1. If we love again

133 12 32
                                        

Sekarang aku tau, cinta yang terlalu dalam

Hanya membawa akhir yang menyedihkan.

-If we love again, Chen & Chanyeol EXO

"Aya, lo kenapa putusin Adam sih? Mubazir cowok kayak dia lo lepas, anjir. Tau gitu gue tikung lo dari dulu."

Aya menghela napas lelah. Sudah dua minggu ini sahabatnya, Meisha, menanyakan masalah itu. Membuat misi move on nya jadi terganggu tiap mendengar nama cowok yang tidak pernah absen dari ucapan Meisha. Percuma ia mati-matian sok amnesia, kalau sahabatnya ini selalu mengingatkannya.

"Adam, semenjak putus dari lo ngga pernah nengok ke elo lagi. Ah, asyem. Gue jadi ikutan ngga di notice kan?"

"Bodo amat, Mei." Aya dengan santainya masih melahap siomay ekstra pedas favoritnya. Sudah terlalu biasa mendengar kalimat-kalimat Meisha yang tak akan jauh-jauh dari seorang Abraham Adhyastha Pratama. Tentu reaksinya yang kalem itu menyulut emosi Meisha yang notabenya Adam-Aya shipper garis keras.

Meisha meneruskan sesi curhatnya, tentang bagaimana kecewanya ia karena Aya dan Adam putus tanpa alasan. Aya hanya mengangguk sok paham. Padahal kalimat Meisha tak satupun masuk dalam pendengarannya. Lebih tepatnya, tak akan ia biarkan masuk karena pasti kalimat Meisha hanya akan mengotori otaknya. Aya sesekali mengedarkan pandanganya, mencari pemandangan yang lebih baik dari cewek cerewet di depannya ini.

Matanya tanpa sengaja menangkap sosok tinggi dengan hoodie hitam tak jauh dari tempatnya duduk. Hatinya berdegup, lebih cepat dan keras sampai suara detaknya memenuhi pendengaran. Seketika ia terdiam, membuat Meisha yang asik bercerita mengikuti arah pandangnya.

"Mampus lo. Doi cepet banget pindah hati. Salah sendiri di putusin, nyesel kan sekarang?" Meisha tak henti-hentinya memberikan kritik dan cibiran pedasnya. Membuat Aya ingin sekali menyuapkan sambal super pedas disampingnya ke mulut Meisha. Biar Meisha merasakan seberapa pedas ucapannya ditelinga Aya.

"Diem ah, mei-mei. Banyak bacot lo." ketus Aya, tak tahan lagi memiliki sahabat dengan rupa Medusa di depannya. Meisha tersenyum jahat, kemudian tanpa disangka cewek itu memanggil cewek lain yang kini terlibat obrolan asik dengan Adam. Membuat Aya menyumpahi sahabatnya dalam hati.

"Nara, ngobrol apaan sih, asik banget? Gabung sini aja." Meisha mengatakannya dengan volume agak keras, membuatnya jadi sorotan di kantin. Tapi baginya tentu tidak masalah. Berbeda dengan Aya yang hampir mati karena tersedak, untung saja cewek itu segera minum.

Masalahnya hubungannya yang berakhir sad ending dengan kapten tim basket itu sempat viral di sekolah. Ia tidak bodoh, hal semacam ini tentu juga akan menjadi tontonan menarik bagi teman-temannya di kantin. Kemudian akan ada gosip 'Fakta di balik putusnya kapten tim basket dengan ketua tim dance' yang kemudian mengusik hidupnya lagi. Apa lagi sekarang ada Nara, sang vokalis band sekolah yang suaranya amat sangat merdu. Cewek yang mungkin tak mengerti apapun masalah hubungannya dan Adam itu bisa saja diseret-seret, dikatakan sebagai orang ketiga, atau apalah yang pasti akan disangkut pautkan dengan alasan putusnya hubungan Aya dan Adam.

Nara hendak berdiri, mengiyakan ajakan Meisha untuk gabung di meja cewek itu. Namun Adam mengenggam pergelangan tangannya, seolah mengatakan jika dia tidak ingin pindah. Nara hanya menurut dan duduk kembali, kemudian meminta maaf pada Meisha.

"Ngga deh, Sha. Sori ya, gue di sini aja."

"Yaudah, gue yang gabung ke situ." jawab Meisha santai. Membuat Adam dan Aya seketika menatap cewek itu tajam.

"Ayo ay, jangan mager gitu ah. Nanti lemaknya numpuk. Ayo!" Meisha yang sudah beranjak dari tempatnya dengan membawa semangkuk soto itu menatap Aya bagai seorang Ibu yang tengah menyuruh putrinya. Sialan! Sudah berapa kali Aya menyumpahi Meisha hari ini?

Aya akhirnya berdiri, menyusul Meisha yang kini sudah sok asik mengobrol dengan Nara. Dengan malas tentu saja. Cewek itu kemudian duduk di samping Meisha, yang artinya juga di depan Adam. Seolah tidak terjadi apa-apa Aya menyuapkan somay nya lagi, walau dalam hati menyumpahi Meisha habis-habisan.

"Ra, duluan gue ada kumpul sama anak basket." Adam segera pamit tepat saat ia selesai makan.

"Eh, Adam bentar dong." Adam berhenti kemudian menatap Meisha dengan alis bertaut. "Lo buta, ada Aya sama gue kalii. Masa yang dipamitin Nara doang." lanjutnya. Aya sudah mengumpat tak karuan  mengetahui Meisha dalam mode ngezelin luar biasa. Tidak bisakah dia tetap diam dan membiarkan Adam pergi?

Adam menarik sudut bibirnya. Terlihat mengerikan sekaligus menawan, terlebih Aya menangkap atensi Adam sempat mengarah padanya. Namun kalimat yang cowok itu lontarkan berhasil membuat Aya tersenyum kecut.

"Gak penting." katanya dengan senyum meremehkan sebelum berlalu pergi.

"Lah kampret. Dulu aja pas masih pacaran ngalus mulu." celetuk Meisha.

"Sorry, ay. Dia memang lagi sensi semenjak kalian putus." Nara angkat bicara, ekspresinya mengungkapkan rasa sedih dan kasihan.

"Hm? Ga apa kali, santai aja." Aya kemudian melahap somay super pedasnya sampai matanya berair. Tapi semua orang tau itu air mata yang gadis itu tahan sedari tadi.

Meisha tiba-tiba merasa bersalah. Diam-diam dia menepuk pundak Aya pelan.

"Taman, yuk?" Aya mengangguk kemudian berlalu pergi tanpa menghiraukan Nara yang masih menatapnya kasihan. Meisha kemudian pamit pada Nara dan menyempatkan diri membeli susu kotak rasa stroberi.

***
Aya duduk di salah satu kursi panjang taman. Air matanya tak lagi sanggup ditahan. Aya tidak pernah tau bahwa melepas Adam akan sesakit ini. Bahunya di tepuk pelan dari belakang.

"Nih," Meisha menyerahkan susu kotak stroberi yang sudah ditancapkan sedotan. "biar lo gak kepedesan." tambahnya.

Masih dengan nafas satu-satu Aya meminum susu itu. Pikirannya mengulang adegan-adegan masa lalu saat Adam masih gencar meluluhkan hatinya.

Setiap pagi ia mendapati susu strawberry di mejanya dengan sticky note yang ditulisi pesan-pesan sederhana cowok itu. Seperti,

Semangat Alyen, jangan lupa diminum ya. :*

A Adhyastha P.

Kemudian Aya menemukan dirinya blushing dengan pesan-pesan beratas namakan Adhyastha tersebut.

Tapi kalau waktu di ulang kembali, akankah ia merenggut moment semanis gulali tersebut ? Aya meringis, kemungkinan besar akan ada banyak yang hilang kalau mereka kembali lagi.

"Kenapa, sih?" kalimat tanya Meisha membuatnya kembali ke dunia nyata. Nafasnya sudah kembali teratur, air matanya juga berhenti menganak sungai. Aya tersenyum, bodoh kah dia telah melepas kapten basket sekolah itu?

"Gue cuma ngerasa kita udah ngga cocok aja. Terus gue minta putus."

"Hm? Lo bosen?" Aya gelagapan menanggapi pertanyaan Meisha. Siapa yang bakal bosen sih memangnya kalau setiap hari diperlakukan sedemikian spesial?

"Hm, ya gitu deh. Hubungan kita kayak jalan di tempat, dan lurus-lurus aja. Bosenin." Lagi-lagi Aya tersenyum kecut, mulut manisnya pintar membual.

"Ada gitu ya hubungan bosenin yang berakhir bikin Aileen Kayana cengeng." sindiran halus itu sampai ke telinga Aya bahkan tercerna dalam otaknya-yang jarang buat mikir. Tapi gadis itu malah terkekeh geli, entah untuk apa. Yang Meisha tau Aya jelas tidak bahagia.

Bodo amat mlenceng jauh dari judul bab. Masih ada kemungkinan revisi lagi plotnya dan kemungkinan cerita ini tidak selesai :v

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Dec 10, 2018 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Come Back (Revisi) Where stories live. Discover now