PROLOG

521 57 114
                                        

"GAK LUCU!"
    Pukulan keras gadis itu berikan pada meja yang sedari tadi menerima tangannya untuk bersandar. Kemudian gadis itu beranjak dari kursi yang sedari tadi juga menerima bokong nya untuk bertapa. Pergi meninggalkan tempat yang dipenuhi gerombolan manusia suci menuju kamarnya. Hantaman keras diterima pintu, entah apa salah benda tak berdosa itu. Ia marah. Tatapan matanya nanar. Seketika cairan bening menghiasi wajah putih bersih miliknya. Gadis itu berkelana mengairi nasib.
    "Kenapa!? Apa mereka sudah merasa paling sempurna? Manusia juga punya batas kesabaran." Ia merintih pada hati yang sudah sejak lama tertatih. Membandingkan kehidupannya dengan gadis lain yang hidup ditengah-tengah asyiknya senda gurau bersama keluarga. Mengapa ia tidak demikian?
    Liana. Nama gadis itu. Gadis yang masih duduk di bangku SMA kelas 2 itu memang punya bakat mendrama. Tapi tidak kali ini. Bisa dilihat dari point of view manapun, masalah ini hanyalah masalah sepele. Tapi tidak bagi Liana. Barangkali satu atau dua kali kau di olok-olok, tentu bisa memaklumi. Lebih dari itu? Apakah masih bisa menerima? Liana bukan orang seperti itu.
    Liana mulai beranjak menuju meja belajar dan mendapati diary berwarna abu kesayangannya.
    Dear Diary,
    Aku mengerti. Dan aku paham. Acapkali emosi pada diriku tersulut pada hal-hal yang menurutku bertentangan dengan diriku. Terkadang, sulit untuk menahannya. Tapi, dikata-katai di depan orang banyak yang bertamu di rumah ku, dan kau tahu siapa yang berkata? Orang tua dan kakak ku sendiri. Malu dan sakit hati yang terasa. Mungkin ini tidak berarti apa-apa bagi mereka, tapi ini apa-apa bagiku. Keharmonisan keluarga seperti dalam novel ataupun film, tak lain hanyalah khayalan yang tak akan pernah bisa aku gapai. Bagi mereka, aku hanyalah sampah yang sedang asyik bermuara di istana mereka, dan bagi ku, aku sedang berkelana di tanah neraka, yang isinya manusia suci tadi. Entah sampai kapan aku begini, semoga aku tegar. Ya. Barangkali mencoba untuk tegar.
    Ia menutup buku setebal 5 cm itu, menaruhnya beserta bolpoin hijau yang telah membantu Liana menggoreskan kembali isi hatinya melalui diary diatas meja belajarnya.
    Kembali terngiang kisah lalu, sebuah fakta pahit, seperti pil yang harus ditelan padahal sedang tidak sakit, bahwa dia bukan anak kandung dari kedua orang tuanya. Liana adalah anak pungut! Liana ditemukan oleh Bu Eka, Ibu Liana di sekitar jalanan Suryagresik, tepatnya di dalam tempat sampah ketika Bu Eka sedang menunggu angkutan umun. Sadis. Entah siapa yang tega mengasingkan dirinya dari hiruk pikuk duniawi kedalam tempat yang menjijikkan itu. Liana berhasil diselamatkan oleh Bu Eka, yang kebetulan saat itu belum dikaruniai anak. Jika saja gadis itu bisa memilih, ia lebih baik tidak terlahir ke dunia atau menetap di panti asuhan saja daripada harus menjadi bagian dari keluarga Bu Eka, menjadi anaknya.
    Hidupnya kelam. Hitam, abu-abu, dan hanya sedikit hiasan warna putih. Untung saja Liana memiliki sedikit jiwa pemberontak, jadi kelakuan semena-mena yang ia terima dari Bu Eka, Suaminya, dan anaknya bisa ia lawan.
    "Mungkin saatnya aku tidur. Sudah malam juga. Tidur, berharap tidak berjumpa pagi, Bu Eka, Bapak, Rani dan tidur untuk selama-lamanya." Liana bercakap pada diri sendiri dengan balutan doa yang, ah, ada-ada saja.
    Hembusan angin malam seakan menina bobokan Liana. Perlahan matanya terpejam, diiringi dentuman jarum jam yang setiap detiknya, akan sampai pada menitnya. Suara jangkrik yang biasanya membuat bulu kuduk merinding, hari ini menambah kesyahduan malam Liana. Rasa lelah jiwa raga membuat semuanya kacau dan patut untuk di refreshing-kan dengan tidur. Selamat tidur, Semesta!




Halo semua! Terima kasih terima kasih terima kasih sudah baca :)
Kritik+saran akan selalu jadi makanan serta stamina buat aku menulis. Comment dibawah, ya!
Dan "dont forget to vote"
Baca berikutnya -----------------------------------»

Secawan SerinduBağımlısı olacağınız hikayeler. Şimdi keşfedin