Sudah seminggu aku didalam kamar ini, Kamar yang menurutku sudah seperti penjara
Seringkali aku mencoba untuk keluar dari ruangan ini, tapi hasil yang kudapat selalu nihil.
Aku sudah melakukan banyak cara, mulai dari berteriak hingga suaraku habis, mendobrak pintu, sampai aku berfikir harus memutuskan hidupku disini
Tapi sesaat lalu lelaki itu datang karena tau niatku, dia memborgolku diatas kasur dengan kedua tanganku yang dirantai ditiang kasur maupun kedua kakiku juga dan sekarang aku tidak dapat bergerak sesuai keinginanku lagi
Pintu itu terbuka dan menampakkan wajah lelaki sialan itu yang sudah merantaiku disini
"hai" ucapnya santai yang membuatku ingin membunuhnya, aku tidak menggubris ucapannya
Seharusnya memang lelaki itu kubunuh saja dari pertemuanku dengannya
"kubawakan makanan untukmu" ucapnya lagi, aku melengoskan kepalaku kekiri hingga aku tidak dapat melihatnya
"jangan begitu, aku tau kau sangat lapar" ucapnya dengan nada hangat padaku, seperti waktu pertama kali aku bertemu dengannya
"kenapa tidak langsung saja kau bunuh aku? Atau menyiksaku perlahan dengan tidak memberiku makan atau minum" ucapku dengan nada kesal
"menyiksa seseorang perlahan itu lebih menyenangkan dengan kondisi mangsa yang baik, aku lebih suka menyiksamu dengan membelenggumu, hingga kau tidak lari dariku" ucapnya sambil membuka borgol dari kakiku dan mendudukkanku
Aku mendudukkan badanku sesuai keinginannya aku bertanya-tanya kenapa pemuda ini seperti ini terkadang baik dan terkadang menjadi sangat jahat
"aku ingin bertanya" ucapku masih menghadap kearah berlawanan darinya
"ya, tanyakanlah" ucapnya sambil mengambil sesendok nasi dan bersiap akan menyendokkannya padaku
"kenapa kau membelengguku seperti ini? Kenapa kau mengurungku didalam ruangan ini? Kenapa kau melakukan semua ini? Apa salahku? Memang aku penjahat tapi aku merasa tidak pernah melakukan kejahatan padamu!" dengan memberinya banyak pertanyaan
"hmm"
Aku masih menunggu jawabannya, aku tau dia pasti punya alasan... Dia menyuapi aku tanpa berkata apa-apa. Aku menunggu jawabannya tapi dia tidak sedikitpun mengeluarkan satu kata
"aku bertanya.. " ucapku kesal
"ya aku tau, bagaimana aku harus menjawabnya?" ucapnya masih menyuapiku
"jawab bertanyaanku satu persatu, kenapa kau membelengguku seperti ini?"
"karena aku tidak mau kau lari dan mendobrak pintu itu aku seringkali memperbaikinya setiap kali kau mendobraknya" ucapnya santai masih dengan menyuapiku
"kenapa kau mengurungku?"
"jawabannya sama aku tidak mau kau pergi"
"kenapa? Apa salahku?" ucapku geram
"aku menyukaimu karena itu aku tidak ingin kau pergi" ucapnya santai dan menaruh piring yang sudah bersih itu dimeja nakas
"kalau kau menyu"
"kurasa kau tau bagaimana seorang psikopat sepertiku kalau sedang menyukai seseorang" ucapnya memotong perkataanku tadi
"aku tau kau selalu membunuh orang diam-diam dan juga aku tau kau juga seorang psikopat" ucapnya sambil tersenyum padaku
"jika kau seorang psikopat sesungguhnya, tidakkah kau akan membunuh seseorang yang kau sukai? Dengan cara membedah semua isi dalam tubuhnya? Aku melakukan cara itu jika aku menyukai sesuatu" ucapku santai
aku tidak merasa takut jika saat ini dia akan membunuhku perlahan, jika dia akan memotong jari-jariku, mencongkel kedua bola mataku, memotong lidahku mengeluarkan ususku dari perutku memotong kakiku, mempercantik wajahku dengan pisau yang dia punya. Aku tidak masalah tapi tidak dengan siksaan seperti ini, aku benci menunggu, orang disekitarku selalu membuatku menunggu dan mereka tidak kunjung kembali
"hoo, kurasa itu benar, bukankah kau yang berniat melakukan itu padaku? Saat kita bertemu diperpustakaan tempo lalu?" tanyanya padaku yang menghilangkan jarak antara aku dan dirinya
"ya itu benar, awalnya aku merasa tertarik padamu, tapi sekarang tidak.. Sepertinya aku yang disini jadi mangsanya" ucapku sambil tertawa getir
"tidak juga, aku melakukan semua ini karna aku tau kau seorang yang tidak bisa menggunakan kata-kata, seperti yang aku katakan padamu aku menyukaimu, bukan artian sama sepertimu... Aku menyukaimu dari hatiku"
Dia diam sesaat, aku masih menunggu lanjuta kalimatnya
"aku juga sama sepertimu, seorang anak brokenhome, aku yang membunuh kedua orang tuaku dengan tanganku sendiri, hidupku sedari kecil juga sudah dilimpahi darah dan aku tidak merasa takut malah aku menyukainya"
Aku masih menyimak ceritanya tanpa ingin memotong omongannya
"dan saat terakhir kali aku melihatmu sedang dibawa seorang pria dewasa kesuatu lorong kecil aku hanya melihatnya saja, aku tidak perduli dengan nasibmu yang akan bagaimana jadinya... Tapi saat aku melihat kau membunuhnya dengan cara yang sadis aku rasa aku mempunyai teman yang memiliki hobi yang sama... Dari situ aku sering mengikutimu, setiap kali aku ingin mengajak ngobrol denganmu ada saja yang mendekatimu dan aku tau orang yang mendekatimu akan mati begitu saja..."
"bukan karna aku takut tapi itu yang membuatku jadi menyukaimu, tiba saatnya aku putus asa dan sepertinya kau juga putus asa kita mencari buku yang sama bukan? Yaitu mengusir rasa haus membunuh"
"bagaimana kau membawaku kesini?" tanyaku lagi
"gampang aku memberikan sedikit suntikan yang tidak akan membuatmu terasa bahwa kau sedang disuntik dan itu membuatmu pingsan dan jadilah kau disini" ucapnya tersenyum padaku
"hmm"
"bisakah kau lepaskan borgol ditanganku? Tanganku sakit dan ini membuatku susah untuk bergerak, aku janji tidak akan melakukan hal konyol" ucapku padanya
"tidak, maafkanlah aku belum bisa percaya padamu, risa" ucapnya sambil tersenyum yang menurutku senyumnya yang kali ini sangat menakutkan
"tidak bisakah, kau lepas sebentar dan setelahnya kau bisa memborgolku lagi" rengekku padanya
Aku sudah tidak berniat untuk kabur lagi, toh aku sudah tidak mempunyai tempat tinggal lagi dan ada reihan yang ingin menampungku
"hmm"
"aku tidak berniat untuk pergi lagi, aku sudah lelah... Tidak akan ada yang mencariku, tidak bisa kau percaya untuk kali ini?" ucapku yang sudah sangat memelas
Ini sangat menyakitkan diborgol kurang lebih dari 2 bulan dan baru sekarang reihan berbicara panjang padaku
"baiklah" ucapnya yang sepertinya sudah sedikit percaya padaku
Dibukanya borgol itu dan kedua tanganku yang sudah memerah, dia ambilnya kedua tanganku dan dia mengelus-elus tanganku yang memerah itu
"terima kasih reihan" ucapku tulus
Memang tidak sesuai dengan sifatku yang biasanya selalu datar dan membunuh siapapun yang ada didepanku tetapi sepertinya reihan berbeda, dia sama seperti
Seorang PSIKOPAT.
CZYTASZ
i'am PSIKOPAT (Long Story)
Tajemnica / ThrillerKesepian Diruangan kecil ini Ditempat yang gelap ini Aku sendiri Tanpa ada yang tau Akan keberadaanku Akan diriku yang terkurung diruang gelap ini Aku hanya bisa melihat dari cahaya-cahaya yang masuk kedalam jendela yang tidak bisa terbuka itu A...
