Semua yang dilakuin keluarga gue udah gila. Gimana gak gila kalau anak gadis mereka udah diserahin sepenuhnya ke orang yang baru aja gue kenal.
Dan gue gak bisa menolak saat gue harus tinggal di apartemennya om Daniel. Kenapa gue manggilnya om Daniel? Karena dia bener-bener mencerminkan laki-laki dewasa banget.
Gue hanya bisa diam saat om Daniel mulai membawa gue ke apartemennya. Gak ada yang kita bicarakan saat ini. Yup, gue ada di mobil om Daniel sekarang. Kita lagi perjalanan menuju apartemen om Daniel.
Gue menarik nafas sebelum melihat ke arah samping dan ingin membahas sesuatu dengannya. Gue gak boleh terus-terusan diam dan hanya bisa menerima. Bisa habis gue!
"Om emmm permisi tapi aku mau mastiin dan tanya sesuatu." Kata gue pelan tapi membuat om Daniel yang dari tadi fokus menyetir langsung menoleh kearah gue dengan tatapan bertanya.
"Om? Kamu manggil saya om?" Tanya om Daniel membuat gue mengerjapkan mata karena kikuk dengan pertanyaannya. Apa gue salah manggil dia om?
"Iy..iya, salah ya om?"
Dengan cepat om Daniel menggeleng dan tersenyum kecil, "Gak kok, panggil saya sesuka kamu."
Gue menghela nafas lega saat om Daniel bisa gue ajak omong. Gue kira dia itu cuek atau apalah itu. Tau-taunya dia cukup terbuka dengan orang baru seperti gue.
"Om aku mau tanya nih. Kenapa om setuju-setuju aja sih sama perjodohan ini? Emm gini om masalahnya itu aku masih SMA, dan om udah kerja. Umur kita terpaut jauh banget."
Gue melampiaskan semua pertanyaan gue yang dari tadi gue pendem ke om Daniel. Bisa dirasakan betapa canggungnya gue bicara sama dia. Jujur, gue agak sedikit takut sama om Daniel.
"Saya terima karena saya mengikuti permintaan orang tua saya. Saya tidak bisa membantah mereka. Dan habis ini kan kamu lulus, masalah umur pun itu tidaklah penting buat saya. Yang terpenting kamu bisa menjadi calon istri yang baik untuk saya nanti. Saya percaya sama kamu."
Gue terdiam cukup lama. Gue gak bisa lagi bales perkataannya. Karena dia itu ngomongnya bijak banget ke gue. Mana lagi gue gak bisa tahan saat om Daniel sudah mengelus rambut gue dengan pelan.
"Saya tau ini sulit buat kamu. Tapi kita coba jalanin dulu aja ya."
Satu yang gue dapet dari pembicaraan ini. Om Daniel, dia beneran serius mau nikahin gue. Tapi jujur, gue masih ada niatan buat batalin perjodohan ini. Karena gue masih belum yakin sama dia.
---
"Saya minta maaf banget sama kamu. Di apartemen saya cuman ada satu kamar. Dan yah orang tua kita udah ngerancanain semua ini, agar kita bisa saling mengenal satu sama lain."
Gue hanya bisa memijat pelipis gue. Mengenal satu sama lain gimana sih! Ini ceritanya gue harus tidur seranjang sama om Daniel gitu?
Gila gak sih mama sama papa gue. Mereka gak tau apa kalau cowok sama cewek berduaan apalagi seranjang bisa menimbulkan suatu kesalahan besar.
"Tenang saya gak bakalan ngapa-ngapain kamu sebelum waktunya. Saya sudah menahannya sejak saya menerima perjodohan ini."
What the hell!
Maksud dia menahan itu apa coba. Gue gak paham gitu loh sama pemikiran om Daniel. Kenapa bisa dia gak ada masalah dengan rencana ini.
"Om aduh gini ya, kita itu barusan aja ketemu. Aku juga baru tau om sekarang itu gimana. Apa gak salah om kita harus nurutin kedua orang tua kita? Ini tetep aja salah om."
Kata gue dengan sedikit kesal tetapi kejadian selanjutnya mampu membuat gue bungkam. Karena om Daniel sudah memegang kedua bahu gue dan mendekatkan dirinya ke gue.
"Saya tau ini salah. Tapi saya pikir cara seperti ini bagus juga buat pendekatan kita. Saya janji gak bakalan ngapa-ngapain kamu." Kata om Daniel tapi tangannya sudah mengelus pipi gue.
Ini yang dibilang gak ngapa-ngapain? Baru aja ketemu udah ngelus-ngelus pipi. Gimana kalau--arghh udah ah capek gue sama om satu ini.
✨✨✨
YOU ARE READING
[1] Possessive Husband | Kang Daniel✔️
FanfictionA man who owns my heart, body, and soul. ..... Gimana rasanya kalau dijodohin sama om-om posesif tukang maksa?
![[1] Possessive Husband | Kang Daniel✔️](https://img.wattpad.com/cover/144820909-64-k573464.jpg)