Indira Himawari Hirrahman

7 2 6
                                        

Namaku Indira, aku lahir di keluarga biasa. Benar-benar biasa. Keluargaku tidak masuk kategori orang berduit, tidak juga pas-pasan.

Aku mempunyai seorang kakak laki-laki bernama Indra Hasirama Hirrahman. Musuh sekaligus sahabat buatku. Tidak ada waktu tanpa berdebat dan bertengkar.

Keluarga kami layaknya bunglon. Selalu bisa berkamuflase. Apapun masalah di dalamnya, sejauh apapun rasa sakit yang kami tanamkan. Tetap saja kami menunjukkan senyum seakan kami keluarga yang paling bahagia. Karena kami adalah keluarga Hirrahman.

Bukan berarti keluarga kami keluarga yang tidak bahagia. Ah, sudahlah.

"Indira!! Buruan oi! Mas mau ke kuliahan, ck!" telingaku panas. Aku memperbaiki ikat rambutku.

"Apa, sih? Biasanya juga Indi berangkat sendiri." Muka Mas Indra tuh bikin aku mual pagi-pagi.

"Hehe, Mas Indra,'kan emang baik." Alis tebal yang menyerupai ulat bulu itu dia naik-naikkan. Cih, palingan ada maunya, nih.

"Mas I'in mau apa?" senyum tengil yang sangat membosankan.

"Kan gini, dedek ku yang cantik, ja-"

"Bisa gak, sih gak usah menjijikkan gitu, Mas?" dia memonyongkan bibirnya.

"Iya, iya. Mas cuma mau kamu ngenalin mas ke teman kamu itu loh, Indi." aku mengernyit. Teman? Yang mana?

"Siapa?"

"Sasha."

"Bukannya itu merk micin, ya?" Aku melihat kakakku itu mendelik.

"In-di-ra!! Mas serius, loh." Aku menggaruk belakang kepalaku.

"Aku gk tahu, Mas. Kayak gak tahu aja kalau Indi jarang bergaul sama yang beda kelas." muka Mas Indra jadi muram.

"Indra! Indi! Kalian ngapain, sih? Cepetan sarapan." aku lumayan benci kamarku di lantai dua. Benar-benar merepotkan.

"Ndi, Paling gak, bantuin cari info tentang Sasha, dong."

"Terus Indi dapat apa?"

"Hm, kamu yah, sama mas aja perhitungan." aku memutar mata malas.

"Gak ada yang gratis di dunia ini, Mas Indraku sayang. Lagian aku bukannya perhitungan, cuma realistis aja." Suara decakan Mas Indra tidak ku hiraukan.

"Pagi Bunda! Ayah!" Aku mendudukkan diri di kursi, Mas Indra masih saja mendumal.

"Indra, muka kamu jangan gitu di depan makanan!" Aku menahan tawa saat Mas Indra dimarahi.

"Eh, maaf, Yah..." aku menutup wajahku untuk menutupi diriku yang cekikikan tanpa suara.

Wajah Mas Indra datar, sadar aku ketawai. "Bun, Indira berangkat bareng I'in aja." bunda mengangguk.

"Hati-hati, Indra. Jangan ngebut gak karuan bawa motornya." Mas Indra menunjukkan jempolnya.

Kami makan dalam hening. Kata ayah, kalau memang tidak penting, kita gak perlu bicara saat makan. Tidak efektif katanya.

"Bun, Yah... I'in sama Indi berangkat dulu, Assalamualaikum!" aku menarik ransel Mas Indra.

"Salim dulu, Mas." dia menyengir. Aku menyalimi ayah dan bunda.

"Hati-hati!"

"Iya, Bun. Assalamualaikum!"
____________________________________

"Indi, ayolah, bantu mas mu ini." aku berdecak. Masa di depan gerbang yang dibicarakan itu lagi.

"Apa, sih?! Kalau ada bayarannya aku mau." jawabku sarkas.

"Mas beliin es krim sama coklat."

"Cih, aku bukan bocah."

Berkelana di Jejak BintangStories to obsess over. Discover now