SEWAKTU-WAKTU BISA DIHAPUS:)
'Dia adalah sebuah kenangan dalam hidupku yang menyakitkan'
'Kau adalah sebuah euphoria dalam hidupku untuk selamanya'
Terlambat.
Jika semuanya terlambat, dan sesuatu bernama 'penyesalan' telah tiba. Dia, hanyalah soso...
Saat sang waktu masih saja bekerja, semakin membuat penantian yang telah lama ini terlihat semakin sia-sia. Sebuah kenangan yang selalu terlintas dan menari dalam sebuah tempat bernama 'benak'. Menyisakan luka yang didampingi oleh perasaan berharap. Ya! Berharap. Berharap sosok itu kembali lagi. Mengisi hari-hari ini lagi dengan cahayanya yang menyejukkan hati.
Lalu, apa yang terjadi bila dia tidak kembali lagi? Pertanyaan ini selalu muncul dalam kegelisahan penantian. Bagaimana jika sosok itu tiba-tiba kembali dan telah melupakan kenangan yang amat sangat berharga? Ya! Kenangan berharga bagi sebuah kegelisahan penantian.
Seorang gadis berwajah sedikit chubby tengah menatap indahnya langit malam dengan bintang-bintang sebagai penghiasnya. Namanya Jennedict Geantricia Choi, akrab disapa Jenne. Ya, hal ini telah menjadi rutinitasnya dikala malam tiba dengan bintang yang bertaburan. Biasanya dia akan menatap langit itu hingga larut malam, tetapi tidak untuk hari ini, dia harus beranjak tidur karena esok adalah hari pertamanya di sekolah barunya.
Alarm terus berdering, hingga akhirnya menunjukkan pukul 06.45. Jenne terbangun oleh bunyi alarm yang nyaring dengan matanya yang masih sedikit terpejam. Matanya membelalak, dia lupa bahwa sekolah barunya ini adalah sekolah yang memiliki hukuman yang bisa dibilang lumayan tegas untuk murid yang terlambat. SMA Panca Nusantara.
'njay!!! Gue terlambat bangun lagi!' batin Jenne kesal. Gadis satu ini memang kadang-kadang memiliki penyakit lupa yang akut, membuatnya selalu melupakan hal-hal kecil juga.
30 menit berlalu, kini dia telah siap dengan seragam lengkapnya dan segera melesat pergi ke sekolah barunya itu. Jenne melirik jam yang menghiasi tangannya, pukul 07.30. Jenne menepuk jidat! Ya, Jenne telah terlambat! Seketika gadis dengan tubuh tinggi bak model itu berlari menuju kelasnya, XI MIPA-3.
"Maaf, buk. Saya terlambat." dengan nafas yang masih terengah-engah, Jenne mengetuk pintu kelas yang sedari tadi sudah ada guru pengajar matematika, namanya Bu Siti.
"Ya, tidak apa-apa. Ayo, silahkan masuk dan perkenalkan diri kamu." ujar Bu Siti yang sudah mengetahui bahwa Jenne adalah siswa baru. Bu Siti memamerkan senyumannya yang manis dan ramah pada Jenne. Diikuti dengan Jenne yang langsung memperkenalkan dirinya.
"Baiklah, Jenne kamu silahkan duduk di bangku yang kosong itu ya." kata Bu Siti seraya menunjuk bangku yang kosong. Jenne duduk di bangku kosong yang tersisa di kelas itu.
2 jam pelajaran berlalu.
Kringgg... Kringgg... Kringgg... Tibalah waktu istirahat. Jenne pun bergegas merapikan bukunya dan bersiap mengisi perutnya yang sedari tadi berbunyi karena tak sempat sarapan.
"Hai, Jenne!" sapa seorang perempuan saat Jenne berjalan keluar kelas hendak menuju kantin sekolahnya. Suaranya imut, dan kini perempuan itu sudah ada dihadapan Jenne. Intan Lordy, cucu kepala sekolah yang dikenal friendly dan sangat ramah.
"Hai..." jawab Jenne dengan malu-malu. Jenne memang orang yang pemalu dan kurang bisa bergaul.
"Kenalin! Gue Intan, gue juga murid kelas ini." ujar Intan sambil tersenyum lebar kepada Jenne.
"Ohh... Hai, gue Jenne. Seneng kenalan sama lo." jawab Jenne masih dengan malu-malu.
"Eh, ke kantin yuk! Gue laper nih." ajak Intan. Intan memang sangat suka berteman dengan siapa saja. Tak heran jika Intan sangat cepat akrab dengan Jenne.
Tak lama, datang teman-teman Intan yang lain. Intan banyak mempunyai teman yang berbeda kelas dengannya, diantaranya Dena, Listya, Nancy, dan juga Andra. Mereka juga sangat friendly. Tak butuh waktu lama, mereka juga sudah akrab dengan Jenne.
"Hai, Ntan! Kita-kita makan bareng disini ya!" ujar gadis cantik dengan tubuh sedikit gembul dengan rambut lurus, Denandia Aprilia namanya, akrab disapa Dena.
"Ohh... iyadeh! Yuk, makan disini aja." jawab Intan dengan penuh ceria.
"Ntan, itu siapa yang disebelah lo?" bisik gadis mungil yang duduk disebelah Intan itu. Nancy Berliana Putri, akrab dipanggil Nancy. Si Kutu Buku, Si Penghuni Perpus, dan Si Pemburu Novel. Gadis mungil berparas cantik dengan kacamata yang tersemat di matanya.
"Eh.. iya ini kenalin, ini Jenne. Murid pindahan dari Bandung, dia temen sekelas gue!" jawab Intan sembari memperkenalkan teman barunya itu.
"Hai! Gue Nancy! Seneng kenalan sama lo." ujar Nancy dengan ramah, diikuti oleh teman-temannya yang lain. kemudian dijawab dengan senyum manis oleh Jenne sambil menjabat tangan mereka masing-masing.
"Eh, gue ke toilet bentar ya, kebelet nih!" ujar Jenne yang melesat pergi ke toilet. Saat berjalan, semua mata tertuju pada seorang gadis pindahan, dengan kulit putih bak salju, rambut panjang sepinggang berwarna coklat, ditambah bodynya yang layaknya model itu.
Back.
'Hujan!' batin Jenne. Jenne menyukai hujan, dengan aroma khasnya saat membasahi daun-daun.
Jenne mengambil payung yang memang selalu ia bawa, kalau saja cuaca tiba-tiba hujan. 15 menit berlalu, kini Jenne telah sampai di rumah. Jenne langsung saja berlarian menyusuri tangga dan menuju kamarnya. Lalu, Jenne membersihkan diri sebentar karena terkena air hujan.
Jenne mengambil ponselnya yang sedari tadi berdering.
"Hallo!" sapa Jenne dengan ceria. Bagaimana tidak? Orang yang menelepon adalah orang yang paling Jenne sayangi.
"Hallo Jen, gue mau ngomong sesuatu sama lo, nih." jawab seorang lelaki dengan nada suara bosan.
"Iyaa.. lo mau ngomong apa, Yond?" tanya Jenne dengan antusias.
Dyond Fernanddo, akrab disapa Dyond. Dia adalah pacar Jenne saat tinggal di Bandung. Dyond, demi orang ini Jenne rela mengorbankan apapun asalkan Dyond bahagia.
"Gue mau putus sama lo, gue merasa udah gak cocok lagi sama lo." ujar Dyond yang membuat mulut Jenne terbuka lebar.
"Lho? Tapi kenapa, Yond? Salah gue apa?" jawab Jenne lirih. Jenne tak percaya, orang yang selama ini selalu dia sayangi akan melakukan hal ini padanya.
"Gue bosen sama lo." ujar Dyond. Jawaban singkat dan padat yang membuat air mata Jenne jatuh.
"Oke! Kalo itu mau lo. Asalkan lo bahagia, gue rela." celetuk Jenne untuk terakhir kalinya lalu menutup ponselnya itu.
Jenne tak kuasa menahan tangis. Isak tangisnya terdengar di seluruh penjuru kamarnya. Dia sedih, kesal, marah, kecewa bercampur aduk.
Sejak hari itu, hujan tak lagi hal yang disukainya. Dia membenci hujan, apalagi hujan ketika sore. Hujan yang dikala itu mendengar isakan tangisnya dan hujan yang hanya mengingatkannya pada kenangan yang membuat luka di dalam relung hatinya.
Walau Jenne sangat membenci kejadian pada hari itu, tetapi Jenne hingga saat ini masih saja mengharapkan lelaki itu kembali padanya. Ya! Jenne masih mencintainya.
'Gue berharap lo tau, gue disini masih nunggu lo. Kembali mengisi hari-hari gue.' batin Jenne.
"Hmm... " gadis itu mendengus dengan murung mengingat kejadian pada hari itu lagi.
Lalu, merebahkan diri ke kasur, mematikan lampu kamarnya, dan bergegas pergi ke alam mimpi.
=====
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.