_______
Jatuh cinta itu bukan hanya perkara tentang rasa tertarik dengan lawan jenis. Bukan pula tentang rasa sakit ketika cinta tak terbalas. Atau juga bukan tentang dua orang yang memutuskan untuk berkomitmen.
Jatuh cinta mempunyai arti lebih luas dari itu. Bagaimana rasa nyaman mengawali semuanya. Kemudian rasa sayang tidak dapat lagi terelakan. Hingga titik di mana cinta benar-benar mencapai puncaknya. Kalau sudah seperti itu, bukankah ujungnya memang akan di jatuhkan? Kembali menempati titik awal. Ketika orang lain menempati tempat yang diperkirakan sebelumnya menjadi tempat permanen bagi orang itu.
Kini setelah di jatuhkan, tempat itu akan kembali kosong. Dan saat inilah orang lain akan leluasa masuk. Siklus yang sama dengan orang yang berbeda.
Bagi sebagian orang, cinta itu rumit. Termasuk bagi perempuan yang saat ini sedang berlari menyusuri koridor sekolah yang sepi.
"Mampus gue!"
"Kenapa lari-lari?"
Sembari memegangi dadanya, Flora berjengit kaget. "Setan lo, ah!"
Perempuan itu membetulkan anak rambutnya. Menggerutu kesal sambil melirik cowok jangkung yang sedang bersender di tembok sebelahnya.
"Lo iblisnya."
Flora memukul dada cowok itu. Bibirnya manyun dengan lirikan tak biasa. "Panekuk stroberi, Fi."
"Besok."
"Tai lah! Ngomong gitu terus lo dari kemaren!" Flora berdecak sebal.
"Balik temenin gue basket, ya?"
Cowok itu merangkulnya. Dan Flora hanya bisa mendengus keras. Seorang Kahfi Adhitama memang sudah menyebalkan dari dulu. Melihat wajahnya saja sudah membuat emosi Flora tidak setabil.
Kahfi adalah sosok sempurna untuk menjadi drama king. Sana-sini tebar senyum. Kalau lagi ngomong serius, suka ngalihin pembicaraan terus. Dan hal yang lebih menyebalkan lainnya adalah cowok itu bisa di katakan primadona sekolah. Sosok yang sering menjadi topik hangat saat dibicarakan.
Satu lagi yang lebih-lebih membuat Kahfi menyebalkan bagi seorang Flora, yaitu bagaimana Kahfi selalu sukses membuatnya tak bisa marah walau hanya beberapa jam saja. Cowok yang berhasil menempati hatinya sejak 6 bulan lalu itu selalu punya cara untuk meluluhkannya.
"Latihan sendiri aja sana, males gue suka di cuekkin kalo lagi latihan. Berasa nggak dianggap." Flora melepaskan rangkulan Kahfi.
"Pulangnya beli panekuk stroberi, mau?"
"Gak mempan sogokannya! Emangnya gue cewek apaan di sogok pake itu!"
"Cewek manja."
"Kahfi, sialan!"
"Aku dengar, sayang."
Flora meninju-ninjukan tangannya ke udara setelah Kahfi pergi meninggalkannya. Gemas sendiri. "Najis alay!"
☘☘☘
Melihat tingkahnya saat ini, membuat sebagian orang geram. Sedangkan yang menjadi pusat perhatian malah bersikap acuh tak acuh.
"Berdiri coba."
"Lo nyari apa sih, Flo?"
Flora memasang wajah melas. Membuat cowok yang duduk di bangku paling belakang mau tidak mau menyingkir dari posisinya.
"Thanks!" Flora tersenyum.
Perempuan itu membungkukkan badan. Melongok memperhatikan daerah bawah meja. Kendati mendapat apa yang ia cari, Flora harus menelan kembali kekecewaan.
"Ketemu?" Bagas bertanya.
Menggeleng pelan, Flora berkata, "gimana dong, Gas?"
"Lah, mana gue tau. Lagian lo nyari apa sih, nyet?"
Bukannya menjawab, Flora malah berlalu dari sana. Cewek itu hendak menyusuri setiap meja di kelasnya, lagi. Namun sang ketua kelas langsung memberikan pelototan tajam.
Flora meringis. "Santai, Mel."
"Lagian lo rusuh dari tadi." Amel mendengus. "Cepet kerjain tugas. Mau gue kumpulin bentar lagi."
Sejak jam istirahat berakhir, Flora baru menyadari kalau ia kehilangan sesuatu. Hadiah pemberian Kahfi itu tidak ia temukan sampai sekarang. Mencari di kantinpun rasanya akan sangat mustahil ia temukan. Makanya saat ia berlari di koridor tadi dan bertemu dengan cowok itu, Flora sempat gugup. Takut-takut kalau Kahfi sadar kalau kalung dengan liontin berbentuk matahari yang cowok itu berikan kepadanya telah hilang.
"Ketemu nggak?"
Flora melirik malas ke arah teman semejanya. "Ka..."
"Apa?"
Sepenuhnya Flora menghadapkan tubuh ke arah temannya itu. "Bantuin gue."
"Ogah!"
Flora memanyunkan bibirnya. "Akka."
Panggilannya tidak di respon oleh si pemilik nama. Flora menusuk-nusuk jari telunjuknya pada pipi cowok itu. "Akka Hafizhi, mau bantuin gue nggak?"
Akka menepis jemari Flora yang mengganggunya. "Dapet apa?"
"Elah, perhitungan amat lo sama temen!"
"Yah, bukan urusan gue juga sih." Akka mengendikan bahu tak peduli.
"Monyet, lo!"
"Yes, I'm."
☘☘☘
Tbc.
Ig : @rimanilo
YOU ARE READING
Strawberry Panekuk
Teen Fiction________ 18+ "Gue sayang sama lo." "Dan lo cinta dia." "Gue..." "Dari awal, hati lo emang punya dia." "Maaf." "Tolong... tolong pergi jauh dengan waktu yang lama sampai gue nggak sadar bahwa lo pernah hadir memberi luka." [Inspired on true story] Ba...
