''KENAPA HAH !''

"KENAPA''

''HIKSS KENAPA KAU MEMBUATKU MENDERITA''

''Anioo, hiks kumohon jangan seperti ini'' dengan butiran air mata yang terus muncul kala Chanyeol melihat kondisi Ibunya. Chanyeol tertekan, dia merasa sakit begitu dalam. Ibunya terus mengira bahwa dia Ayah yang sudah meninggal.

Tak lama kemudian bibi datang kerumah, dia terkejut mendengar jeritan dari kamar dan berlari menghampiri.

''Chanyeol ! Ada apa !" ujar bibi terburu - buru menghampiri Chanyeol.

''Bibi, aku tidak tau. Umma tiba - tiba berteriak dan mengira bahwa aku Appa''

''APA YANG KAU KATAKAN PARK ! APAAA !" ujar Ibu Chanyeol.

''Bug bug''

''Yaak sora hentikan ! Dia Chanyeol putramu ! Apa kau tak tau !''

''Yakk sora hentikan ! Jangan pukuli anakmu seperti itu !" bibi Chanyeol pun memegang tangan Ibu Chanyeol yang terus memukuli Chanyeol.

''Chanyeol kau pergilah ! Biar bibi yang mengurusnya !'' ujar bibi panik yang dibalas anggukan oleh Chanyeol. Chanyeolpun pergi meninggalkan Ibunya dengan berat hati.

Langkah kakinya menuju ruang bawah. Hari makin malam dan dia keluar dari rumah, membawa motor miliknya hanya sekedar pergi menenangkan diri.

.

.

Sungai han.

.

Malam yang mencekam, malam yang dingin dan malam yang sunyi. Sunyi tempat Chanyeol berada tapi ramai gaduh perasaan yang ada pada Chanyeol yang sedang sendiri. Termangu dan ditemani kursi panjang yang ada di sungai han.

Ketika aliran air itu terus mengalir. Mengalirkan rasa sakit dalam hati yang hancur. Aliran air. Air mata yang terus keluar dari kelopak mata bulat Chanyeol. Dia termenung sendiri, sesekali menghapus air matanya kasar.

''Umma bilang aku bulan, itu karna bulan tak sendirian. Ada bintang yang juga bersinar mengelilingi''

''Tapi lihatlah sekarang. Bulannya sendirian, tak ada bintang disana. KAU SENDIRIAN !"

Chanyeol berteriak dengan kerasnya saat mengatakan patah katanya. Tak memikirkan sekitarnya karna memang suasananya sunyi. Hanya ada beberapa pria di ujung sana. Namun Chanyeol tak memikirkan jika mungkin ada orang yang lewat. Dan benar saja di belakang sana ada wanita yang mukin sudah ketakutan mendengar teriakan dari Chanyeol.

Wanita itu terlihat ketakutan dengan wajahnya yang terus memandang ke arah Chanyeol. Sedangkan Chanyeol diam dengan menangkup kepalanya menggunakan tangan. Merasakan betapa sakitnya hati dan fikiran yang Chanyeol alami sekarang.

'Lihatlah ! Dia Chanyeol siswa terpintar soul, dia keren dan dia pasti bahagia'

'Kau tau ? Chanyeol itu tampan sekali, dia beruntung memiliki wajah seperti itu'

'Chanyeol yang berbakat !'

'Lihat lelaki itu ! Dia punya otak yang pintar. Beruntung sekali dia' patah kata, ucapan yang dilontarkan pada Chanyeol ketika sedang di sekolah dan di luar menggeliang di otaknya. Dia mengingat setiap kata yang mereka ucapkan tentangnya.

'Kau pikir begitu ? Apa tidak ada yang benar dalam berkata - kata. Tak ada yang benar satupun. Apa ada yang mengatakan dengan benar ? Yang benar Bahwa aku menyedihkan bukan ?' pikiran Chanyeol terus berucap. Dia hanya bisa berbicara dengan batinnya. Dan tampa di duga seseorang menghampirinya.

''Sendirian disini, di pinggir sungai han. Duduk termenung. Kalau begini kau terlihat menyedihkan !''

''Deg''

Seorang wanita itu mengatakan dengan jelasnya. Dia menghampiri Chanyeol. Menundukkan kepalanya membisikkan kata kata itu pada Chanyeol. Chanyeol terkejut bukan main ketika tiba - tiba ada yang mengatakannya. Dengan perlahan Chanyeol memandang wanita tersebut. Perasaan takut menghampiri Chanyeol, dengan jantung yang berdetam dengan kerasnya. Perlahan dan perlahan Chanyeol menghadap ke arah wanita tersebut dan.

''AAARRRRRGGGHHHHHHHH''

''AAAAAAAAAAKKKK''

''Yaak yaaak !'' dengan takutnya Chanyeol memukul - mulul rambut yang menjulur kebawah milik wanita tersebut hingga berantakan. Anehnya Chanyeol merasa takut dan berteriak, dan entah mengapa wanita di depan Chanyeol itu berteriak juga

''YAAK BERHENTILAH ! KENAPA BERTERIAK !''

''KAU JUGA BERTERIAK !'' ujar Chanyeol yang terkejut dua kali karna wanita di depannya ikut berteriak. Dan bagaimana tidak takut, wanita di depan Chanyeol itu menunduk sehingga rambut panjangnya menjulur kedepan belum lagi sinar lampu yang menerpa wanita tersebut. Terkesan seperti hantu di malam hari.

''APA KAU GILA''

''YAAK HANTU SIALAN ! KAU BERANI MENGATAIKU GILA !''

AKU BUKAN HANTU ! KENAPA HANTU MENGATAIKU HANTU !''

''KAU YANG HANTU !''

''AKU BUKAN HANTU ! KAU YANG HANTU !''

''KAU HANTU''

''KAU YANG HANTU''

''BAIKLAH KITA BERDUA HANTU''

''BAIKLAH SETUJU !''

''KENAPA SETUJU ? KAU YANG HANTU !''

''HANTUNYA KENAPA TAMPAN SEKALI ! MEMBUATKU AMBIGU''

Whats Wrong With YouWhere stories live. Discover now