Prolog

103 7 0
                                        

Raya menggerak-gerakkan tubuhnya dalam tidurnya yang gelisah. Suara-suara yang entah dari mana kini membuatnya ketakutan.

"Raya kamu itu terlalu naif" seseorang berbisik dibelakangnya, membuat Raya merasakan tubuhnya merinding. Namun ia tidak bisa melihat wajah itu. Ia tidak ingin melihatnya.

Seseorang berdiri jauh didepan sana "kerja bagus Raya" teriak orang itu dengan girang

"Raya ayo ikut, kita harus bersenang-senang" seseorang kini menarik tangannya, lalu orang itu berbalik menatapnya dengan senyum bangga

"Kamu pasti bisa, kita semua percaya sama kamu" katanya lagi

"kamu memang yang terbaik" sahut seseorang yang lain diujung sana

Dalam sekejap semua hilang tenggelam dalam latar hitam yang pekat. Tak menyisakan satu bayanganpun yang mampu ia kenali wujudnya. Kini ia sendirian.

Seseorang berdiri didepan Raya"ternyata kamu gak seperti yang kuduga, kamu itu gak bisa diandalkan"

Satu persatu kini orang-orang tak dikenal itu mengerubunginya, menciptakan suasana mencekam yang mengintimidasi.

"maaf ya Raya, aku gak mau terlibat dengan masalah kamu"

"kamu itu licik, memanfaatkan orang lain untuk kepentingan kamu sendiri"

"kok kamu egois banget sih"

"iya memang cuma kamu yang paling benar, gak mau disalahin, gak mau mendengar orang lain"

"gak tau malu"

"dasar munafik"

"dia diam sekarang, kasian ya udah gak ada yang percaya lagi sama dia, pembohong memang"

"alay banget sok depresi segala"

"semua orang tu benci sama kamu Raya Aynara"

Raya merasakan udara disekitarnya semakin lama semakin menipis. Nafasnya kini sesak dan ia kehilangan kendali atas dirinya sendiri

"BERHENTIIII"

***

"sakit jangan pukul Farel" jerit Farel tertahan oleh rasa sakit. Seolah tak mendengar suara pilu anak itu, seseorang terus memukulinya tanpa henti. Tangan itu menjambak rambutnya lalu menyeret tubuh lemahnya ke dalam ruangan yang lembab. Seolah rasa sakit itu belum cukup, Farel tidak bisa menghentikan kepalanya yang didorong dan dicelupkan kedalam bathtub berisi air. Disanalah Farel kehilangan kesadarannya

Hanya sebentar, sampai kesadarannya ditarik kedalam luka yang lebih menyakitkan

"farel mau sama mama, jangan pisahin farel sama mama" jerit Farel saat lengan-lengan kekar orang-orang berjas hitam mengunci tubuhnya

"jangan ambil farel dari aku" suara pilu wanita yang sangat Farel cintai itu membuat rasa sakit yang menghujam Farel semakin tak terbendung

Entah sejak kapan, tubuh Farel tenggelam dalam pelukan kakaknya.

"kak, jangan biarin papa misahin farel sama mama" rintihnya dalam isakan yang tak kunjung berhenti. Tapi Fris kakaknya, hanya memeluk tubuhnya semakin kuat

"farel ikut papa jangan melawan, kamu harus ikut papa"

"kak mama dimana?"

Dalam kesadarannya yang semakin menipis, Farel berusaha sebisa mungkin mendengar suara samar yang entah dari mana

"mamanya farel dibawa ke rumah sakit jiwa, penyakitnya semakin parah" tepat saat itu juga gelap sepenuhnya mengambil kendali atas tubuhnya. Tak ada lagi yang bisa ia lakukan saat ini. Rasa sakit yang bertubi telah merampas sisa kekuatannya.

"kunci farel di kamar, jangan biarin dia kabur lagi dari rumah"

"aku mohon, dimana mama"

"ENGGAKKK"

***

Mimpi buruk selalu menghantui malam-malam panjang. Mengikat seluruh hidup agar menetap dalam luka. Perlahan mengikis, menghancurkan, melenyapkan sisa harapan. Satu persatu bagian dalam jiwa menghilang meninggalkan kehampaan. Nyaris tak percaya apakah bahagia itu benar-benar ada. Mungkin hanya jika semua yang tersembunyikan terungkap ke permukaan. Karena katanya disana, dibalik luka itu ada kebahagiaan? Tapi mungkinkah?

BehindTahanan ng mga kuwento. Tumuklas ngayon