Sunyinya malam ini kembali menyambutnya. Entah sepertinya, langit pun ikut bersuara akan hati ini yang membungkam. Tetesan air mata ini seakan selaras dengan hujan menetes di malam itu.
Seorang gadis yang hanya menatap gelapnya langit, memeluk dirinya gemetaran, dan keseluruh tubuh yang mengenakan gaun indahnya tanpa lengan yang berwarna biru langit, basah kuyup.
Gadis itu yang terjatuh di rerumputan hijau di sebuah taman yang sepi, tak kuasa menahan luka yang ia rasakan, menangis tanpa adanya sedikitpun kerutan kebahagiaan di wajahnya. Memegang erat rok nya, untuk menahan rasa sakit nya.
Ia menunduk, melihat benda kotak pipih nya tergeletak di disisinya, basah. Terdengar suara deringan telepon. Namun, ia hanya sekedar melirik sekilas, dan kembali pada pandangannya semula.
Tak lama, seorang lelaki tinggi yang seketika berdiri di belakang tubuh gadis itu, dengan membawa payung untuk meneduhkan gadis itu tanpa diri nya sadari. Ia mendekati tubuh gadis itu, hingga ia mengeluarkan dehaman yang membuat dia seketika terhenti dari lamunan panjangnya, dan kembali tersadar akan dunia nyata.
"Ehem".
Seketika gadis itu membalikkan badannya mencari asal suara yang telah di dengar. Sontak kedua mata mereka berdua saling bertemu, mata indahnya gadis itu tidak dapat terlepas dari tatapan ke arah mata elangnya lelaki itu.
Gadis itu memejamkan matanya sejenak, yang pipinya sudah memitikkan air matanya. Lelaki itu yang seketika merasa khawatir, dengan sigap ia menarik pelan tubuh gadis itu yang berada di pelukannya dan mengelus perlahan rambutnya yang lepek.
"Jangan nangis, Cha. Ga cape apa lo nangis mulu". Lelaki itu yang menyebut 'Cha' adalah Ayesha yang biasa di panggil Acha, terus memeluk tubuh Acha dengan erat, sehingga ia dapat merasakan dari kesedihannya yang Acha rasakan. Sama dengan hatinya lelaki itu yang rapuh karena Acha.
Hening beberapa saat. Mereka berdua yang masih menikmati angin sejuk di malam ini yang melewati tubuhnya. Lelaki itu terus memeluk dan menenangkan Acha yang sedikit mereda tangisannya. Sampai ia pun merasakan baju nya pun ikut terasa basah oleh percikan air hujan.
"Kedua kalinya, ninggalin aku tanpa alesan. Kenapa? Salah aku apa coba?". Ucapnya pelan, sesekali sesegukan meski suara masih terdengar jelas oleh lelaki itu.
Lelaki itu sedikit menunduk untuk melihat wajah pucatnya Acha. Ia pun menaiki dagunya pelan, agar lelaki itu lebih jelas menatapnya. Lelaki itu terdiam, sakit hati melihat terus wajah Acha yang tak bisa menahan tangisan dari rasa sakitnya.
Tapi lo ga pernah nyadar, Cha. Gue yang selalu ada di samping lo, tapi lo ga pernah ngerasain, kalau yang bener bener cinta sama lo itu, gue.
›››
Hai hai.
Ini cerita pertama gue, semoga kalian nanti suka ya.
Prolog nya masih gue revisi, karena mungkin sebagian masih ada kesalahan dari bagian ini.
Tunggu ya cerita selanjutnya:)
Tertulis,
mn.
YOU ARE READING
Ayesha
Teen FictionDia, yang selalu ada disamping mu. Bukan maksud menyukai mu, mungkin hanya sekedar menemani mu yang kesepian. Dia, yang peduli padamu. Bukan karena sayang, mungkin ia hanya kasihan pada mu. Jangan paksakan, jika dia yang kamu cintai tidak mencintai...
