1 Aku

27 1 1
                                        

Hamparan luas tampak di depan mata. Aku berdiri di awang-awang cakrawala. Menatap jauh ke depan namun tak ku temui siapapun disini. Aku berdiri di atas permukaan air tenang, tak tenggelam, entah mengapa. Hanya hamparan biru dan putih yang terlihat sejauh mata memandang.

Kosong!! Tentu saja.

Jangankan berteriak, suara napaskupun tak bisa ku dengar.

Bagai bisu dan tuli. Tempat ini seakan memenjarakanku dengan sangat rapat. Di mana sebenarnya aku berada. Apakah ini surga? Entahlah. Aku tak bisa menanyakan pada seseorang. Sudah kukatakan aku hanya seorang diri di sini.

Rasanya lelah sekali. Entah sudah berapa lama aku berjalan dan tak menemukan ujungnya. Saat ku pejamkan mataku, aku berharap, jika aku bisa mengerti situasi apa yang sedang aku hadapi saat ini.

"Aku ingin teman. Rasanya sepi sekali. seperti tercekik." bisikku pada angin sepoi. Aku jatuh terlentang menatap langit semu. Ku pejamkan mata menikmati sensasi menenangkan yang tercipta di antara riak kegelisahan.

Dan tak lama hembusan angin dingin yang terasa aneh membelai kulitku, menyentak dan membuatku tersadar saat kecipak air terdengar di kejauhan. Ku buka kedua makhkota lentik yang menutupi kedua bola mataku, memicing mencoba memfokuskan dan menatap ke depan, benar saja, di sana aku melihat sesosok manusia lain yang mungkin sama terjebaknya seperti diriku.

Sedikit harapan membuncah aku berlari kencang menghampiri, semoga saja dia tau caranya untuk keluar dari tempat ini.
"Hei!! Kau, tunggu, jangan pergi." aku berteriak tanpa suara, hanya mulut yang terbuka tanpa nada saat melihat sosok itu mulai berjalan memunggungiku.

"Tunggu...." tanganku mengapai, oh ayolah jangan hanguskan harapanku, aku mohon suaraku keluarlah.

"Tung...." panggilanku terhenti dalam keterkejutan. dia berbalik, saat jarak semakin terkikis, aku tersadar jika aku benar-benar sendiri di tempat ini.

karena saat dia menoleh yang ku lihat adalah diriku sendiri. Dia adalah aku bukan orang lain.

Langkah kaki membeku "Tidak mungkin. Kenapa aku ada dua. Tempat apa ini sebenarnya." innerku berteriak gaduh.

Kami saling terdiam. namun tanpa kusadari ada sebersit tatapan penuh luka dan kesedihan dalam pendar redup di matanya.

Dan sebelum aku sempat membuka mulutku untuk bertanya pada lelaki berparas sama sepertiku, aku terperosok dan jatuh. Tanah, bukan tapi lapisan air keras ini telah kembali pada eksistensinya. Aku jatuh dan tenggelam.

Tenggelam jauh, makin lama makin terperosok.

Nampak gelembung air keluar dari mulut membuatku merasakan panik dan ketakutan akan kematian.

"Tuhan!!! siapa saja selamatkan aku!"

Tubuhku melayang bagai melesak jauh dalam kegelapan tanpa tepi. Rasa hampa seakan Merongrongku dari dalam.

Tubuh keluh merasakan tekanan air yang coba menarik ku jatuh semakin dalam. Aku tenggelam sampai ke dasar.
Paru-paruku rasanya seperti terperas sesak penuh air.

Gelap!

Sepi!

Kosong!

Takut!

"Apakah aku akan mati?"

'Tidak!! Aku tak ingin mati, aku harus hidup apapun yang terjadi" innerku berteriak nyaring, menolak kenyataan tentu saja.

Kilasan-kilasan balik tentang masa lalu ku mulai terekam bagai mimpi buruk.

Kehidupan sempurna seorang pemuda tampan yang tampak bahagia. Terlihat jauh dari kata kesedihan ataupun keterpurukan. Memiliki hidup yang selalu di idamkan oleh orang lain.

Sweet HeartWhere stories live. Discover now