Part 1

5 1 0
                                        

Seperti biasa, siang ini Vranda telah tiba di kampusnya untuk mengikuti kuliahnya.

Cuek dan penyendiri. Sifat itulah yang membuat Vranda tidak memiliki banyak teman. Kecuali Ferdi, sahabatnya yang masih setia menemaninya sejak ia kecil.

"Ra, lo dimana sih? Ini dosen udah masuk tapi lo belum dateng juga." tanya Ferdi saat Vranda mengangkat telponnya.

"Santai kali ,Di. Gue laper nih masih di kantin." jawab Vranda santai sambil memakan baksonya.

"Lo gila ya? Sekarang ini mata kuliah Prof. Eko. Lo mau disuruh ngeresume buku sakti dia yang tebelnya udah kek dosa lo?." Mendengar nama Prof. Eko, dosen paling ditakuti di kampusnya itu membuat Vranda pun langsung berlari menuju kelasnya.

Dengan napas yang masih tersenggal-senggal, Vranda membuka pintu dan membuat perhatian seluruh orang yang ada di ruangan tersebut tertuju kepadanya. Termasuk Prof. Eko.

"Maaf Prof, tadi ada masalah darurat yang harus saya selesaikan dulu di toilet, jadi telat deh." ucap Vranda beralasan sambil menunjukkan senyum terlebarnya, berharap Prof. Eko mau memakluminya.

"Duduk." jawab Prof. Eko singkat. Dan Vranda pun langsung menuju bangku kosong di samping Ferdi.

"Di, kenapa lo gak kasih tau gue dari awal sih kalo sekarang itu mata kuliah dia? Untung gue masih selamat." gerutu Vranda kesal

"Lonya aja yang terlalu cuek, Ra. Sampe-sampe jadwal kuliah sendiri aja gak hafal."

Ya, Rara dan Didi adalah nama kecil Vranda dan Ferdi. Mereka sudah berteman sejak kecil, karena kedua orang tua mereka yang juga merupakan sahabat karib. Dan juga rumah mereka yang berdekatan.
Maka dari itu hanya Ferdi teman satu-satunya yang Vranda punya. Sikap cuek Vranda yang terkesan tidak perduli kepada sekelilingnya membuatnya tidak memiliki teman. Dan juga sikap penyendirinya yang membuat orang-orang takut untuk sekedar berurusan dengannya.

"Ra, temenin gue cari buku dong." pinta Ferdi setelah kelas selesai.

"Ogah ah, gue mau nongkrong di tempat biasa." jawab Vranda malas.

"Ayolah, Ra. Temenin gue ya? Ya?." bujuk Ferdi.

"Enggak mau Didi, udah deh gausah manja. Tinggal cari buku sendiri juga bisa." jawab Vranda lalu pergi meninggalkan Ferdi.

"Mau sampe kapan sih Ra lo cuek gitu terus? Sama gue pun lo tetep aja cuek. Bahkan pertemanan kita selama belasan tahun ini masih belum cukup buat ngurangin sedikit sikap cuek lo itu ke gue, Ra."

•••

Dan disinilah Vranda, di salah satu kedai kopi ternama yang merupakan tempat favoritnya untuk sekedar menghabiskan waktu sambil meminum minuman kesukaanya.

"Siang Kak Vranda." sapa seorang barista yang sudah kenal dengan pelanggan setianya yang datang hampir setiap hari.

"Eh, siang kak Meli. Yang kaya biasa ya, Kak."

"Oke, satu caramel frappuccino ukuran besar dan satu cheese cake ya, Kak." ucap seorang barista itu memastikan pesanannya benar. Dan Vranda pun mengangguk.

Tak lama kemudian, pesanannya selesai dan Vranda pun menuju tempat yang biasa ia duduki. Namun tiba-tiba ia mengerutkan keningnya melihat seseorang menduduki tempatnya. Kenapa orang itu duduk disana? Padahal kan masih banyak tempat kosong yang lain. Dan bangkunya itu juga tidak mudah dijangkau oleh penglihatan karena tempatnya yang berada dipojok ruangan dan tertutup pembatas kayu.

"Permisi, tapi ini tempat saya. Mungkin anda bisa mencari tempat kosong yang lain." jelas Vranda sambil meletakkan pesanannya diatas meja.

Pria itu pun, menatap Vranda dengan salah satu alisnya terangkat. "Bukannya harusnya elo yang cari bangku kosong yang lain? Jelas-jelas gue duluan yang duduk disini." jawab pria itu.

"Tapi gue udah biasa tiap hari duduk disini. Dan lo udah ngambil tempat gue." ujar Vranda kesal

"Tapi hari ini lo kalah cepet sama gue."

"Oke kalo gitu kita liat siapa yang bakal bertahan di bangku ini." tantang Vranda lalu duduk di hadapan pria itu.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Apr 15, 2018 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

My Coffee MateStories to obsess over. Discover now