Aku baru saja menjejakkan kakiku didepan pintu apartemen, ketika sebuah surat tanpa sengaja terinjak olehku. Kuambil surat itu dan sejenak ku bolak-balik mencoba mencari tahu darimana asalnya. Kutemukan tulisan "Mama" dibelakang amplop.
Segera saja aku masuk ke dalam, mantel tebal yang kukenakan saat ini tak mampu menghalau hawa dingin yang sedang terjadi disini. Ya, saat ini di Negara Inggris, tepatnya di kota London sedang musim dingin. Jika sedang puncak-puncaknya musim dingin, mungkin suhu bisa saja berada di titik terendahnya, sampai pada titik -5°C atau bahkan lebih rendah lagi.
Ah.. Didalam terasa agak hangat bagiku, apalagi segelas chocolate panas mampu menghangatkan tenggorokanku yang sedikit kaku karena dinginnya cuaca. Aku melirik ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku, pukul 7 malam waktu London.
Diluar nampak agak sepi, mungkin orang-orang enggan keluar rumah karena tak mampu menahan dinginnya cuaca, jadinya mereka lebih memilih untuk berdiam diri dirumah, di depan perapian, menghangatkan badan.
Kuamati lagi amplop berwarna putih kiriman mama dari Surabaya. Kusobek sampulnya berniat akan kubaca. Lembar pertama kubaca perlahan, berisikan curahan hati mama dan papa yang kangen kepadaku. Aku membacanya sambil tersenyum. 'Ah.. Ma,Pa... Arinta juga kangen.. ' batinku.
Dua lembar surat dari mama sudah habis kubaca. Pada intinya, mama dan papa sangat rindu padaku. Maklumlah, aku adalah putri satu-satunya buat mereka. Dan kesimpulannya, mama dan papa menyuruhku untuk pulang ke Indonesia ketika libur nanti.
Mungkin kerinduan mama dan papa sangat beralasan, karena sudah hampir setahun ini aku tak pulang kampung. Ketika libur kuliah pun, aku memilih untuk mengambil kerja paruh waktu bersama temanku Michelle di sebuah restoran Pizza. Sangat menyenangkan. Perlu kalian tahu, tujuanku menerima pekerjaan sebagai pelayan di restoran pizza bukan karena aku ingin cari uang, tapi hanya karena aku ingin tahu bagaimana sulitnya bertahan hidup di negeri orang. Seperti yang Michelle alami.
Michelle temanku, berasal dari negeri Kincir Angin, Belanda. Ia bisa kuliah disini karena mendapatkan beasiswa dari pemerintahan Belanda. Michelle memang gadis yang sangat pintar. Selain itu, ia gadis yang tangguh. Ia bekerja setelah perkuliahan usai, sampai terkadang hingga tengah malam ia baru pulang ke apartemen.
Sebegitu dekatnya aku dengan Michelle, akhirnya Michelle aku ajak untuk tinggal bersamaku di apartemen yang telah disewa papa untuk kutinggali. Tak begitu besar, namun cukup nyaman. Malam ini, Michelle masih berada di Toko Pizza, jadilah aku sendiri saja.
Kembali lagi ke mama dan papa. Mereka sangat sayang padaku. Sebenarnya, keputusan untuk kuliah di Inggris adalah keputusanku yang sempat ditentang mama dan papa. Bagaimana tidak, sebagai anak satu-satunya, tentunya mama dan papa tak mau jauh-jauh dari anaknya. Tapi, karena suatu hal yang sangat prinsipiil membuatku keukeuh ingin kuliah disini. Akhirnya papa dan mama menuruti keinginanku.
Sudah hampir 2 tahun ini aku berada di negeri orang. Tiap 3 bulan sekali ketika ada libur aku sempatkan untuk pulang. Namun jika jadwal ku sangat padat, aku hanya bisa pulang 6 bulan sekali. Namun kali ini sampai hampir setahun aku tak pulang, sampai mama mengirimkan surat untukku.
Surat mama selesai kubaca, setelah itu aku berniat untuk pulang. Kuambil handphoneku, lalu kutelpon mama, biar rasa rindunya sedikit berkurang. Di Indonesia pasti masih pagi. Ku-dial nomor mama yang sudah tersimpan di memori handphoneku. Tak berapa lama, suara mama sudah bergema di telingaku.
"Halo Ma.. Assalamu'alaikum.. "
"Wa'alaikumsalam... Arinta sayang.. Mama sama papa udah kangen, kapan pulang? Udah lama lho kamu ngga pulang." Pekik mama bahagia.
YOU ARE READING
(MASIH) "SAHABATKU KEKASIHKU"
Teen Fiction_Jika hati ini adalah milikmu.. Biarkan dia terisi tentang kisahmu.. Kisah Kita.. Yang Dulu hanya kita sebut Teman Namun sekarang ia ingin menjadi "Teman"_ "Arinta.. aku mau, kita bukan sebagai teman lagi. Aku mau, kita lebih dari sekedar teman."...
