1. Aku

54 3 0
                                        

Namaku Kara, Karanina Anindita. Anak pertama dari dua bersaudara. Umurku 16 tahun, dan sebentar lagi 17 tahun. Dan masih duduk di kelas XI SMA. Tidak punya banyak teman hanya beberapa, tapi menurutku itu lebih baik daripada punya banyak teman tapi palsu.
Aku suka membaca, tapi hanya suka membaca novel. Hehehe..

Aku tidak punya idola, selain mengidolakan ibuku sendiri, menurutku tidak ada yang patut untuk aku jadikan idola selain beliau. Wanita terhebat dan terbaik yang kutemui. Aku selalu merasa beruntung telah terlahir dari rahimnya..

✳✳✳✳

Pagi itu seperti biasa, aku bangun walaupun jam baru menunjukkan Pukul 05.00 pagi. Aku bangun dalam keadaan tanpa rasa sedih sedikitpun, mengambil air wudhu dan sholat. Setelah sholat, aku duduk menghadap jendela, perlahan kulihat matahari pagi sedang berusaha masuk kedalam kamarku dengan menerobos sela-sela jendela kamarku. Aku senang melihat ketika malam perlahan menghilang digantikan oleh pagi. Aku merasa disaat itu ada harapan yang siap untuk direnggut ketika kesedihan berakhir. Ada cahaya yang siap menerangi ketika malam perlahan pergi.

Tiba-tiba kudengar pintu kamarku diketuk perlahan. Dan aku sudah sangat hafal, apa yang akan dikatan ibuku ketika itu,
"Kara sayang.. Kamu udah bangun?"
Dengan perasaan yang masih ingin menikmati usaha cahaya matahari masuk ke dalam kamarku, masih belum ingin untuk beranjak dari tempatku duduk.
"iya ma.. Kara udah bangun kok"
Sambil berjalan menuju pintu, untuk memberi kepastian kepada ibuku bahwa aku tak lagi bermalas-malasan menikmati usaha matahari yang ingin menyapaku. Lalu kubuka pintu kamarku.
"Kamu siap2 gih ke sekolah"
"Iya ma.."
Ibuku berlalu, menuju dapur menyiapkan sarapan pagi seperti biasa.

Dia ibuku, seorang singleparent, wanita karir, maneger sebuah bank. Namanya Sofia, Ibu Sofia. Yah begitu ia biasa dipanggil. Aku tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari ibu akan sendirian mengurus aku dan adikku, tanpa bantuan ayah. Ayahku meninggal ketika aku masih berumur sekitar 6 tahun dan adikku berumur 2 tahun waktu itu. Pada saat itu, yang aku tau bahwa ayahku sedang bekerja, dan pekerjaannya harus dia lakukan di tempat yang jauh. Yah begitu kira-kira waktu itu mereka menjelaskannya kepadaku. Dan aku percaya.

✳✳✳✳

Aku telah bersiap berangkat kesekolah ketika jam menunjukkan Pukul 06.30. Kulihat ibuku yang juga telah siap untuk berangkat ke kantornya, adikku siap dengan seragam sekolah yang akan diantar oleh ibu. Sedangkan aku berangkat sendiri menggunakan angkutan umum. Setelah menikmati sarapan yang disediakan oleh ibuku, aku bergegas untuk berangkat. Ku salim tangan ibuku dan seperti biasa ia mencium keningku dan berkata,
"Kamu hati-hati ya dijalan, mama sayang kamu."

"Iya, aku juga sayang mama."
Setelah itu kucium kening adikku dan berkata,

"Love you, belajarnya yang rajin ya.."

"Love you too kak"

Jarak rumahku ke sekolah tidak begitu jauh, aku bisa menempuhnya dengan menggunakan angkutan umum sekitar 15 menit. Hari ini perasaanku seperti hari-hari biasanya, merasa bahwa sekolah adalah kewajiban setiap anak demi membahagiakan orang tua mereka. Kadang aku merasa begitu bersemangat untuk kesekolah, seringkali merasa biasa saja. Tidak ada yang spesial.

✳✳✳✳

Bel istrahat telah berbunyi, tandanya pelajaran Fisika yang menurutku sedikit membosankan telah selesai.

PERNAHStories to obsess over. Discover now