Masih Tetap Sahabat

63 2 0
                                        

Semua orang akan merasakan bahwa persahabatan itu sangat indah dan sempurna. Saat terluka, pasti sahabatnya selalu ada disampingnya untuk menyelesaikan segala urusannya. Kadang juga bertukar cerita yang membuat beban tentang masalah satu sama lain bisa diatasi. Kehidupan ini akan terasa menyalah bila persahabatan itu didasari dengan perasaan tulus, namun hal itu membuat Andini harus menahan perasaannya yang bimbang terhadap Arfa, teman yang sudah menjadi sahabatnya sejak tiga tahun yang lalu.

April 2017

Suasana malam kota Yogyakarta tampak begitu ramai. Kendaraan hilir mudik menghiasi kota dengan sorotan lampu yang mewarnai keramaian jalanan. Yogyakarta selalu indah dimalam hari, tugunya yang berkilauan ditengah-tengah kota, Malioboro yang tak pernah sepi sampai pagi, turis-turis yang berjalan mengitari titik-titik kota bahkan jalanan yang selalu ramai dipenuhi dengan kendaraan. Terlihat jelas Arfa dan Sofie sedang membicarakan sesuatu yang sangat serius. Dibawah jembatan dekat stasiun andalan Kota Yogyakarta.

"Sayang, aku ingin mengatakan sesuatu sama kamu." pinta Sofie yang sedang berdiri bertatapan dengan Arfa dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

"Katakan saja sayang." Arfa berusaha meyakinkan Sofie.

"Kita sudah berpacaran hampir dua tahun. Setelah lulus nanti, orang tuaku menyuruh aku untuk melanjutkan kuliah ke Autralia, jadi sebaiknya aku fokus dengan kuliah dulu"

"Maksud kamu? Aku tidak mengerti?"

"Please ngertiin aku Arfa. Ini cita-citaku, aku ingin belajar di Australia. Aku juga ingin mencari mamaku disana. Kamu....."

"Cukup!!!"

"Aku faham, kamu tidak ingin status kita LDR kan?"

"Bukan begitu...."

"Lalu kamu mau bilang kalau kamu sudah bosan denganku? Aku tidak sebodoh itu Sofie, kamu memiliki perasaan gak sih, dalam hubungan ini kita tidak punya masalah apapun Sof."

"Arfa..."jerit Sofie dengan suara lantangnya.

Afra memperhatikan Sofie yang membentaknya. Terlihat air mata yang sedari tadi membasahi wajah gadis kelahiran Australia itu. Arfa pun berusaha tegar dan tenang sampai mulutnya kembali bersuara dengan tenang.

"Baiklah kalau itu yang kamu mau silahkan saja. Kita akhiri aja hubungan kita yang sudah hampir tiga tahun lamanya." jelas Arfa.

"Tapi aku ingin kita putus baik-baik fa,"

"Putus baik-baik? Itu yang kamu inginkan, tapi aku tidak." bentak Arfa dengan nada tinggi lalu pergi meninggalkan Sofie yang masih berdiri dengan air mata yang membasahi malam kota Jogja.

Dijarak sekitar lima puluh meter tampak jelas Andini yang melihat pertengkaran mereka. Hatinya masih sedikit gundah. Kali ini dua sahabatnya harus mengakhiri hubungan percintaan seperti sebuah drama yang menyakitkan. Ia menyesal harus mendengarkan pertengkaran hebat mereka. Tanpa berbikir panjang ia menghampiri Sofie dan memeluknya.

"Udah sof, mungkin Arfa lagi emosi. Nanti aku akan menjelaskan semuanya ke dia." Andini berusaha menenangkan hati Sofie yang masih menangis.

"Tolong kasih tau Arfa ya din, aku pasti kembali lagi kok ke Indonesia, ini hanya sementara aku ke Astralia." Pinta Sofie sambil memohon ke Andini.

"Iya Sofie iya Sof." Andini berusaha meyakinkan Sofie.

juli 2017

Andini terbangun dari tidurnya, memperhatikan jam beker yang terletak dimeja sebelah tempat tidurnya. Jam 06.00!!. Gerutu gadis tomboy sambil menguncir rambut panjangnya dan menuju ke kamar mandi. Semalaman ia duduk dimeja belajarnya memperhatikan foto dia dan dua sahabatnya. Mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu karena bagi dia, itu kejadian tak dapat ia lupakan. Setelah ia selesai bersih-bersih ia bergegas turun ke bawah karena dia harus kuliah. Hari senin adalah hari paling menyebalkan baginya. Harus sekolah pagi-pagi jam 07.00 WIB karena upacara. Baginya siapapun yang memberi jadwal pelajaran jam pagi adalah orang yang gak peka terhadap anak mudah.

Mr. AMga kuwentong kahuhumalingan mo. Tumuklas ngayon