Prolog

46 6 4
                                        


"WOI GUE NEMU BIDADARI NIH, INI DI HADAPAN GUE!!!!!"

*****

Pagi ini cuaca sedang tidak mendukungku, terlihat langit diluar sana sangat gelap. Padalah hari ini adalah hari senin dan aku harus pergi ke sekolah, tadinya aku sempat berfikir kalau lebih baik aku tidur saja rumah, tidak usah sekolah.

Namun, teriakan Mama membangunkan ku, bukan hanya membangunkan ku, tapi tetangga pun ikut terbangun juga.

"DARAA! CEPETAN TURUN. KAMU SUDAH TELAT INI?!" nahkan baru juga disebut, sudah teriak lagi.

Aku pun segera berlari keluar kamar menuju meja makan, tapi saat hendak menuruni tangga terakhir, tiba-tiba tubuhku terjatuh. Jangan ditanya gimana sakitnya, Sialan. Pantat ku sakit banget ini.

"HUWAAAA SAKITTTTT!!!!" teriakku mengejutkan semua orang yang ada dirumah saat itu.

"Mampus." Aku menolehkan kepala ku, terlihat Abang Dani disampingku, bukannya menolong atau membantuku, ia malah melanjutkan jalannya, seolah tidak peduli padaku.

"KAMU INI GIMANA SIH?! UDAH CEPETAN BERDIRI!!!!" teriak Mama ku yang ternyata sudah di depanku.

"Tapi kaki Dara sakit Ma." Ujarku memelas, biasanya Mama akan luluh dengan muka melas ku.

"Gak usah banyak alesan kamu." muka ku berubah seketika, sedih? Jelas lah aku sedih. Tapi mau gimana lagi, hari ini Mama lagi sensi dan tidak ada seorang pun yang bisa meluluhkannya.
Terlihat Papa 10 langkah dibelakang Mama, aku tau ia memberiku isyarat agar mengikuti apa kata Mama. Akhirnya aku nyerah dan memilih mengalah dari Mama.

"Sarapan dulu kamu." ketusnya.

"Gak Ma, Dara sarapan disekolah aja." Jawabku lemas.

"Janji kamu ya?" nah membaik ternyata.

"Iya Ma. Dara berangkat, Assalamualaikum." Setelah pamit dan bersamalam kepada Mama, aku langsung berjalan beriringan bersama Papa, hari ini Papa akan mengantarku dan Kak Dani ke sekolah.

Selama perjalanan, tidak ada yang memulai untuk berbicara, aku juga lebih memilih diam sambil memperhatikan kearah luar jendela.

********

"Pa, Dara mau sekolah, Dara mau belajar biar pintar, Papa doain Dara ya. Dara sekolah dulu pa, Assalamualaikum." Ucapku setelah mobil Papa berhenti di depan gerbang sekolah, ku lirikan mataku ke Bang Dani, ternyata dia sedang melihat ke arahku dengan tampang jijinya.

"Iya sayang, Papa doain. Kamu jangan nakal ya." Jawab Papa sambil mecium pipiku.

"Mau sekolah aja kebanyakan drama kamu dek." Aku tau Bang Dani sebenarnya iri padaku, iyasih aku juga ngerasa aneh bersikap gini, tapi bodo ah.

"Pa, Dani sama Dara sekolah. Assalamualaikum." Setelah mengucapkan itu Bang Dani dan Aku langsung turun dari mobil, kulambaikan tanganku ke arah mobil Papa yang makin menjauh.

"Masuk sana! udah bel tuh." Kak Dani berjalan mendahuluiku, dasar Abang tidak peka, padahal aku ingin dia mengantarkan ku sampai depan kelas.

Selama perjalanan menuju kelasku, Aku selalu memikirkan kenapa tadi pagi Mama begitu sensi ke Aku?
Apa tadi malam Papa pulang larut lagi?
Atau drakor yang dia tonton ceritanya ngegantung?
Entahlah aku pusing sendiri memikirkan itu.

NARAWhere stories live. Discover now