Prolog

771 40 9
                                        

Hari pertama masuk sekolah baru. Meski gue udah diterima di sekolah kejuruan ini, gue masih pakai seragam putih-birunya SMP.

Yap. Karena hari ini, hari pertama MPLS.

Gue liat papan pengumuman yang udah dikerubungi banyak siswa baru. Gue ngedeket gara-gara penasaran.

Di situ ada empat kertas putih, tiap kertas berisi deretan nama siswa dari nomor satu sampai tiga puluh empat.

Wah. Pembagian kelas.

Tiba-tiba aja gue keinget Astri sama Yayas. Mereka sahabat gue di SMP. Kita bertiga ngeklop banget sejak kelas 7. Tiap pembagian kelas gue selalu liat pengumuman bareng mereka. Berharap bisa sekelas lagi.

Dan sekarang,

Astri sama Yayas ngelanjutin sekolah di SMA yang sama. Gue beda sendiri, euy.

Dan tau apa? Dari 300-an siswa yang seangkatan sama gue di SMP, ya cuma gue yang ngelanjutin sekolah ke Sekolah kejuruan ini.

Ayah pengen gue jadi anak farmasi. Terus Ayah pilihin buat gue sekolah farmasi terbaik di kota ini.

Gue mau banggain Ayah. Tapi tetep aja. Keputusan ini setengah hati. Bahkan mungkin malah seperempat hati.

Intinya, gue masih nggak rela.

Gimana kalau nanti ngejalaninnya juga setengah hati?

Tau ah.

"Eh, gue kelas apa tadi?" kata gue yang sadar baru aja bengong. Nggak tau nanya ke siapa.

Satu persatu kertas gue lihat. Pas nemu nama gue di nomor ke dua kelas X Farmasi 1, jari telunjuk gue berhenti.

Bersamaan dengan itu seorang perempuan yang tingginya hampir sama kayak gue juga mendaratkan telunjuknya di kertas yang sama.

Tepat di atas telunjuk gue berhenti.

Kita sekelas.

"X Farmasi 1?"

"X Farmasi 1?"

Kita nanya barengan. Pertanyaan yang sama pula. Gue ketawa. Dia juga.

"Yuk ke kelas bareng."

"Iya," jawab gue.

"Nama kamu?" tanya perempuan itu.

"Gue—Airin. Airin Adinda Prameswari."

Gue yakin. Hari ini, pertama kalinya kalian tau nama gue.

"Aku Aisha," kata dia.

Oh.

Jadi keinget salah satu sinetron. Batin gue.

A/n : teenlit terbaru nih hehe

Putih-Biru LautStories to obsess over. Discover now