''''''' apa yang mampu kamu lakukan, ketika dunia perlahan menjebakmu dalam serba cepat, instan dan sibuk akan keramaian, sedangkan kamu masih setia dengan keterasingan?''''''
Malam masih setia dengan temaramnya langit yang benderang. Bintang bersuka ria dengan kemerlipnya yang tiada tanding. Bulan pun mulai meredupkan sinarnya, sebab ia telah termakan rayuan gerhana. Sementara itu, angin mendesir, menyeruak dingin pada sekujur lengan pemuda seumur jagung itu. Di benaknya terbesit bayang-bayang raganya. Lalu terbesit tanya dalam dada.
"Kenapa kamu ada? Mengapa kamu hidup? Kenapa kamu memilih berTuhan? Siapa sebenarnya dirimu? Siapa kamu? Siapa aku? Buat apa kamu? Buat apa aku?"
Ia terus memandangi bayang-bayang tubuhnya. Dengan seksama ia terus memandanginya dan terus hanyut dalam pandangan. Lalu, ia bergumam dengan lembut, "apakah aku Kata, yang terlahir dengan hidup sengsara? Tanpa ayah sedari kecil, hidup yang hanya mengandalkan ayunan sepeda ontel buntut, apakah aku itu? Apakah aku kata, yang saat ini sedang sibuk bersua dengan orang-orang, bersalam dan berdiskusi tentang segala yang terbentang di semesta? Berpikir dan berdialektik yang hanya sekadar mengandalkan nalar saja? Apakah aku kata, yang terbaring lemah di sofa, tak kuat bergerak, duduk dan berdiri, apalagi bicara tentang cerita masa muda dan kanak, apakah aku yang hanya bisa berkedip mata sebagai tanda aku butuh bantuan sesuatu?
Hening membisu, seketika bumi terasa berhenti berputar dari porosnya.
Tak ada yang setabah di semesta ini kecuali sebuah kata-kata. Ia sering terabaikan dan terasingkan dalam roda perputaran dunia. Aku yang duduk tak berdaya di antara ruang-ruang yang fana, tiba-tiba ingin bercerita tentang kata-kata. Kata bisa menjadi senjata untuk mencari bahagia dan juga ia bisa berbahaya apabila kata-kata sudah tidak lagi bermakna bagi manusia. Kata-kata yang merasuk dalam pikiran terkesan sebagai sikap idealis yang sangat berarti pada perjuangan. Dan aku lebih memilih berkata-kata dalam puisi tanpa irama, nada, dan suasana. Biarkan puisi dari kata-kata ini membentuk dirinya sendiri, mau kemana dan mau menjadi apa.
Siang yang terik tak lagi berkuasa atas diri ini yang sudah mulai menua. Menungggu waktu pulang tiba. Mata yang sedang memandang segala kata-kata yang pernah terlepaskan dari ini dengan buram, bermerahan, dan penuh dengan nyeri yang tak bisa kuukur dalam jumlah mindset manusia. Aku yang terlelap pada tubuh yang tak ada makna ini mencoba menggali lagi apa yang ada di dalam dada. Mengais setiap sendi-sendi naluri insan yang haus akan makna kehidupan semesta. Tuhan, agama, akal, jiwa, dan diri ini mencoba kukaiskan dari setiap langkah kaki yang membawa. Aku memilih diam dan berhenti di antara meraka semua. Pertanyaan kembali muncul dalam penat otak ini. Kenapa aku harus berjuang? Sampai kapan otak ini berpikir tentang mu? Berkata tentang perjuangan, proses, mencinta, dan perlawanan?
Aku yang terbaring lemas di antara mereka yang mengenal kata bahagia dalam rumusan kata hidupnya. Apakah aku tak mengenal sebuah kebahagiaan? Apa mungkin aku memang manusia yang kurang bersyukur atas nikmat Tuhan bagi mereka yang percaya pada Tuhan? Ya, Tuhan sampai kapan pertanyaan ini mengusik otakku.
Aku yang tak setabah kata-kata. Memilih tak peduli dengan harta yang selalu istimewa dalam dunia. Aku lebih memilih mengasingkan diri dan bercengkrama sambil terbayang delusi-delusi tentang yang ada. Kata-kata begitu indah mempesona dengan rasa yang tak ada dua nya. Aku bercumbu dengan kata-kata yang kadang tak pernah ada harganya dibandingkan dengan nasi atau sepaha daging ayam yang membuat perut kenyang menenang.
Aku yang terbaring diantara jutaan rasa yang ingin kubangunkan dalam prosa yang pasti tak akan ada orang lain yang memperhatikannya, apalagi berkenan membaca prosa ini.
Manusia sudah terlalu pandai berkata-kata hingga tak ada lagi orang yang mau mendengarkan kata-kata. Mereka lebih memilih berkata-kata dari pada memahami makna kata-kata yang ia dengar. Manusia yang sudah tak mengenal kebijaksanaan dari kata ,,,,, sebab itu akan kutambah lagi ketidakmaknaan dari kata dengan kata-kata yang kutuliskan ini
Magelang, 06 September 2018
YOU ARE READING
SEKADAR KATA
PoetrySebuah memoar perjalanan hidup yang dilukiskan melalui sekadar kata. Paling tidak dari hal itu dapat diambil sebuah pelajaran.
