PROLOG

0 0 0
                                        

Langit biru terbentang dengan matahari pagi yang cukup terang untuk menyambut hari pertama Nindya yang sedang mengendarai motor bebeknya yang berwarna biru putih menuju sekolah barunya, SMA M2 Kota Bengkulu. Setelah libur kelulusan SMP yang cukup panjang dan pendaftaran serta seleksi masuk SMA yang telah dilewati, entah mengapa pilihan hati Nindya jatuh pada sekolah ini. SMA M2 ini adalah sekolah dengan tema hijau, yang hanya berjarak 1 km dari rumah Nindya, ya bisa dibilang berjalan kaki saja sampai. Namun, masa remaja adalah masa yang sedang ingin diperhatikan lebih oleh orang lain, dan gaya-gayaan menggunakan motor jadi hal yang biasa bagi anak remaja apalagi SMA, meskipun sepatutnya dilarang ya karena masih dibawah umur. Nindya memasuki gerbang sekolah dan memarkirkan motornya di halaman parkiran sekolah, suara siswa yang saat itu berlalu lalang seperti kicauan burung yang sedang riuh, namun terdengar harmonis di telinga Nindya, terdengar teriakan memanggil, terdengar canda tawa, terdengar langkah tergesa, terdengar obrolan berkenalan, terdengar gosipan panas, terdengar suara motor menuju parkiran dan terdengar pula gumaman siswa malas yang masih mengantuk seolah terpaksa menuju sekolahnya pada hari itu.

Nindya turun dari motornya, melihat ke arah spion untuk merapikan penampilannya yang tadi telah tertiup angin selama perjalanan menuju sekolah. Nindya yang pada saat itu mengenakan hijab putih, almamater abu, rok panjang abu, dan tas pink berjalan menuju masjid sekolah. Setiap pagi, semua siswa diharuskan untuk sholat dhuha berjamaah di masjid sekolah. Ini adalah kegiatan pagi untuk semua siswa setiap harinya. Setelah semua siswa melaksanakan sholat dhuha, siswa lain kembali menuju kelasnya masing-masing sedangkan siswa baru diperintahkan oleh guru untuk berkumpul dan berbaris di lapangan, karena nantinya akan ada pembagian kelas.

Semua siswa baru telah berkumpul dan berbaris di lapangan. Di antara ratusan siswa yang memenuhi lapangan, seorang guru yang mengenakan hijab hitam dan blezer rapi lengkap dengan sepatu pantofel tingginya, berjalan menuju ke hadapan semua siswa baru dengan pelan namun pasti seperti ritme musik lembut tapi terdengar menegangkan.
"Assalamu'alaikum, selamat pagi anak-anak", sapa guru tersebut.
"Wa'alaikumussalam, selamat pagi bu", jawab semua siswa.
"Saya Ibu Beti, saya akan memberikan informasi terkait pembagian kelas kalian yang telah ditetapkan secara resmi pada hari ini. Di belakang kalian, pada ujung lapangan, ada mading besar yang berisi tulisan pembagian kelas. Silahkan kalian baca nama kalian dan masuklah ke kelas yang telah ditentukan. Apakah bisa dimengerti?", tanya bu Beti.
"Mengerti, bu", sahut semua siswa baru.
"Baik, silahkan menuju mading dan langsung ke kelas kalian masing-masing, nanti akan ada wali kelas kalian yang akan masuk ke kelas dan mengajar kalian. Saya akhiri, Assalamu'alaikum".
"Wa'alaikumussalam", dan semua siswa baru pun bubar dari lapangan tersebut menuju ke mading besar untuk mengetahui dimana kelas mereka.

Sebuah mading yang berbahan dari kayu berdiri dengan tinggi dan lebar, tertempel banyak kertas dengan rapi, semua nama siswa baru ada di kertas tersebut. Nindya mencari namanya di mading tersebut dan terlihat, Nindya Amelia Tiffany, X IPA 1. Nindya bolak-balik dari satu kertas ke kertas lain untuk memastikan apakah itu benar-benar namanya. "Sepertinya tidak mungkin ada nama yang sama", gumam Nindya. Melihat dua siswi perempuan yang juga melihat pada bagian kertas yang sama, akhirnya Nindya pun memberanikan diri untuk bertanya, "hai, apakah kalian kelas X IPA 1 juga?". "Iya, namaku tertulis di kelas itu", jawab salah satu dari siswa tersebut. "Namaku juga", sahut siswa satunya. "Berarti nanti kita akan satu kelas, ini namaku", seru Nindya sambil menunjuk namanya yang tertulis di kertas tersebut. "Kalau begitu, ayo kita cari kelas kita bersama", ajak salah satu siswa itu. "Boleh, namaku Nindya", ucap Nindya sambil menjulurkan tangannya mengajak berkenalan. "Alena", jawab siswa itu menjabat tangan Nindya. "Difla", jawab siswa satunya yang menjabat tangan Nindya juga. "Mulai hari ini kita harus sama-sama trus ya", ucap Difla. "Itu artinya kita akan bersahabat yeay", seru Alena. "Asyik, kita kemana-mana barengan ya, belajar bareng, ke kantin bareng, perpustakaan bareng, pasti seru", Nindya yang kegirangan mendapatkan sahabat baru di hari pertamanya sekolah. "Pastinya seru banget dong.. let's go", seru Alena heboh. Akhirnya, mereka bertiga berjalan bersama menyusuri sepanjang koridor sekolah menuju ruangan-ruangan kelas untuk mencari dimana kelasnya.

Sesampainya di kelas yang telah tertulis X IPA 1 diatasnya, mereka pun masuk ke kelas. Kelas itu telah ramai dengan siswa yang telah memilih dan menempati bangkunya masing-masing. Kemudian mereka bertiga mencari bangku yang kosong untuk ditempati. Nindya dan Alena duduk sebangku, sedangkan bangku sebelahnya Difla masih kosong belum mempunyai penghuni. Tak lama kemudian, datanglah seorang siswa perempuan yang menanyakan bangku disebelah Difla, "apa bangku ini kosong?", tanya siswa tersebut. "Iya", jawab Difla. "Apa aku boleh duduk disini?", tanya siswa itu lagi. "Boleh, sini", jawab Difla ramah. "Namaku Haniatul, panggil Atul aja", ucap siswa itu sambil duduk dan meletakkan tasnya. "Aku Difla", jawab Difla dengan ramah. "Ini sahabat aku, Nindya sama Alena", ucap Difla mengenalkan. "Hai..", seru Nindya dan Alena berbarengan. "Hai, aku Atul, salam kenal ya", ucap Atul ramah. Akhirnya Difla memiliki teman sebangku yang baru. Mereka berempat akhirnya mengobrol dan saling berkenalan satu sama lain, dengan sedikit berbincang perihal tempat tinggal dan SMP lama mereka, tak lupa pula dengan sedikit bercanda. Baru pertemuan pertama yang sangat singkat, namun mereka sudah terlihat sangat akrab.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Nov 30, 2025 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

DindyWhere stories live. Discover now