Jam istirahat terakhir tiba. Keadaan lega pada hati tiap-tiap siswa yang keluar kelas dengan nilai ulangan tengah semester yang bagus dengan kejujurannya sendiri. Dan keadaan penyesalan pada hati tiap-tiap siswa yang keluar kelas dengan nilai ulangan buruk.
"Dasar, gara-gara lo nilai gue jelek!" Bentak Vara pada seorang pria jangkung dihadapannya
Suasana gaduh di kelas X-3 IPA memang sudah biasa, tentu bintang dari semua kericuhan adalah Valen Putra Aditama. Ya, sikapnya yang selalu saja salah dimata Vara membuat Valen benar-benar jengkel jika harus berhadapan dengan Varania Alyska. Gadis manis berlesung pipi dengan rambut hitam pekat yang diikat satu ke belakang.
"Jangan asal nyalahin orang dong lo, kalo kalah ya bilang aja. Jadi cewek kalem dong. Lo sama mak lampir itu nyeremin lo tau gak?" Elak Valen akan kemenangannya mendapat nilai tertinggi di kelas mengalahkan Vara. Namun sedikit perkataan kasar Valen juga sedikit menyakiti hati keras milik Vara yang langsung berusaha tidak memedulikan perkataan itu. "Va, tapi lo gak lupa kan bakal nraktir gue selama 5 hari?"
"Iya iya, bawel! Mulai besok aja."
Seulas senyum di bibir Valen terbit. Seperti telah memenangkan sebuah misi. Valen mengacak lembut rambut Vara lalu pergi ke kantin bersama teman-temannya. Lagi. Perasaan aneh itu lagi yang dirasakan Vara pada musuh bebuyutannya ini. Sekaligus Rasa sakit di kepala Vara dan seperti biasanya, muncul seulas ingatan tentang seorang pria yang juga ikut mengacak lembut rambut Vara dengan senyum samar yang memukau.
"Va, lo kenapa?" Khawatir Sarah dan Tania begitu melihat sahabat mereka memegang kepala dengan kedua tangannya dan hampir jatuh pingsan.
"Gu-gue gapapa. Yaudah ke kantin yuk, sebelum istirahat selesai." Ajak Vara yang langsung disambut kedua sahabatnya itu.
***
"Va, gue yakin sih kalo masa lalu yang lo cari itu bener Valen. Mungkin Valen ngusik hidup lo biar lo peka." Jelas Tania yang datang membawakan 3 es teh pesanan mereka.
"Iya tuh. Buktinya aja ingetan lo tentang pria yang lo cari itu selalu muncul setiap Valen interaksi sama lo. Dan ini bukan cuma pertama kalinya." Tambah Sarah dengan heboh.
"Terus gue harus apa?"
"Mulai sekarang. Lo harus deketin Valen sampai lo harus jadian. Gak ada salahnya bersikap manis sama dia." Pernyataan Tania benar-benar membuat Vara yang sedang meminum es tehnya itu tersedak.
"Hah? Jadian sama biang kerok yang selalu nyakitin hati orang itu? Mimpi apa coba gue!"
"Yakin lo gak suka? Seonar-onarnya dia, dia ganteng kali!" Memang Sarah tidak salah, Valen adalah pria tampan yang populer, terutama dikalangan para wanita. Bibir merah, mata tajam, tubuh tinggi ideal bagaikan model, siapa yang tidak tertarik dengan pria seperti ini?
"Oke, tapi ini demi masa lalu gue. Jadi?"
"Terserah lo deh. Jadi Va lo kan bakal nraktir dia dan gue bakal ngrubah tampilan luar lo biar memesona, dan tugas lo ngrubah sikap lo. Setelah itu cari tau apa yang berhubungan dengan dia. Cari tau juga masa lalu dia, oke? Gue tunggu mulai besok!" Vara hanya dapat mengangguk dengan penjelasan Tania yang selalu membuat Vara percaya dengan tiap kata demi kata.
***
Keesokannya pun datang.
"Hei, ntar jadi kan lo bakal nraktir gue! Gue harap lo gak sok lupa deh sama janji lo." Tanya Valen yang langsung melongo melihat Vara bersama Sarah dan Tania berdiri di ambang pintu. Bukan, bukan Sarah si gadis blasteran Indo-Belanda bukan Tania pula si gadis cantik berpenampilan modern. Tapi Vara, Vara yang seketika menjadi cantik. Bahkan amat cantik. Semua melihat dengan detail sosok Vara yang sekarang menggunakan bb cream, bedak, lipstik tipis, dan rambut yang terurai membuat penampilannya semakin sempurna. Tak terkecuali para pria, termasuk Valen.
Melihat siapa yang mengagetinya begitu masuk kelas membuat Vara kesal setengah mati, memang Valen pikir kalo Vara sampai jantungan siapa yang harus membiayai pengobatannya. Kalo bukan karena ke-2 sahabatnya mungkin Vara hampir saja berteriak uring-uringan seperti biasanya.
Begitu Valen mendekati Vara, Sarah dan Tania langsung meninggalkan mereka berdua di ambang pintu.
"Eh, iya iya!" Sebenarnya Vara gugup. Tapi ia menyembunyikannya dibalik senyuman yang dikemas secara ikhlas.
"Oh, oke." Jawab Valen kaget mencerna perubahan sikap Vara yang jadi manis. Lalu ikut kembali ke tempat duduknya semula yang selalu ramai oleh teman-teman prianya. Karena tidak ada wanita yang berani mengganggu ketenangan Valen.
Mungkin sebelumnya ini tidak akan pernah tepikir di otak Valen, seorang nenek lampir akan bersikap manis dan berpenampilan kalem sekaligus cantik bagaikan malaikat di depannya.
"Yaudah, gue kesitu dulu ya." Tunjuk Vara pada bangku samping Tania. Valen hanya dapat mengangguk perlahan pada perubahan Vara yang membuatnya bingung.
"Va, gimana?" Tanya Sarah pelan sambil memajukan tubuhnya bermaksud ingin berbisik dari arah belakang.
"Gimana apanya?" Vara kini menoleh ke belakang
"Lo sama Valen lah." Ucap Sarah kesal dengan ketidakpekaan Vara.
"Oh, biasa tuh. Tapi kayaknya gak mempan deh. Gue gak bakal bisa ucapin selamat pagi kalo setiap pagi selalu dia yang ngomong duluan."
"Tapi pada ngeliatin lo semua tuh Va, Valen juga. Biar nambah efek ke Valen gimana kalo lo Kasih gombalan?" Lanjut Tania yang ikut gabung dengan obrolan Sarah dan Vara.
"Hah, ngasih gombalan? Nggak! Nggak! Nggak! Nggak bakal dan nggak akan bakal pernah!" Tolak Vara
"Demi masa lalu lo Va, cuman nggombal kan?" Pinta Tania memohon.
"Gombalan ke siapa?" Sahut pria dari belakang yang membuat mereka bertiga menoleh dan tersentak kaget bersamaan.
Vara memang adalah orang yang paling terkejut. Ia memilih meneguk ludah mengatasi masalah ini. Kira-kira siapa yang datang? Apakah Valen? Lalu apa bisa Vara menaklukan Valen dengan rencana-rencana milik Sarah dan Tania?
Kira-kira Vara
bisa gak nggombalin VALEN?
HAPPY READING.
YOU ARE READING
Different
Teen Fiction"Gue bakal pergi, bukan karena lo orang yang berbeda, bukan juga karena sifat lo yang beda." Ujar Vara menatap sendu Valen yang acuh tak acuh. Sebenarnya dalam lubuk hati yang paling dalam Valen tidak pernah mengingingkan hal ini terjadi, ia ingin b...
