Prolog

71 6 0
                                        

Malam yg tenang. Ditengah-tengah suasana ramainya kota. Aku keluar dari bar dimana aku melakukan kerja paruh waktu diam-diam.

Lalu kutengok kira dan kanan untuk memastikan tidak ada yg mengenalku.

Kota ini adalah kota yg indah. Penduduknya ramah, dan ramai. Aku bekerja paruh waktu bukan karena orang tuaku tidak dapat membiayaiku, tapi karena aku tidak ada kegiatan jadinya aku melakukan ini untuk menghabiskan waktu.

Namaku Sedo Kaito. Umurku 17 Tahun. Aku adalah laki-laki pada umumnya. Tinggiku sekitar 172 cm, lumayan tinggi dan beratku rata-rata. Aku memiliki rambut biru gelap . Mataku berwarna hitam. Serta wajahku.. ya sedang-sedang saja.

Ditengah-tengah perjalanan untuk pulang kerumah. Aku melihat seseorang yg begitu aku kenal. Sebuah sosok yg paling diidolakan di sekolahku. Dia berjalan di sisi lain jalan jadi kami tidak berpapasan.

Dia tidak melihatku jadi aman.

Ngomong-ngomong. Dia adalah Asami Mikoto, seorang gadis yg seumuran denganku. Rambut panjang melebihi bahu dengan warna rambut merah ketuaan, seperti warna apel. Dengan tinggi 165 cm dan berat yg tidak diketahui. Dia berpakaian berwarna putih yg dilapisi sebuah Almamater berwarna hitam dengan garis biru gelap, serta sebuah rok dengan panjang sepaha. Itu adalah seragam khas SMA Cuba.

Ini adalah Kota Cuba. Suatu kota yg berada di suatu pulau Kepulauan Jepang. Dan kami merupakan seorang siswa dari Zaman Modern ini.

Walau aku adalah teman sekelasnya, mana mungkin ia mengenalku. Kami berada di level yg berbeda. Dengan berpikiran seperti itu. Aku meninggalkannya yg berjalan berlawanan arah denganku.

"Hey... hey... gadis.. manis."

"Mau main sama abang nggak.."

Tiba-tiba langkahku terhenti mendengar suara kasar dari belakangku. Lalu kutengokkan kepalaku kebelakang.

Asami terlihat kesusahan karena karena dikepung oleh tiga orang berandalan yg tidak tau diri. Mencoba menggodanya tanpa tau siapa dia itu sangat tak bisa dimaafkan.

Lalu Asami diseret kesuatu tempat. Aku mengikuti mereka dari belakang dan menjaga jarak agar tidak ketahuan.

Dijalan bawah tanah. Di sebuah pojok jalanan yg sepi. Asami sepertinya sedang didesak oleh mereka bertiga.

Namun anehnya si Asami bahkan tidak menunjukkan ekspresi ketakutan atau semacamnya. Dia malah menyilangkan kedua tangannya didepan dadanya dan nampak begitu sombong.

Tentu saja mereka bertiga kelihatan begitu kesal akan tindakan Asami.

Aku akan mencoba menghentikan mereka. Lalu kulangkahkan kakiku menuju kearah mereka.

"Hey kalian hent...."

"Crack.... Crack...."

Sebuah suara yg memecah angin, merobek udara menggema disekitar. Bahkab mereka bertiga pun terkejut akan suara itu. Kuperhatikan baik-baik.

Dibelakang mereka muncul bundaran aneh yg berputar seakan ingin menarik mereka.

"Tidak !!!!"

Mereka ditarik kedalam lubang itu. Kupercepat langkahku. Setidaknya aku akan menyelamatkan Asami.

Dia malah melihatku dengan ekspresi yg tidak bisa dijelaskan dan memilih untuk masuk kedalam lubang itu sebelum sempat aku hentikan.

Sekarang ini yg didepan mataku sebuah bundaran perlahan merubah bentuknya menjadi sebuah pintu tidak, lebih tepatnya sebuah gerbang yg dikelilingi aura hitam yg dimana gerbangnya memiliki sebuah pola-pola aneh.

The ConquerorWhere stories live. Discover now