We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

1. Alunan Musik

40 8 14
                                        

Musik yang mengalun lembut mampu membuat terbuai orang yang mendengarnya. Seseorang di balik alat pendengar yang di pasang di telinga itu menutup kedua matanya seraya menggerakan kepalanya ke kiri dan ke kanan.

"Meollaseulkka" aku menggumamkan sebait lagu. Ralat, maksudku satu kalimat dari lagu yang kudengar. Ya, orang yang mendengarkan alunan musik itu aku.

Namaku Hasna Khoirunnisa, orang-orang biasa memanggilku Aca, Hasna, si pencinta oppa, kpopers tidak modal, penghayal, pengagum roti sobek buluk. Pasti beberapa orang paham dengan sebutan yang terakhir.

Aku memang penyuka aliran musik Kpop, yaitu musik yang berasal dari Negeri Ginseng. Dimana lagi jika bukan Korea Selatan. Aku mengagumi mereka melebihi dari apa yang kalian bayangkan.

Aku pernah bermimpi untuk menjadi hair stylish artis di Korea agar aku dapat menyentuh rambut mulus para idol disana. Aku pun pernah bermimpi untuk sekolah dan bekerja paruh waktu disana agar hidupku berjalan seperti drama yang pernah ku tonton. Tragis memang.

Orang-orang mengatakan padaku bahwa mimpiku terlalu jauh, sehingga aku harus menghadapi cemoohan orang-orang sirik itu setiap hari. Kuakui aku memang memiliki mimpi seperti orang gila. Tapi, berharap tidak salah bukan selama berharap itu tidak dilarang oleh undang-undang.

"Ca!" Suara yang familiar itu menghentikan aktivitas ku sejenak. Aku hanya mengecilkan volume musik yang berputar di handpone agar dapat mendengar suaranya lebih jelas.
"Apaan Riv?"
"Gue laper, ke kantin yuk!" Riva memegangi tanganku dan mengerutkan bibirnya, wajahnya memelas persis seperti kucing yang meminta makan pada majikannya.

Namanya Rivalina Susanto. Dia sahabatku sejak kami dilahirkan. Ini bukan hiperbola, memang seperti itu kenyataannya. Riva dan aku di lahirkan di Rumah Sakit yang sama, ruangan persalinan yang sama, dan hidup dilingkungan yang sama. Singkatnya, kami tetangga dan selalu sekolah di sekolah yang sama dan berada di kelas yang sama.

Riva ini bukan maniak oppa sepertiku, tetapi dia mendukung hobiku. Pikirannya lebih realistis dan masa depannya terstruktur dengan sangat baik. Aku heran mengapa ia tak tertular virus kpop padahal aku selalu mencekoki dirinya dengan musik video kpop. Antibodinya terlalu kuat.

"Gue males, Riv. Jam segini tuh jam nya rame banget. Kantin kaya pasar gerebek, penuh terus sesek. Belum lagi pada bau ketek." aku mengalihkan fokusku pada handphone.

"Tapi gue laper Ca. Gue traktir batagor kuah sama es mojito deh!"

Berat.

"Yaudah ayo, awas pas kita nyampe sana gue cuma ikut desek desekan dan akhirnya dapet remehan gorengan bu Minah." Aku bangkit dari tempat duduk sebelum akhirnya beranjak dari singgasana yang sangat nyaman.

"Siap, Tuan Putri" Riva menggandeng tanganku dan berjalan menuju kantin.

"Asal lo tau ya, gue lebih seneng dipanggil calon istri Nam Joo Hyuk daripada Tuan Putri."

"Tapi gue yang ga seneng, Ca." dengan wajah polosnya dia mengatakan hal itu.

"Gausah jujur Riv, perih." Riva hanya terkekeh mendengar ucapanku.

Benar saja, kantin penuh sekali. Tadi aku mengatakan seperti pasar gerebek, namun ku kira lebih parah dari itu. Barang-barang di pasar gerebek murah sehingga wajar orang mengantri untuk mendapatkannya. Tapi di kantin ini, semua jajanan terbilang cukup mahal untuk pelajar sepertiku. Mungkin untuk semua pelajar. Tapi, desakan naluri mereka yang mengatakan bahwa perut lebih penting dibandingkan dengan kertas dan logam di saku. Jadi, intinya kami semua terpaksa jajan di kantin super mahal, karna ini bukan pilihan melainkan keharusan.

"Mau gue beliin apa lo mau ikut beli juga?" Riva berhenti sejenak di pintu kantin.
"Gue ikut aja." aku cukup tau diri untuk tidak meminta Riva membeli makanan di kantin sendirian.

Cukup sulit untuk dapat sampai ke penjual batagor kuah dengan banyaknya orang yang juga ikut mengantri, sedangkan lahan cukup sempit jika dibandingkan dengan jumlah siswa sekolah ini.

"Bu, batagor kuah nya dua ya." Riva memesan kemudian mengeluarkan satu lembar uang lima puluh ribuan.
"Bentar neng, panas nih baru aja ngegolak." Ibu kantin mengaduk kuah batagor beberapa kali sebelum menuangkannya di mangkuk.

"Neng, nih jadi dua puluh ribu." Riva menyerahkan uangnya dan menerima makanan itu dengan perlahan.
"Ca, nih hati-hati panas" Riva menyerahkan semangkuk batagor kuah kepadaku kemudian mengambil miliknya.

Brak!!! Tiga detik kemudian, batagor kuah itu membanjiri tubuhku dan mangkuknya pecah menjadi dua di lantai.

"Aww! Panas!" aku hanya berusaha mengibas ngibas baju seragam yang terkena tumpahan kuah batagor yang cukup dapat membuat kulit melepuh.

"Ca! Lo ga apa-apa?" Riva meletakan batagor kuahnya.

"Apa-apa sih sebenernya, Riv"

"Sorry!" Pandanganku teralihkan pada seorang laki-laki dihadapanku yang memakai kaus olahraga dengan handuk kecil melingkar di lehernya.

Dia, Arfan. Kapten tim basket sekolah.
Dan dia mantan kekasihku.

Bersambung...
NR

I Need UStories to obsess over. Discover now