Hi, gue Trisara. Err, sori?—oh, nama panjang. Oke, nama panjang gue Trisara Sastradji. Alasan gue jadi pembuka sesi perkenalan ini adalah karena karakter yang lain mempersilakan gue untuk jadi yang pertama.
Ladies first, kata mereka. Cih, pencitraan.
Dengan diberinya kesempatan untuk gue bertutur panjang mengenai siapa dan bagaimana gue sebagai seorang Trisara, gue akan mempergunakan kesempatan kali ini dengan sebijak dan sepanjang mungkin. Peace.
Gue tinggal ditempat yang paling pas untuk nikmatin teh susu hangat setiap harinya, tepatnya di Lembang, Bandung. Hobi gue itu tidur, baca, tidur, dengerin musik, dan lagi-lagi tidur. Ya bisa disimpulkan bahwa hobi gue itu berada didalam kamar seharian.
Pacar? Err, nggak ada dan untuk saat ini gue belum kepikiran untuk punya hubungan sama cowok. Tapi gue punya mantan. Dan dia satu-satunya.
Namanya Ghandi. Gue dan Ghandi ini satu sekolah dan kami punya hubungan saat kelas XI. Dua bulan setelah cowok itu nembak gue, dia kembali nembak temen sekelas gue, Shannia. Terlebih lagi, umur hubungan mereka sudah memasuki bulan ke-5 dan dengan sangat kurang ajarnya mereka terlihat bahagia saat menginjak-injak harga diri gue. Monyet, kan?
Dikhianatin pacar dan cinta pertama, ditambah dengan pengalaman asmara orang-orang terdekat gue yang penuh air mata dan ketidak jujuran buat gue semakin takut untuk dekat sama cowok. Kenapa? Karena butuh waktu lama buat menyembuhkan hati yang patah dan gue nggak mau lagi ngerasain sakit yang sama. Singkatnya, gue kapok.
Dan, seperti kebanyakan orang. Gue punya teman dekat. Mereka Arum dan Jingga. Kami sudah berteman dari jaman kami masih piyik. Arum dan Jingga ini yang membantu gue untuk mulai berani jadi diri gue sendiri. Gue bisa berubah jadi keran bocor kalau lagi sama mereka, dan mereka punya seribu cara ular agar gue terlihat tolol. Dan tentunya, mereka bisa buat gue ngerasa kayak gue ini cewek paling beruntung karena punya mereka sebagai sahabat.
Terakhir, gue ini punya masalah. Bukan dengan orang lain, melainkan dengan diri gue sendiri. Oke, segitu aja. Gue harap kalian menikmati cerita picisan ini.
Xs and Os.
YOU ARE READING
Penyap
Teen Fiction--- Gaza, si perakit tawa. Jika dapat diibaratkan sebagai warna dan rasa, bagi Trisara, Gaza itu warna jingga yang disuguhkan petang dan dingin yang ditinggalkan hujan. Trisara, penikmat sepi. Ketenangannya menenggelamkan layaknya samudera...
