Satu

1.4K 42 0
                                        

Agustus, 2015.

"Well, setidaknya ini tidak begitu buruk."

Viola Diane membuang napasnya sesaat setelah ia meletakkan kardus terakhirnya di atas kasur. Studio apartemennya memang tidak begitu besar, tetapi rasanya memberikan kesan nyaman untuk Viola. Lagi pula ia bukanlah tipe gadis yang suka memiliki sesuatu secara berlebihan. Bisa mendapatkan beasiswa penuh untuk sekolah di Harvard Business School, Amerika Serikat, saja sudah sangat membahagiakan untuknya.

Oh, Tuhan. Ia tidak akan pernah lupa perasaannya saat melihat hasil beasiswa dan melihat namanya tertera disitu. Viola tidak pernah merasa seberuntung itu selain setelah ia bisa dilahirkan di keluarga yang sempurna.

Sayangnya ia harus meninggalkan orangtuanya untuk bisa berdiri di studio apartemen ini, dan kali ini Viola tidak akan segan untuk belajar lebih serius dari pada saat ia masih berada di Indonesia. Disini saingannya jauh lebih pintar ketimbang dirinya. Sebenarnya Viola tahu kalau penduduk Amerika sering beranggapan bahwa penduduk Asia selalu lebih pintar, tetapi Viola merasa dirinya adalah pengecualian. Karena ia tentu saja akan bersaing dengan orang pintar dari Amerika dan terlebih dari Jepang juga Cina.

Ia kembali menghela napas, lalu pandangannya tertarik untuk melihat keluar jendela. Cahaya matahari yang bersinar terang menembus kaca jendelanya membuat ujung bibir Viola terangkat. Ia membuka jendelanya dan memperhatikan pemandangan kota Boston. Pemandangan terbaik yang pernah ia lihat sejak ia menginjakkan kakinya di Boston, Massachusetts, Amerika Serikat.

"Kalau saja mereka memutuskan untuk mengambil S2 di Amerika, kurasa mereka akan suka pemandangan ini," gumam Viola tersenyum mengingat tiga sahabat terdekatnya.

Sahabat terbaik yang pernah ia miliki, keluarganya. Viola memutar badannya menghadap ruangan studio. Ia tersenyum menatap lampu kamar. Keberhasilan ini tidak pernah bisa terbesit di kepalanya. Ia dapat menerima beasiswa penuh dari Harvard Business School. Mimpi apa ia semalam.

Dan sebelum kembali berbahagia Viola teringat dengan salah satu dari tiga sahabatnya. Adam. Adam tidak menerima beasiswa S2 di Australia. Sedih, memang. Tetapi tidak ada yang bisa dilakukan Viola, terutama setelah ia sendiri mendapat pengakuan untuk diterima berkuliah di Harvard.

"Lupakan,Viola," ujarnya menggeleng. "Itu bukan salahmu, dan cepatlah rapikan kamar ini!"

~

"Tenanglah." Viola menarik napas panjang. "Tenanglah, tenanglah."

Tangannya menggenggam tas yang tergantung di pundaknya dengan erat, mungkin bahkan terlalu erat. Sedang tangan lainnya meremas jadwal kelasnya. Viola tidak pernah segugup ini saat pertama kali memasuki kuliah. Namun, demi Tuhan, kuliahnya kali ini seratus persen berbeda dengan kuliahnya yang dulu. Dan sekarang ia bisa merasakan keringatnya menetes membasahi pelipisnya.

Siang ini langit kota Boston memang bersinar terang, tetapi tidak terlalu panas. Sedikit sejuk. Sayangnya kondisi badan Viola tidak bisa berargumen lebih baik dengan cuaca hari ini. Kakinya berjalan menyusuri taman kampus, ia menggigit bibirnya berpura-pura membaca kertas yang sudah terlihat rusak di tangannya. Ia tidak ingin memperhatikan orang-orang yang berjalan melintasinya. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk mencari teman baru. Sangat bukan waktu yang tepat.

Ponsel!

Viola mengangkat alisnya. Tidak ada hal terbaik di dunia ini selain ponsel untuk menghilangkan kesendirian seseorang. Ia tersenyum dan menghentikan langkah kakinya sesaat, merogoh mencari ponsel di dalam tas hitamnya.

Retrouvailles [Completed]Where stories live. Discover now