1.dia kembali

1.5K 120 35
                                        

Pandangan nya jatuh pada seseorang disana, tampaknya familiar dengan punggung itu. Pandangan mata nya tak lepas dari punggung itu hingga akhir nya punggung itu menghilang di tutupi oleh kendaraan kendaraan lain.

Dinda masih saja menatap apapun yang ada di depan mata nya. Melamun tentu saja. Sampai suara cempreng dan melengking memecah lamunan nya.

"Woi Din... "

"Dinda, lo mau sampai kapan disini? Lo mau jadi patung penjaga sekolah? " suara cempreng Indah memecah lamunan Dinda. dia tidak ingin dijadikan patung penjaga sekolah. Dia memang sudah berdiri mematung di depan gerbang sejak tadi.

"Kenapa lo? " tanya Indah lagi.

"Gue? Apa? Siapa? Kenapa? " tanya Dinda linglung setelah tersadar dari lamunan nya akibat pukulan pelan oleh Indah.

"Halah, goblok!" sungut Indah. Dengan kesal dia menarik tangan Dinda untuk menyebrang. Memasuki sebuah cafe yang ada di depan sekolah nya itu. Menarik nya masuk melewati beberapa bangku hingga terduduk di bangku yang masih kosong di sana.

Indah beranjak dari hadapan Dinda dengan alasan ingin memesan minum untuk menyadarkan Dinda.

Masih dengan muka nya yang bingung Dinda meletakan tas nya. Dia kemudian menatap lurus ke depan.

"Ngapain lo? " tanya Indah saat melihat Dinda seperti itu setelah dia meletakkan tas sekolah nya yang tadi tersampir di pundak nya.

"Hah? Iya ya gue ngapain!!! " Dinda menggerjap pelan sambil menggerutu.

Seorang pelayan cafe menghampiri mereka dan memberi dua minuman yang sama yaitu jus jeruk.

"Gue tau lo butuh yang segar segar," ucap Indah sambil memajukan gelas jus jeruk itu kehadapan Dinda. Dinda hanya melihat itu dengan tatapan kosong.

"Sana cuci muka atau gue yang nyuciin!" Indah mengangkat gelas jus jeruk nya tepat di hadapan Dinda dengan tatapan gemas. Yang di tatap hanya mengangguk paham sebelum akhir nya kembali dari toilet dengan wajah yang segar.

"Lo kenapa sih? " kata Indah setelah Dinda duduk manis di hadapan nya. Yang di tanya hanya mengangkat kedua bahu nya pelan. Dengan gemas Indah mencubit kedua pipi sahabat nya itu.

"Iya iyaa.... Ad.. Duh. Duuhh... Lep.. Assin duluu laahh!" ucap Dinda terbata bata sambil mengusap usap pipi nya yang memerah akibat ulah Indah yang ada di depan nya.

"Jadi gini-" Dinda sengaja menggantungkan ucapannya dan mati matian menahan tawa melihat ekspresi penasaran dari wajah Indah.

"Apaan ih?"

"Gue punya pacar," suara Dinda yang nyaris terdengar berbisik tidak membuat Indah ikut juga memelankan suara nya.

"Apa! Sahabat gue yang anti sama cowok, yang paling tidak suka sama yang nama nya pacaran, yang kata nya jomblo sampe kawin, akhir nya punya pacar?" masih dengan suara keras Indah mengatakan itu. Bahkan dia tidak perduli dengan pengunjung lain yang melihat nya seperti orang gila bercerocos ria.

Dinda mengangguk kan kepala nya yakin.
Akhir nya tawa nya pecah menggelegar dimeja mereka. Sama seperti Indah yang menjadi pusat perhatian membuat Dinda sama sekali tidak peduli sedangkan Indah sudah memandang nya dengan bingung.

"Kenapa lo?" tanya nya setelah tawa Dinda mereda.

"Percaya?" ucap Dinda dengan wajah memerah karena tawanya tadi. Muka nya menahan senyum melihat ekspresi Indah tadi.

"Jadi gak benar?"

"Nggak hehe,"

"Sial!"

"Kenapa sih?" Tanya Indah lagi.

"Dia kayak nya kembali" satu kalimat yang di ucapkan Dinda mampu membuatnya terdiam. Speechless. Tak mampu lagi berkata kata.

"Siapa hayo?" ucap Dinda jahil

"Fahmi?" tebak Indah

"Iya, kayak nya tadi gue ngeliat dia," ucap Dinda serius.

"Segitu ngaruh nya ya? Sampai sampai Lo bingung?"

Dinda hanya mengangguk sedih.

***

Dinda merebahkan badan ke kasur yang empuk itu. Dinda menatap langit langit kamarnya yang berwarna biru. Dinda lelah, lelah dalam pikirannya, tidak mengerti mengapa ia gelisah seperti sekarang. Terdengar ketukan dari pintunya.

"Din gak makan dulu?"begitulah terdengar dari balik pintu kamarnya, suara wanita tua yang sejak kecil merawat dirinya. Dinda sudah menganggap itu seperti ibunya sendiri. Dinda jarang makan saat sore, takut gemuk.

"Iya bi, bentar Dinda mau mandi dulu"teriak Dinda dari kamarnya lalu terdengar suara langkah menjauh. Dinda mengambil handuk lalu bergegas ke kamar mandi.

Setelah 15 menit Dinda keluar dari kamar mandi dengan wajah yang segar lalu berjalan ke balkon kamarnya yang menghadap rumah disamping itu.

Balkon yang indah menurutnya dengan 2 kursi santai dan 1 meja yang membuatnya nyaman ketika melihat langsung bintang bintang. Dindingnya pun tak kalah indah dengan doodleart yang bertuliskan dont give up ditengahnya. Tak lupa pula dikelilingi dengan lampu tumblr.

Disinilah dia sedang menenangkan pikirannya. Menatap bintang bintang kadang pun menatap rumah yang telah kosong 3 tahun yang lalu itu.

Rumah itu adalah rumah sahabatnya. Rumah yang menjadi moodbosternya ketika dia kesepian. Itu rumah Fahmi. Fahmi Alfino Mahendra yang sudah menghilang tanpa jejak.

Itulah yang menjadi pikiran Dinda dari tadi. Ia menatap nanar rumah itu. Dinda berpikir dan banyak lagi pertanyaan pertanyaan dibenaknya.

Fahmi adalah cinta pertamanya, walau sering disebut cinta monyet jika masih sekolah menengah pertama. Fahmi menghilang pada saat kelas 1 smp.Dinda yang masih kecil tidak mengerti harus berbuat apa. Dia membiarkan waktu berjalan saja.

Setelah itu dia mengambil buku yang Ada dibawah meja itu. Buku yang sehari hari dia gunakan untuk tempat berkeluh kesah nya.

Dinda mencoret-coret.

3 tahun, 36 bulan, 144 minggu, 1.080 hari, 64800 menit dengan detik yang aku lupakan.

Tepat saat Aku menulis ini disaat itu lah aku merindukan diri mu

Dinda menatap senja dengan pandangan sendunya. Selesai senja ia masuk ke kamar nya lalu melaksanakan ibadahnya.

Selesai ibadah ia lalu melihat ponselnya yang berdering, notif dari LINE.

Indahcans23:din

Dinda yang malas mengetik- bahkan mengetik satu huruf saja- menekan icon telepon yang ada di fitur LINE nya. Dinda menggunakan videocall yang terletak di atas layar.

"Halo dindaaa,"suara indah terdengar di sebrang sana lulu Dinda dapat melihat wajah indah di layar ponsel.

"Apa?"

"Eh tadi katanya ada anak baru kelas sebelah, namanya Fahmi, kebetulan banget apa gimana sih?"

"Au ah gue mau tidur,"

Pip

Dinda mematikan telepon nya.Dinda pun beranjak ke tempat tidur nya lalu menyelimuti dirinya dengan selimut.

Kemudian terlelap.

***
Vote dulu kali

Best Friend Zone✅✅Stories to obsess over. Discover now