Beberapa hari yang lalu. Lucinda Marie Albatrus dan Visyana Agatha Albatrus masih seorang manusia. Ya, seorang manusia utuh, dan nama mereka masih Lucinda Marie dan juga Visyana Agatha. Hingga peristiwa yang mengerikan membuat mereka berubah. Mereka seperti tidak mengenali diri masing-masing. Terlebih, mereka dikejutkan ketika mereka sudah langsung dibawa oleh orang-orang berkulit dingin sedingin es, dengan mata yang tajam menusuk, dan kulit mereka selembut dan seputih salju. Mereka membawa Lucy dan Visyana saat usia mereka genap 18 tahun.
Dan sekarang, ketika Lucy membuat kesalahan bersama Visyana. Mereka harus menerima kenyataan bahwa mereka diusir dari kastil klan mereka. Mereka berdua diusir dan terpisah jauh satu sama lain. Padahal mereka sudah bagaikan layaknya seorang saudara. Bagi Lucy pun Visyana sudah seperti saudara perempuannya sendiri. Mereka berdua di utus untuk menemukan benda misterius agar mereka dapat kembali ke kastil Klan Albatrus.
Namun, pada kenyataannya garis takdir mereka sudah terlihat. Baik Lucy maupun Visyana bertemu dengan seorang pria yang sangat misterius bagi mereka yaitu musuh bebuyutan bangsa mereka sendiri. Mereka adalah seorang Werewolf.
***
LUCINDA :
"Lucy? Singkatan dari Lucinda. Nama yang indah."
Sial, ucapannya membuatku menjadi berdebar. Ini tidak boleh terjadi. Kami benar-benar berbeda. Kami tidak bisa bersatu-- tidak, bahkan orang itu sama sekali tidak melihatku sebagai wanita.
"Cepat antarkan aku ke Liontin Suci Ratu Keana," aku berkata dengan kata-kata yang ketus. Well, tujuanku di sini untuk menemukan liontin itu kan?
"Kau sudah ku suruh lari tadi. Mengapa kau malah kembali menghampiriku?"
"Umm-- karena kau yang tau tempat Liontin itu jadi jangan kau coba untuk kabur, dan jangan lupa kalau aku sudah menyelamatkanmu. Terutama aku memiliki banyak pisau untuk melukaimu."
Ya, aku sudah berbohong dengan mengatakan kalau aku menyiapkan pisau lipat. Kalau-kalau orang ini akan melukainya, aku dapat mengancamnya. Karena orang ini benar-benar misterius.
"Haha, kau cantik. Tetapi sangat temperamental."
Apa? Aku?
"Aku akan membawamu ke liontin itu, tetapi dengan satu syarat--"
"Apa itu?"
"Be my mate."
Mate? Apakah itu berarti orang ini adalah-- apa?! Dia seorang Alpha? Tidak tidak. Dia Alpha dari klan mana? Benar-benar Alpha?
"Kau gila?! Aku seorang--"
"Vampire? Aku tau," ucapnya santai.
"Lalu mengapa--"
"Kau mau atau tidak?"
Argh! Orang ini. Bagaimana bisa ia bertindak seperti itu. Apakah ada yang dia rencanakan? Well, kita lihat saja nanti bagaimana orang itu membawaku.
***
VISYANA :
"Eh kau?!" Ucapku kaget saat seekor werewolf tadi tiba-tiba menjelma menjadi lelaki tampan yang gagah.
Ah, maksudku manusia biasa.
"Kau vampire. Untuk apa datang kesini?" Tanya lelaki itu dengan wajah merahnya.
"Darah." Gumamku, tentu saja aku merasakan darah yang mengalir di tubuhnya. Tapi itu bukan hal yang membuatku haus.
"Begini, oh perkenalkan aku Visyana Agatha Albatrus, nah aku kesin-"
"Kau dari Albatrus?" Tanya lelaki itu dengan wajah datarnya dan ia memotong perkataanku.
"Hmm ya, aku kesini untuk mencari mahkota milik ratu Alaima Rista Albatrus." Ucapku.
Lelaki itu menaikkan sebelah alisnya lalu berjalan menjauhiku. "Tunggu!!" Teriakku.
Lelaki itu terus berjalan tanpa menghiraukanku. "Daniel." Panggilku pelan.
Werewolf itu segera berbalik dan menatapku heran sekaligus marah. "Kau membaca pikiranku." Ucapnya kesal.
"Bantu aku."
"Kau sudah kelewatan." Ucap Daniel namun ia berjalan mendekatiku.
Kemudian tangan itu menggenggam tanganku, membawaku entah kemana dengan wajahnya yang datar.
***
TO BE CONTINUED....
Hai semuanya... Inu adalah project pertama kita... Semoga kalian suka sama ceritanya ya... Kalau kalian suka jangan lupa kasih vote dan komen cerita kita... Awas aja kalau lupa😡
POKOKNYA WAJIB VOTE!!! WAJIB KOMEN JUGA!!!! #BERCANDA!!! 😂😂
Semoga cerita kali ini nggak mengecewakan kalian ya...
See you next chapter....
XX
-VIO
-Saputri
YOU ARE READING
The Shade Of Destiny
FantasySeperti halnya matahari dan bulan yang tak akan bersatu. Baik mereka bangsa Vampire dan Werewolf pun tak dapat bersatu. Namun, ketika takdir sudah mempersatukan mereka, mereka tak dapat menyangkalnya. Cerita ini tentang takdir yang tak bisa dielakan...
