Prolog

12 4 2
                                        

Seorang pemuda berperawakan tinggi berjalan santai menghampiri sosok gadis yang tengah sibuk membaca novelnya. Pemuda tampan tersebut mengambil duduk di samping gadis tersebut dan mulai menyapanya.

"Hei, Bin!" Sapa pemuda tersebut membuat gadis bernama Bintang yang duduk disampinya langsung menoleh, "Eh, hei juga, Aldo!"

Setelah membalas sapaan Aldo, Bintang kembali fokus membaca novelnya. Aldo tersenyum kikuk, agak bingung harus bersikap bagaimana lagi.

"Udah makan, Bin?" Pada akhirnya pertanyaan itu lah yang meluncur dari mulut Aldo.

"Udah," Jawab Bintang singkat.

"Oh, bagus deh. Jangan telat makan ya, Bin. Setau gue lo punya maag, ya? Lo harus jaga pola makan lo, biar gak kambuh. Pokoknya jangan sampe telat makan, Bin. Gue khawatir lo kenapa-napa, gue nggak mau lo sakit." Ucap Aldo begitu peduli pada Bintang.

Namun siapa sangka Bintang malah tertawa terbahak-bahak mendengar kepedulian seorang Aldo. Gadis itu menghentikan tawanya sejenak kemudian membalas perkataan Aldo, "Yaampun, Do. Lo ngomong kayak begitu udah mirip kek emak-emak dah. Bawel-bawel gimana gitu," Bintang kembali tertawa.

Aldo hanya tersenyum kikuk, bingung dengan reaksi Bintang. Jika saja gadis lain yang dia perlakukan seperti itu, pasti gadis tersebut sudah pingsan di tempat. Siapa yang tidak akan meleleh jika begitu di perhatikan oleh cowok most wanted satu sekolah? Tapi Bintang tidak begitu, dan tentu hal itu membuat Aldo heran.

Bintang memperhatikan wajah Aldo yang kebingungan. Gadis itu semakin puas tertawa, "Anjir, Do! Muka lu kocak!"

Aldo semakin tercengang.

Seorang gadis yang sejak tadi diam-diam memperhatikan keduanya, menepuk jidatnya sendiri. Gadis tersebut menghela napas pasrah, "Lo kapan bisa peka sih, Bibin?! Ya Allah, lelah hamba melihat sahabat hamba yang begitu tidak peka.." Gumamnya pada dirinya sendiri. Indira, gadis yang merupakan salah satu sahabat Bintang itu, kembali menghela napas pasrah.

PEKATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang