GADIS HUJAN

8 3 3
                                    

Namaku Reynaldi Surya Gunawan. aku lahir dan besar di kota yang kata orang selalu macet, gedung tinggi dimana – mana dan pekerja malam. Benar sekali, Jakarta Ibukota Indonesia. Tujuh belas tahun yang lalu aku lahir dari rahim ibu. Dulu, aku adalah anak yang pendiam dan rendah diri. Semua berubah saat itu aku bertemu kalau bisa bilang adalah sahabat baik bahkan terbaik. Aku mengenalnya sebenarnya adalah seorang laki – laki seusia denganku. Awal dari perkenalan kita saat itu hujan cukup deras aku memutuskan untuk berteduh pada sebuah gubuk cukup tua itu. Saat bersamaan aku bertemu dengan orang asing tak ku kenal. Gugup sudah pasti karena aku tidak pernah berkomunikasi ataupun menyapa orang lain kecuali orang tuaku. Hening diantara hujan pertemuan berasa garing dan hanya hujan yang membisingkan suasana itu.

"Aku suka sekali hujan." sambil memandangi langit abu – abu itu.

"i-iya, bukannya itu menyebabkan bencana?" sambil menutupi kegugupanku.

"aneh ya, hahahaha. Tapi entah mengapa itu sesuai dengan keadaan hatiku" menunduk dengan senyuman.

"t-tapi b-bukan aku untuk menjelekkanmu. Apapun itu, kadang hujan bisa menjadi kebahagiaan loh." Membalas dengan seadanya.

"benarkah??" sambil mendekatkan mukanya kepadaku.

"h-h-h-he em." berusaha aku membuang muka.

"mari ayo, kita hujan – hujanan." Menggaet tanganku.

"b-bagaimana baju sekolah kita" disela menarik tanganku.

"sudahlah, kan besok kita libur. Ayo!" senyuman ceria tidak bisa menolakku.

Tas yang kutenteng aku tinggalkan untuk menikmati hujan dengannya. Kebahagiaan terpancar dariku dan dirinya. Saat – saat itu aku merasakan hati ini cerah walau hujan abu – abu. Aku bermain dengannya rasa canggung dan malu hilang seketika hanya hujan dan dia saja saksi itu dan awal itulah yang menjadi aku yang sekarang.

Terbangun dari sebuah mimpi indah itu. Aku berada pada sebuah kelas yang terkenal dengan kerusuhan dan kegaduhan. Guru – guru disekolahku sampai angkat tangan mengajarkan kelasku yakni kelas XI IPS 5. Murid terbelakang dan nakal saja yang masuk ke kelas ini dan aku adalah salah satu kalau dalam game adalah sang peramu strategi dimana kalau ada perang atau tawuran. Semua berada di depan aku selalu terbelakang karena aku tidak bisa menggunakan otot melainkan pikiran. Tapi entah mengapa aku jarang berbaur dengan mereka jika mereka menyapaku aku sapa jika tidak aku cuek tak memperdulikan. Bagiku cukup dia seorang dari masa laluku. Bodoh memang tapi aku akan menjaga janji dia berapapun lamannya. Hari ini tepat 8 tahun pertemuan kita saat itu pada taman itu. Setiap tahun aku selalu menyepatkan diriku untuk berkunjung di taman itu. Kebetulan saat itu hujan mengguyur. Gubuk tua itu masih ada hingga sekarang kadang aku menangis ingin bertemu dengannya. Aku duduk manis di kursi gubuk itu seperti dulu tidak ada yang berubah dari tatanan kursinya. Hingga senja sudah menampakkan aku menyudahi rinduku.

Hendak aku melangkah ke arah rumah. Samping rumahku gaduh dengan sana – sini membawa barangnya. Sepasang keluarga keluar dari mobil itu dan diikuti oleh seorang perempuan yang tak kenal masuk. Aku perhatikan seperti dari luar negeri celingak celinguk sambil mengingat aku berjalan ke rumahku. Siapakah gerangan baru saja mau membicarakan tetangga misterius itu tiba – tiba pintu rumahku di ketuk oleh seseorang dan ternyata itu tetanggaku. Mampir sambil memperkenalkan dirinya beliau adalah Charles Andrew Bryan dan istirnya Charlotte Yuli Bryan mereka dulu tinggal di belanda tapi memutuskan untuk tinggal di Indonesia karena suaminya harus bekerja di suatu perusahaan swasta di Jakarta. Saat itu anaknya yang seumuran denganku tapi katanya orang tuanya itu dia tidak mau diajak karena capek dari perjalanan jauh. Wajar saja karena dari Belanda sana ke Jakarta pasti capek. Mereka memberikan sebuah coklat kepada keluargaku tanda mereka memperkenalkan dirinya yang berstatus tetanggaku. Mereka mengobrol sampai larut malam tentang politik sampai dengan gosip – gosip di indonesia walaupun mereka berdua belum terbiasa dengan bahasaku Indonesia tapi mereka cukup mengerti dan untung keluargaku termasuk pandai dalam berbahasa inggris jadi mereka menjelaskan dengan bahasa Inggris dengan diselingi kalimat – kalimat bahasa Indonesia. Sudah tengah malam mereka memutuskan untuk kembali ke rumah untuk beristirahat dari jauh sambil membayangkan siapa sosok anak dari keluarga itu membuatku pusing tujuh keliling dan memutuskan untuk tidur.

Pagi hari, selongsong matahari menyinari dalam rumahku tanda untukku untuk menjalani akifitas yang paling kubenci yakni sekolah dengan keterpaksaan aku berangkat juga mungkin karena untuk masa depanku. Bel masuk sekolahku dan tidak seperti biasanya ada yang berbeda di kelas itu. Semua membicarakan murid baru tak peduli tetap aku cuek karena aku tidak suka untuk mencampuri urusan orang lain. Guru yang mengajarku masuk dan dari belakang diikuti oleh seseorang berambut pirang dan memiliki tubuh yang sangat menawan.

"diam semua. Ada murid baru kelas ini akan menemani kalian semua hari ini. Silahkan masuk." Ucap guru mempersilahkan masuk murid baru tersebut.

Dag dig dug hatiku. Tak terbayang semua temanku berkata terdapat murid baru rambut pirang dari luar negeri dan kebetulan tetanggaku yang baru berasal dari luar negeri berkata bahwa mempunyai anak perempuan yang sepantaran denganku tomboy. Pikiranku langsung pusing kutidurkan ke meja. saat itu kebetulan apa takdir sebelah tempat dudukku kosong karena aku tidak pernah mencolok dan selalu menghindar dari teman – temanku yang lain. Jika dibutuhkan mereka langsung menghampiriku dan bertanya lalu meninggalkanku tanpa kata – kata.

"perkenalkan namaku Angelica Silvia Bryan. Kalian bisa memanggilku Angel atau Silvia, salam kenal semua" suara nyaring menusuk dalam ke telingaku.

"kamu sekarang duduk di... hmm, sebelah rey saja ya." ucap guruku suara langkah itu semakin terdengar keras pertanda semakin dekat denganku.

Tiba – tiba sebuah tangan menepuk pundakku. Otomatis aku terbangun dan betapa terkejutnya disebelahku perempuan cantik, manis, dan sangat mempesona mau duduk disampingku. Mata tajam tanda akan hawa menghunus ulu hatiku semakin dekat.

"kenalkan. kamu bisa panggil aku Angel atau Silvia, kamu?" menjulurkan tangan seraya ingin bersalaman denganku.

"R-R-Rey, s-salam kenal. Angel." Ucapku sambil gugup.

Disitulah awal kisahku dengan cewek tetanggaku yang cantik, baik, dan idola dari sekolahku.

-------------------- To Be Continue--------------------- 

Salam Author Receh

Kritik Saran Dan Comment kami terima.


You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Feb 18, 2018 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

DESTINY RAINYWhere stories live. Discover now