Seorang pria yang masih terlihat gagah di usianya yang matang menikmati makan malamnya. Dia-Thomas Alexander menatap satu persatu kedua anaknya. Memikirkan bagaimana cara memberi tahu kedua anaknya tentang berita kepindahan mereka. Terutama kepada sang putri yang menurutnya tak akan menerima keputusan itu, melihat bagaimana dia menikmati kehidupannya di New York.
"Dad memiliki berita untuk kalian" suara berwibawa itu membuka percakapan di ruang makan. "Kita semua akan pindah ke London" lanjutnya.
Mendengar ucapan Thomas, Zetta mengalihkan perhatiannya dari makanan yang akan dia makan kepada Thomas. "Seriously Dad??" ujarnya dengan tatapan tak percaya.
Melihat sang putri yang tampak ingin melakukan protes Liana Alexander-istri Thomas memberi penjelasan. "Sayang kita akan pindah ke London karena...."
"OMG Dad, itu berita bagus, aku setuju sangat setuju jika kita pindah ke London" ucap Zetta girang menyela ucapan Liana. "Dan kapan kita berangkat? Aku harap secepatnya" tambahnya lagi dengan senyum girang diwajahnya.
Thomas dan Liana terperangah menatap anaknya, pasalnya mereka mengira putrinya akan melakukan protes besar-besaran menyangkut kepindahan meraka. Itu membuat mereka bertanya-tanya mengapa putrinya bisa mensetujui keputusan itu?
"Dad, Mom kapan kita berangkat?" tanya Zetta lagi yang tak mendapat respon dari kedua orang tuanya.
Liana menyenggol lengan suaminya cepat memberi kode untuk menjawab pertanyaan putrinya, sebelum putrinya merubah keputusannya.
"Kita akan berangkat setelah beberapa pekerjaan Daddy disini selesai, princess" ucap Thomas menatap Zetta. "Bagaimana denganmu son, kau setuju kan?" pandangan Thomas beralih kepada lelaki yang duduk disebelah putrinya.
Lelaki yang sedari tadi menyantap makanannya dengan tenang, mengalihkan pandangannya pada kedua orang tuanya.
"Ya aku setuju saja apapun keputusan mu Dad" ucap Joshua datar.
Berbeda dengan Zetta yang terlihat senang tentang berita itu, Joshua terlihat cuek akan keputusan yang diberikan Thomas, suka tidak suka dia akan mengikuti semua kemauan ayahnya.
Mendengar semua anaknya setuju akan kepindahan mereka, Thomas tersenyum menatap sang istri. Dirinya tidak perlu pusing lagi memikirkan cara agar anaknya menyetujui kepindahan mereka, terutama putri kesayangannya.
"Oh ya Dad, mengapa kita pindah ke London? Apa ada masalah dengan perusahaan kita di London?" tanya Joshua penasaran. Menurut Joshua Daddy nya tidak akan membuat keputusan mendadak seperti ini jika tidak ada masalah serius dengan perusahaannya di London.
"Tidak Josh, tidak ada masalah dengan perusahaan kita. Hanya saja Dad ingin mengurus beberapa pekerjaan disana secara langsung, sebelum menyerahkan seluruh perusahaan disana padamu Josh" ujar Thomas menatap anaknya.
Joshua yang mendapat jawaban itu hanya menganggukkan kepalanya pertanda paham atas penjelasan Thomas. Sedangkan Zetta tetap fokus pada makanannya, tidak peduli dengan alasan mengapa keluarganya harus pindah.
Keheningan terjadi diruang makan keluarga Alexander. Hanya terdengar dentingan sendok, garpu dan piring. Mereka menikmati makan malam yang disajikan oleh koki pribadi mereka.
"Aku sudah selesai, Zetta kekamar duluan ya mom,dad" ujar Zetta menghampiri kedua orang tuanya dan mencium pipi keduanya.
"Good night princess" Liana mengusap lembut kepala putrinya.
Zetta meninggalkan ruang makan dengan perasaan senang, dia bersenandung kecil menaiki tangga menuju kamarnya. Ada rencana yang akan dia lakukan saat tiba di London nanti, rencana yang menurutnya hebat jika berhasil dia lakukan. Rencana yang akan merubah kehidupannya.
YOU ARE READING
Fake Identity
RomanceKehidupan Zetta berubah semenjak dia memutuskan untuk menyembunyikan identitas aslinya dari teman-teman di kampus barunya. Berharap dengan cara seperti itu ia akan memiliki teman yang benar-benar tulus ingin berteman dengan dia tanpa ada embel-embel...
