sun-set

34 5 5
                                        

P.s : Play mulmed ya.

^

Ditemani hamparan langit yang dipadukan dengan gemerlap cahaya Kota Bandung, Nada menyesap cokelat hangatnya dengan perlahan. Sungguh tenang dan damai. Nada menikmati suasana ini. Sejenak melupakan masalahnya.

Di hadapannya, api unggun mengobarkan apinya. Memancarkan rasa hangat dan nyaman.

Sebuah sweater tersampir di bahunya. Nada pun menoleh untuk mencari tahu siapa yang menyampirkan sweater di bahunya.

"Oh Elang, gue kira siapa. Btw, makasih ya sweaternya." Nada mengawali percakapan. Elang menganggukkan kepalanya, lalu duduk di kursi kosong yang berada di sebelah Nada.

Nada menghembuskan nafas kasar yang membuat Elang menoleh dan memberikan tatapan bingung.

"Kalo ada masalah cerita aja Nad. Kayaknya beban hidup ya?" Elang terkekeh pelan. Nada menoleh dan tersenyum kecil.

"Gimana ya," Nada menjeda sejenak sambil memejamkan matanya, "Sedikit nyesel sih gue ngewakilin fakultas buat kesini setelah tau ternyata di tempat ini." Lanjutnya tetap dengan mata yang terpejam.

"Kenapa nyesel? Kan lo paling excited kalo soal beginian." Tanya Elang bingung.

"Beda Lang," Nada membuka matanya perlahan dan menatap mata Elang, "Gue nggak bisa lupain gitu aja."

"Lupain apa? Masa lalu lo waktu SMA itu?" Cerca Elang.

Hati Nada tersengat rasa nyeri yang amat mendalam. Di fikirannya terus terulang kejadian itu layaknya kaset rusak.

*

"Elang, anterin gue ya, ya, ya. Elang baik deh." Nada mengekori Elang yang baru keluar dari kelasnya.

"Kemana?" Tanya Elang.

"Ke Bukit Moko." Jawabnya.

"Jam berapa? Sekarang?" Tanya Elang lagi.

"Yakali. Nanti malem jam setengah tujuh." Ucap Nada sambil nyengir. Tiba-tiba, Elang memberhentikan langkahnya. Lalu menoleh ke arah Nada.

"Mau ngapain lo ke sana malem-malem?" Tanya Elang dengan tatapannya yang tajam.

"Gue ceritain sambil duduk aja ya Lang." Nada langsung menuju kursi depan kelas yang kosong. Di ikuti oleh Elang.

"Jadi, lo tau kan gue suka sama Adji." Elang menganggukkan kepalanya.

"Entah kenapa, Adji lebih deket sama Fani, Lutfi. Sedangkan gue? Jauh banget Lang," Nada menghela nafas sebentar, "Dan tiba-tiba, Adji ngajakkin gue nanti malem buat ketemuan di bukit itu."

"Terus, kenapa lo minta anterin gue? Lutfi sama Fani emang kenapa?" Tanya Elang.

"Gue udah ngajak Lutfi, tapi dia bilang dia nggak tau bisa apa engganya. Kalo Fani, gue lagi, ah you know la." Balasnya.

"Yaudah. Nanti malem gue jemput ke rumah lu ya?" Ucap Elang sambil berdiri dan merapihkan pakaiannya yang kusut.

"Oke. Tengkyu Elang. Hehe." Ucap Nada dengan girang.

"Lo balik sama siapa? Ada yang jemput?" Tanya Elang.

"Engga ada. Kayaknya naik angkot ni. Kenapa? Lo mau nganterin gue balik ya?" Tanya Nada sambil nyengir dan mengikuti kemana Elang melangkah.

"Idih. Ge-er. Males banget gue nganterin elu balik." Balas Elang jutek.

"Elang jangan bohong hayoo. Udah ah. Anterin gue balik oke?oke." Elang hanya pasrah jika Nada sudah begini. Karena kesan imut wajahnya tak pernah hilang walaupun sudah SMA.

SUN-SETWhere stories live. Discover now