PROLOG

73 5 0
                                        

Aku tahu, bahwa dunia tak semenakjubkan itu. Walaupun aku akui, aku sempat berpikir demikian. Tapi itu dulu.

Dulu...sekali...

Ketika itu aku berpikir, semesta baik sekali, indah, dan memberikan apapun yang ku mau saat itu juga. Warnanya melebihi ketujuh warna pelangi, warna yang mampu membangkitkan keceriaan setelah gerimis tiba, mengundang tawa, bahkan menghapus air mata menjadi seulas senyum dari sepasang mata yang telah beruntung melihat sosoknya.

Aku juga pernah bilang kepada Mama,

"Mama, aku ingin seperti semesta"

Saat itu Mama mengerutkan keningnya tanda heran.

"Kenapa Zia ingin seperti semesta ?"

Tak heran Mama bertanya seperti itu, pasalnya aku masih sangat kecil. Aku juga akan memberikan respon yang sama, bila tiba-tiba ada anak kecil mengutarakan kalimat demikian.

Dunia atau semesta artinya sama saja. Sama-sama mengandung kehidupan di dalamnya. Juga sama-sama menuliskan suka duka. Aku dulu menggantungkan cita ku pada semesta, berjuta-juta harapan aku simpan di sana. Berharap suatu saat, mimpi itu menjadi hadiah paling istimewa dalam perjalanan ku selama bersama semesta.

Semesta itu, teman untuk aku. Seperti halnya seorang teman, kadang membuat hati senang sekaligus menjengkelkan. Ia menjadi penonton paling hebat di dunia. Bagaimana tidak, semesta yang aku anggap teman hidup ku sendiri, tega sekali hanya menyaksikan aku menangis tersedu. Tanpa berbuat apa-apa, sedangkan aku tengah meratapi sedih sendiri.

Kakak laki-laki ku senang sekali mengejek tentang mimpi ku yang satu ini. Katanya, aku hanya gadis kecil bodoh yang memiliki mimpi konyol, seperti ini ungkapnya :

"Zia...Zia...jangan ngaco deh kamu, mimpi kok aneh bener, ingin jadi semesta ?" ucapnya lancar tanpa merasa berdosa.

Kalau sudah seperti ini, ingin sekali aku tampol muka nya berkali-kali.

"Gini yah Bang, ini mimpi siapa ? Mimpi aku kan ? Mama juga gak pernah komentar tuh" kala itu aku langsung saja membalas ucapannya tanpa ampun, yang hanya dibalas dengan gumaman tak jelas.

Ia adalah satu-satunya saudara yang ku punya. Suatu keberuntungan memiliki kakak laki-laki, pengganti sosok ayah yang telah lama tiada. Aku bahkan tak sempat melihat bagaimana paras seorang ayah waktu itu. Kakak merupakan harta paling berharga setelah Mama. Walau terkadang membuat ku naik pitam, tapi ia seorang pelindung hidupku. Aku teramat menyanyanginya.

Kami berdua sering sekali bertengkar, saling beradu argumen, dari masalah terbesar sampai terkecil. Yang berujung mendengarkan ceramah panjang setengah malam dari Mama.

"Alby, sudah, jangan meledek adik mu terus" itu kata Mama. Aku paling suka ketika Mama memberikan nasihat dengan nada keibuannya.

"Tapi Ma-" Kakak ku itu paling sulit menerima saran orang lain, kecuali dari sesosok malaikat di keluarga kami. Ketika satu kata sudah terucap, maka kami berdua pasti akan bungkam. Tak berani menentang perintah Mama barang satu pun. Seperti itu contohnya, belum sampai selesai meneruskan ocehannya, saat Mama membalas dengan gelengan, Abang tidak bisa berkutik lagi. Itu artinya aku memenangkan perang mulut dari Abang Alby.

Adhitama Alby Kafael, kakak terhebat yang diberikan semesta untuk aku miliki. Ada banyak alasan aku selalu membanggakan semesta, salah satunya Mama dan Abang. Kenapa tidak, mereka adalah dua manusia yang menjadi alasan aku tetap bertahan hidup.

Hidup mewah bukan alasan untuk bahagia, aku lebih mengharapkan sederhana diselimuti bahagia selamanya. Selamanya ? tidak mungkin.

Cukup.

Tidak akan habis bila terus menceritakan ketidak-akuranku dengan sang Abang tercinta.

Saat ini aku sedang berusaha melupakan kebaikan semesta. Paling tidak untuk satu jam, alasan yang ku buat untuk melupakan mimpi yang telah ada sejak dulu. Sejak aku bicara pada Mama, juga sejak diledek Abang Alby sampai sekarang.

Di dalam ruangan bercat putih, aku setia duduk menghadap setumpuk buku beragam materi. Berusaha mengahapal pelajaran yang besok akan diulangankan. Mata ku meneliti setiap baris pada buku Biologi yang ku pelajari. Ketika sayup-sayup telingaku menangkap suara Mama menyebutkan namaku,

"Zia, tidurnya jangan kemalaman, nanti kesiangan !" oh rupaya perintah Mama dari ruangan bawah,

"Iya Ma" aku buru-buru merapikan buku-ku kembali, menatanya penuh hati-hati. Aku paling gemas melihat buku-buku yang tidak diletakkan ditempatnya. Seperti saat sepupu perempuan ku yang gemar sekali mengacak-ngacak buku-buku kesayanganku, setiap kali berkunjung ke rumah. Terlalu sering aku memarahinya, tapi mau bagaimana lagi. Toh aku yang kebagian jatah membereskannya.

Setelah memberitahu Mama, aku segera beranjak menuju ranjang yang tak jauh dari meja belajar berada. Aku melepas alat yang seminggu ini membantuku untuk mendengar suara di sekelilingku. Meletakkannya di atas nakas samping tempat tidur. Kemudian membaringkan tubuhku sepenuhnya, sebelum benar-benar terlelap. Dan sebelum kembali membuka mata untuk menyaksikan betapa kejamnya semesta pada gadis yang belum sepenuhnya dewasa ini, pada ku, Marzia Rana.

AkuStories to obsess over. Discover now