Prolog

142 10 12
                                        

Pagi ini, dering alarm sudah menggema ke seluruh ruangan berukuran sedang. Ya, dering ini tepat yang ke dua puluh empat kalinya sejak alarm pertama pukul 04.00 dibunyikan. Namun bukannya bangun, pemilik ponsel masih berada di alam mimpi. Dengan posisi tidur terlentang, mulut terbuka, bantal dan tempat tidur sudah tidak karuan bentuknya. Sangat tidak mencerminkan sisi seorang gadis. Benar, siapa yang tau saat kita tertidur. Mungkin itu salah satu posisi ternyaman ketika gadis itu terlelap.

"Astaga, Yola! Sudah jam berapa ini?" teriak Dina selaku ibu dari gadis itu. 

Mendengar teriakan ibunya, membuat gadis itu kembali menarik selimut miliknya yang sudah tersingkap dan kembali tertidur.

Ibunya mendekat. Ia menggulingkan tubuh gadis itu, berharap anak sulungnya itu terbangun.

"Yolaaa! Cepat bangun, sudah siang. Nanti kamu terlambat."

Yola sebutan gadis itu, hanya mengubah posisi tidurnya. Tak menghiraukan ucapan ibunya.

"Astagfirullah. Katanya kamu mau ikut camping sekolah, jam segini belum bangun. Gimana sih kamu?" ujar Ibunya kesal.

Masih setengah sadar, Yola bangun karena keterkejutannya mendengar ucapan Dina barusan.

"Apa Bu? Camping?"

Ibunya mengangguk.

"Ih, Ibu mah kenapa gak bangunin Yola dari tadi. Kesiangan kan jadinya." Yola bangkit dari tempat tidurnya dengan tergesa-gesa. Ia pergi meraih gagang pintu. Bukannya langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badannya, Yola malah pergi keluar kamar menuju dapur.

"Kamu mau kemana?" tanya Dina.

"Mau mandi."

"Kamar mandinya di sana, Yolaaa." Tunjuk Dina ke salah satu ruangan di dalam kamar Yola.

Maklum saja Yola masih setengah linglung. Dengan santainya, Yola putar arah menuju kamar mandi.

"Bu, jam berapa sekarang?" Tanya Yola sebelum masuk ke kamar mandi.

Dina melihat jam pada ponsel Yola. "Jam 06.45."

"Haaah?" Yola kembali terkejut lalu bergegas ke kamar mandi. "Astaga lima belas menit lagi."

Dina meninggalkan kamar Yola, lalu pergi menuju ruang makan untuk menyiapkan sarapan untuk suaminya, keempat anaknya, dan calon bayinya satu lagi.

Tidak terbayang, betapa gaduhnya rumah Yola setiap paginya. Adik laki-laki yang selalu minta disetrikakan baju seragamnya. Belum adik perempuannya minta diikat rambutnya. Dan 'si bungsu tidak jadi' yang selalu merengek minta disuapi ketika sarapan. Hal itu sudah biasa terjadi di dalam rumahnya setiap pagi. Apalagi jika nanti, Ibunya kembali melahirkan. Ah, tidak tahu akan seperti apa keadaan rumahnya setiap hari.

Tak lama berselang, Yola datang. Tidak sampai 5 menit malah, ia langsung menyerobot roti bakar yang sudah disediakan Ibunya di meja makan.

"Kamu mandi? Kok cepat sekali?" Tanya Ibunya heran.

Yola menggeleng diiringi cengiran tanpa dosa. "Cuma cuci muka sama sikat gigi aja."

"Ish jorok." Timpal Andi ayah Yola.

"Biarin. Jorok boleh, jelek jangan." Lanjut Yola sambil mengunyah roti yang sudah memenuhi mulut mungilnya.

Kedua orang tuanya tidak merespon apa-apa. Terserah apa kata Yola pikirnya.

***


Jangan lupa votenya 😘
Terimakasih

SPACE LOVEStories to obsess over. Discover now