajar sendiri. Aku tidak bisa menahan senyumku.

Mengingat mereka menyambutku seolah menginginkan ku menjadi bagian dari keluarga mereka, aku merasa sedih di waktu yang sama.

Aku takut jika yang sering aku harapkan ketika pindah di rumah sebuah keluarga orang lain dan mereka menerimaku, hanya sebuah ilusi.

Something FoundWhere stories live. Discover now