by Watihyun/
Dari cerita sahabatku...
.
.
.
Rumah di pesisir pantai itu kini reyot. Batang-batang kayu yang puluhan tahun menyangga atap kini mulai rapuh. Fondasi yang dipakai pun sudah tak layak. Rumah itu sepertinya harus dirombak habis hingga ke akarnya. Kalau angin sedang kencang, atap rumah itu nyaris tersibak. Benar, sangat memprihatinkan. Namun, dari sekian banyaknya kekurangan dari rumah itu, sang penghuni tak pernah mengeluhkan hal tersebut.
Keluarga kecil ini selalu merasa bahagia atas apa yang mereka dapatkan hari ini, dan selalu berusaha lebih baik untuk hari esok. Ayah, ibu dan anak, mereka memerankan tanggung jawab masing-masing dengan sangat baik. Sang ayah menunaikan tanggung jawabnya sebagai pencari nafkah. Mata pencahariannya adalah sebagai nelayan. Tentu saja, tak ada usaha yang lebih menjanjikan di pulau kecil seperti ini selain menjadi nelayan. Sang ibu bertugas menjadi ibu rumah tangga yang baik dan sesekali membantu suami mencari uang dengan membuka jasa jahit di rumahnya. Mesin jahit dinamo yang usang peninggalan orang tuanya dia manfaatkan dengan baik. Dan si anak yang menghadirkan tawa di lelah dan penatnya mereka bekerja.
"Jun, ada temanmu di luar," teriak sang ibu sambil menoleh ke dalam rumah memangggil Jujun-anaknya. Dia tak bisa memanggil Jujun ke dalam karena ikan teri yang sedang ia jemur di luar harus segera diangkat.
"Iya, Bu," sahut Jujun lalu keluar sambil membawa layangan. Jujun menghampiri teman sebayanya di luar yang telah siap dengan layangannya juga. Namanya Adit, anak Kepala Desa Pulau Mandangin desa kecil yang mereka cintai ini.
Mereka bermain layangan di pantai, berlarian memijak pasir putih kebanggaan pulau ini. Dua bocah berusia tujuh tahun itu begitu senang bermain di pantai meskipun kulit mereka akan gelap karena cahaya matahari. Memang seperti itulah anak-anak seharusnya, bermain tanpa memikirkan hal-hal rumit lainnya.
Sayup terdengar suara seorang bapak memanggil Jujun dari kejauhan. Itu Wahyu, ayah Jujun. Pak Wahyu baru saja menepi di dermaga setelah berjam-jam mencari cumi dan ikan-ikan di laut. Wahyu mengaitkan tali perahu ke tiang dermaga. Ia lalu membawa hasil tangkapannya dan menghampiri Jujun.
"Bapak!" teriak Jujun sambil berlari menghampiri ayahnya. Jujun memeluk sang ayah sambil tersenyum senang.
"Anak bapak mainnya di pantai terus, apa gak panas?" tanyanya pada Jujun sambil berjongkok menyamakan posisi dengan sang anak.
"Enggak dong, Jujun kan nungguin Bapak," balasnya.
Sore ini tangkapan Wahyu tak banyak, tapi lumayan jika dijual untuk membeli kebutuhan pokok selama 3 hari ke depan. Jujun membawakan sebagian kecil ikan yang didapat ayahnya riang gembira. Menunggu ayahnya di dermaga adalah kebiasaan Jujun sejak usia 5 tahun. Adit sebelumnya pulang lebih dulu karena ibunya menyusulnya ke pantai tadi.
Ayah dan anak itu pulang ke rumah dengan hati senang. Mereka memberikan hasil melaut kepada Susi-istri Wahyu. Di tangan Susi, cumi dan ikan-ikan itu bisa berubah menjadi makanan enak yang bernilai tinggi jika dijual. Masakan Susi benar-benar enak, mungkin karena Susi memasaknya dengan sepenuh hati.
"Jun, tambah lagi nasinya, Nak!" kata Susi. Dia mengambil nasi secukupnya lalu dituangakannya ke piring Jujun.
"Iya Bu," balas Jujun, mulutnya masih mengunyah makanan.
Wahyu dan Susi hanya tersenyum. Bagi mereka melihat Jujun tumbuh besar selayaknya anak-anak lain adalah hal yang paling membahagiakan.
YOU ARE READING
AURISTA
Short StoryAurista (Author arisan cerita) merupakan challange ke dua di tahun 2018, berisi kumpulan cerita pendek (cerpen) maupun fanfiction oneshot infinite yang ditentukan dengan cara arisan.
