Mengakhiri Detak Pertama

85 11 1
                                        

"We need to stop, Drey."

Kenapa? Kenapa harus detik ini?

Aku masih mengatur napasku. Angga bilang menangis adalah kesan yang cemen.

Tapi aku bukan laki-laki, Ngga.

"Don't look at me with that eyes, Drey. Ini udah terlalu berat buat aku."

Dan bukan berarti laki-laki gak boleh nangis, kan? Can i pretend that you try to hold your tears back?

"Atau cuma aku yang delusi, Ngga?"

Kuharap Angga akan terdiam saja. Seperti lima bulan yang lalu, seperti yang biasanya ia lakukan setiap aku bertanya menuntut.

Namun laki-laki dengan wajah membeku itu malah menggeleng. Seolah Angga memang sudah muak denganku.

Oh. Aku tahu sekarang, dia menahan emosinya untuk tidak meledak di hadapanku. Bukan menahan tangisnya.

Bodoh, harusnya kamu tahu, Drey. Angga tidak akan pernah meneteskan air matanya satu pun untukmu.

"Drey, kamu berubah. I never expect you to do this. Aku kira kamu bakal pegang janji kita."

But i change, i did. Harusnya kamu juga tahu, Ngga. Aku sudah muak lebih awal sebelum kamu memasang wajah seperti ini di hadapanku.

"Aku gak tau harus bilang apa, Ngga. Aku bahkan gak bisa ngelak saat ini. Iya, kan?"

Dan sayangnya, kamu juga berubah. Bukan cuma aku yang hilang, aku juga kehilangan kamu semenjak dua bulan yang lalu.

"It's better to end it this way, before i hurt you more. Dan sebelum kebohongan kamu semakin besar."

Kalau kamu tahu, this is for us. Aku bohong karena tatapanmu menuntutku untuk melakukannya.

Aku bahkan saat ini tidak berani untuk menatap mata Angga. Kepalaku masih tenggelam dengan kata-kata yang Angga lontarkan, tatapanku masih terpaku pada bahu Angga yang terbalut jaket dongker yang kuberikan beberapa hari lalu.

Siang tadi mungkin jadi saksi kenapa aku dan Angga bisa terduduk berdua di kafe ini. Jam di tanganku pun masih berdetak dengan siklus enam puluh detik tiap pergeseran menitnya. Tidak ada yang berubah, kenyataan dan waktu yang tidak sekali pun bisa aku putar.

Angga mungkin sudah melihatku tengah berbincang dengan laki-laki lain. Dan memang jujur saja senyum yang kuberikan padanya jauh lebih tulus daripada waktu yang kuhabiskan dengan Angga selama lima bulan berlalu.

"Kita masih jadi temen kan, Ngga?"

Pada akhirnya aku memberanikan diri untuk mendongak. Menatap kembali mata Angga yang sudah lelah. Kantung matanya bahkan sudah berkantung lagi. Wajahnya tidak secerah pertama kali kami bertemu. Caranya memandangku pun bahkan lebih membeku daripada biasanya.

Ngga, pernah gak sih sekali aja kamu mikirin aku?

"Aku bakal pindah satu minggu lagi. Aku harap kamu masih inget jadwal keberangkatanku. Kupikir aku bisa habisin sisa hari terakhirku di sini sama kamu. Ternyata aku salah, Drey."

Aku masih terpaku di tempat dudukku. Sementara Angga sudah bersiap berdiri dan mengambil ponsel serta dompet yang tergeletak di atas meja kayu yang kami tempati sore ini.

"Aku mungkin akan pergi lebih jauh dari kamu, Ngga."

Angga terdiam sesaat. Aku benci reaksinya. Kenapa Angga tidak pergi saja seperti biasanya?

"Kapan sih kamu bisa jujur sama aku?"

Wajah Angga semakin mengeras. Aku bahkan gak tahu harus membalas pertanyaan retorisnya itu atau harus tetap diam saja seperti yang tidak biasanya aku lakukan?

Namun detik kelima setelah aku menghitung mundur, Angga benar-benar meninggalkanku sendiri.

Tidak, maksudku tidak benar-benar sendiri. Ada dua belas alasan yang kusimpan dalam diam selama lima bulan terakhir. Dan alasan pertama mungkin adalah kenapa pada pukul lima sore ini Angga lah yang pertama kali pergi dari lingkaran yang kami buat.

Ngga, aku gak tahu gimana caranya untuk suka sama kamu.

Meet Me After FiveStories to obsess over. Discover now