Flashback on
Author POV
"Givaaaaaaaa.. " teriak Geo.
"Uhuk..uhuk... ", batuk Giva.
Dengan tergesa Geo menghampiri dan meletakan kepala Giva dipangkuannya. Jemari Giva bergerak menyentuh wajah Geo.
"Ja. ..ngan... uhuk.. na... ngis.. uhuk huk. ", ucap Giva terbata karena darah terus keluar dari mulut dan kepalanya seraya mengusap aliran kecil dipipi Geo.
"Please, don't cry", lirih Giva.
Lambat laun Giva semakin banyak mengeluarkan darah dari kepala dan mulutnya.
"Aku harus membawamu segera ", ucap Geo
Saat hendak beranjak dan menggendong Giva, Giva mengucapkan...
"No, please stay here... ", lirihnya.
"huk.. uhuk.... "
Hingga mata Giva memejam dan tangannya mulai melemah. Kini kesadaran mulai hilang perlahan dan gelap kian menghampiri.
"Giva, wake up please, Giv.. "
Teriak Geo dengan menguncang tubuh Giva, air mata tak bisa ditahan hingga mengalir membuat sungai kecil, lagi.
Amarahnya semakin mendidih, lantaran orang yang ingin melenyapkan kekasihnya tidak mau minta maaf, dia malah tersenyum penuh kemenangan. Sungguh Geo sangat membencinya.
"Kau... Aku membencimu ", ucap Geo pada perempuan cantik dan berkulit putih dan berambut sebahu warna coklat disebrang sana.
"Kau tak boleh membenciku Geooo, aku sangat mencintaimu, dulu hingga sekarang. Dan kini aku tak akan lagi mempunyai saingan yang berat. Hahahhahaha... ", jawab wanita cantik tersebut dan meninggalkan tempat kejadian dengan seringai liciknya.
Please bertahan Giv, batin Geo.
Tanpa membuang waktu, Geo segera ia menelfon ambulance dan keluarga Giva.
"Shit.. " , makinya lantaran ia tidak memiliki pulsa untuk menelfon ambuance dan keluarga Giva.
Geo pun bangkit dari duduknya dan membopong Giva berjalan menyusururi jalanan menuju rumah sakit terdekat.
***
Beberapa menit kemudian....
"Dokter, suster, tolong kami... ", teriak Geo untuk kesekian kalinya.
Dengan bantuan para suster, Giva segara dibawa ke IGD (Instalasi Gawat Darurat)
Geo kemudian berlari keluar untuk mencari telepon umum.
"Ha--halo, tante" , sapanya
"Halo, iya? Siapa?, jawab dari seberang.
"Ini Geo tante"
"Ya Geo? Ada apa? Oh ya Giva lagi sama kamu kan? Daritadi ponselnya tidak dapat dihubungi."
Aku harus jawab apa?, batin Geo.
"Tante.... Giva.. ", Geo menggantungkan kalimatnya. Dia takut.
" Giva kenapa? Dia lagi sama kamu kan? Dia baik-baik kan? Halo Geo, Geo kamu dengar saya kan? ", tanya tante Livi beruntun.
"Iy... Iya tante, Geo dengar. "
"Geo tolong berikan telfonnya pada Giva, tante ingin bicara dengan Giva. ", pinta tante Livi.
" Tante , Giva.. Giva mengalami kecalakaan tante", jawab Geo dengan satu tarikan nafas.
"Apa?! Bagaimana bisa?! Apa yang sudah terjadi? Astaga", jawab tante Livi
"Sekarang kamu ada dimana Ge? Kasih alamat rumah sakit ke tante. ", tanya tante Livi serta terdengar suara kekhawatiran bercampur amarah dari tante Livi dan Geo bisa merasakan & mendengarkan itu.
"Di rumah sakit Anantha Wijaya tan ", jawab Geo.
Tut tut tut
Sambungan langsung terputus karena tante Livi yang memutuskan secara sepihak. .
30 menit kemudian.....
"Geo?", panggil Om Gustave
"Tante, om", balas Geo
"Bagaima keadaan Giva?", tanya tante Livi.
"Giva masih ditangani oleh dokter tante, saya juga tidak tau sudah lebih dari 1 jam dokter tidak keluar dari sana", jawab Geo apa adanya
"Apa yang telah terjadi Geo? Apa yang kamu lakukan pada putri saya?", Geram om Gustave. "Bukankah saya sudah bilang jangan membawa anak saya keluar dimalam hari!", lanjut Om Gustave.
"Jawab Geo?!", Om Gustave mulai meninggikan suaranya.
Memang, sejak awal Om Gustave tidak terlalu suka dengan Geo yang telah berpacaran dengan putrinya. Selain karena mereka masih usia SMP, om Gustave tidak ingin anaknya terganggu dalam hal pendidikan. Tapi Giva telah membuktikan bahwa ia bisa mempertahankan rangking di sekolahnya tidak turun sama sekali! Dia rangking pertama pararel di sekolahnya. Hal itu membuat kebanggaan tersendiri untuk om Gustave dan keluarga. Karena rengekan Giva yang ingin menjadi kekasih Geo, apalah dayanya? Dia adalah seoarang ayah yang sangat menyayangi putrinya yang kini beranjak remaja. Mau tidak mau akhirnya dia merestui hubungan mereka asal tau batasan. Walaupun om Gustave bersifat dingin kepada Geo, itu tidak meluruhkan niat Geo untuk tetap menjadikan Giva kekasihnya. Berkat tekad dan restu Tuhan -lah dia telah berhasil meluluhlan hati Om Gustave. Tapi tetap saja Om Gustave dulu dan sekarang tidak ada perbedaan, selalu menganggap Geo tidak pantas. Tapi tak apa asalkan ia sudah dapat restu dari kedua orang tua Giva, walaupun terkadang om Gustave masih ragu dengannya. Baginya restu itu sudah cukup. Untuk meluluhlan hati Om Gustave, biarlah waktu yang menjawab.
Geo menghembuskan nafasnya sejenak dan mulai menjelaskan kronologi kejadian.
"Saat Geo dan Giva akan pulang, Tiba-tiba Giva berlari dengan senangnya mendahului saya. Tanpa kami sadari ada seseorang yang sedari tadi mengikuti kami. Jalanan memang cukup sepi, sehingga saya tidak terlalu khawatir akan keselamatan Giva yang mungkin tidak akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Saya sengaja memilih jalan itu, jauh dari keramaian, om juga tau sendiri kan, kalau Giva tidak terlalu suka keramaian? Oleh karena itu saya memutuskan melewati jalanan tersebut. Hingga pada akhirnya karena keasikan berlari dan tertawa riang, ada sebuah mobil sedan berwarna silver melaju kencang dan juga ada seseorang bertubuh tinggi yang tiba-tiba mendorong Giva ke tengah jalan. Saya sekuat tenaga telah berlari tapi saya terlambat, mobil tersebut sangat kencang hingga akhirnya Giva tertabrak. Maafkan saya om, tante. Saya telah melanggar janji saya untuk selalu melindungi Giva dan telah mengecewakan kalian om, tante. Tapi saya berjanji akan memberi hukuman yang setimpal kepada orang yang melakukan ini semua. Dan , dalang dari semua ini adalah......
************************************
Haloo!! semoga suka yaa
Ini cerita pertamaku, Maaf kalo banyak typo atau kurang gimana gitu..
Boleh kasih saran & kritik dengan komen dibawah yaa
Terimakasih yang udah baca :)
Kasih vote boleh lah :)
Instagram :
@my.adolescence
-Cay-
YOU ARE READING
My Adolescence (HIATUS, MAAF YA)
Teen FictionJangan lupa follow akun wp author ya ^^ Mungkin belum, tapi nanti Nanti hingga penantianku mulai terhenti ~ My Adolescence ~ Terimakasih :) -Cay-
