Seperti malam-malam sebelumnya, disinilah dia, berdiri di halaman parkir tepat depan sebuah cafe menatap ke dalam. Atau lebih tepatnya menatap seseorang di dalam sana melalui jendela kaca itu.
Sudah 6 bulan ia seperti ini. Sosok yang dulu ceria dan bersemangat, berubah 180° menjadi dingin dan pendiam.
Sementara itu tidak jauh dari tempatnya berdiri, 2 orang lainnya yang memperhatikan namja yang berdiri itu dari dalam mobil
"Menurutku dia benar-benar sudah gila" ucap salah satunya.
"Diamlah! Kau dibayar bukan untuk berkomentar tentang dirinya" jawab lainnya.
"Tch! Apa kau pernah berfikir betapa dinginnya dirimu?!"
"Aku selalu tahu itu"
"Kau benar-benar menyebalkan, Hoya!"
Tidak mendengarkan jawaban, ia mengalihkan pandangannya ke Hoya, dilihat partnernya itu sedang menatap jauh ke depan. Mengikuti arah pandangnya, ternyata Hoya sedang menatap seseorang yang baru saja keluar dari Cafe.
"Menurutmu apa mungkin kita kembali seperti dulu?"
"Aku tidak tahu, tapi aku juga menginginkannya" kemudian mereka hanya saling diam.
Setelah memastikan dia selamat sampai apartement, ia kembali untuk ke rumahnya sendiri. Sampai ia tiba di salah satu gang sepi dan gelap, jalan pintas menuju rumah, ia berhenti karena jalannya dihadang oleh sekumpulan orang berpakaian hitam, dengan wajah setengah tertutup dan membawa senjata tajam. Saat berbalik berniat mengambil jalan memutar, ia sadar bahwa ia telah terkepung. Walau tahu bahwa ia kalah jumlah, tapi ia menolak untuk menunjukkan rasa takutnya.
"Aku target kalian?" pertanyaan itu justru seperti pernyatan
"Siapa yang mengirim kalian?" Ia tahu benar ia tidak akan mendapatkan jawaban yang ia inginkan
"Hajar dia!!" dengan aba-aba itu, mereka mulai bergerak untuk menyerangnya.
Ia berhasil menghalau serangan pertama dan kedua, tapi belati dari penyerang ketiga berhasil melukai telapak tangannya saat ia berusaha menghentikan serangan yang mengarah ke tenggorokannya. Dengan cepat ia memlintir tangan penyerangnya dan mengambil belatinya untuk dijadikan senjatanya.
Dengan gerakan dan serangan yang cepat dan tangkas, ia berhasil menundukkan sebagian besar dari mereka. Tapi tetap saja ia masih kalah jumlah dari mereka yang masih tersisa belasan orang. Dia sudah benar-benar kelelahan melawan banyak orang sendirian, apalagi dengan kondisi terluka oleh serangan dengan benda tajam mereka.
"Tuan muda!!!" seru suara dari belakang
"Akhirnya! Kalian lambat, dari mana saja?!!" walau ia terlihat sangat kesal, tapi sebenarnya dia sangat lega mereka akhirnya bantuannya datang.
"Maaf kami terlambat. Dongwoo memaksa untuk membeli coffee terlebih dahulu"
"Dan harus membuatku terluka seperti ini?! Whatever!! Sekarang kalian urus sisanya, aku lelah ingin istirahat"
"Tuan muda, anda ingin kami membersihkan sampah-sampah ini secara bersih, atau butuh untuk saur ulang?!" Tanya Dongwoo semangat
"Lakukan apa yang kalian suka, akan ku tunggu di mobil" ucapnya sambil berbalik melangkah pergi
"Dengan senang hati" ucap mereka berdua dengan seringai mereka saat mengeluarkan pedang mereka.
*******
"Dari mana saja kau?!!" suara tegas itu menyambutnya begitu ia masuk ke ruang utama itu.
"Tuan muda Nam Woohyun" ulangnya sekali lagi
"Jeosonghamnida, Sajangnim" balas Woohyun
Pria paruh baya itu berdiri dan menghampiri sang Tuan muda yang masih berdiri di depan pintu
PLAKK
Tamparan keras itu mendarat di pipi putih pucatnya hingga meninggalkan cap tangan yang memerah. Dongwoo dam Hoya hanya bisa berdiri disana melihat dalam diam perlakuan tuan mereka.
"Ada apa dengan tanganmu?" dengan kasar ia menarik tangan Woohyun yang berbalut merah darahnya sendiri hingga dan beberapa menetes ke lantai
"Siapa yang menyerangmu?" Woohyun menarik tangannya dari genggaman Tuan Nam
"Mungkin maksud pertanyaan Sajangnim adalah, 'apakah kau baik-baik saja?'"
PLAKK
Lagi tamparan itu ia dapatkan hingga membuat pipinya yang semakin memerah dan sudut bibirnya robek hingga mengeluarkan darah.
"Dasar anak kurang ajar!! Bagaimanapun kau adalah anakku, Nam Woohyun!" bukan berarti karen anda menghamili wanita yang melahirkanku membuat anda menjadi ayahku! Dan seingatku, anda juga tidak pantas dipanggil suami, bahkan juga tidak pantas dipanggil kekasih, karen kekasih tidak akan membunuh orang yang dicintainya sendiri!!"
"Nam Woohyun!!"
"Dan saya ingatkan, sedikitpun saya tidak menganggap anda sebagai ayah saya, sejak anda menjadikan saya umpan untuk membantai clan-clan itu!!"
BUGHH!!
Kali ini bukan lagi tamparan, tapi sebuah pukulan keras mendarat di wajah Woohyun hingga membuatnya jatuh ke lantai yang dingin dan darah yang mengalir dari hidungnya. Tuan Nam juga terkejut dengan apa yang sudah ia lakukan pada putra semata wayangnya itu, tapi ia memilih untuk menunjukkan ekspresi datarnya. Dongwoo sudah sangat kasihan melihat Woohyun seperti itu, ia segera membantu Woohyun untuk berdiri.
"Dongwoo bawa Woohyun ke kamarnya!"
"Nde, Sajangnim"
*******
Dongwoo membantu Woohyun dengan luka ditangannya dan lebam di beberapa bagian tubuh lainnya, termasuk luka dari Tuan Nam tadi.
"Sudah selesai" ucapnya sambil merapikan kotak P3K
"Sudah lama sekali, kau tidak bertarung lagi" ucapnya duduk di samping Woohyun yang masih menatap kosong ke luar jendela.
"Woohyun-ah, apakah sakit?" Ini adalah permintaan Woohyun agar memanggilnya informal jika yang ada mereka berdua, ini juga berlaku untuk Hoya
"..... di sini jauh lebih sakit" jawab Woohyun sambil memegang dada sebelah kirinya
"Padahal ini milik orang lain, tapi kenapa terasa sakit? Apa orang itu juga memiliki perasaan padanya? Aku benar-benar lelah, tapi sebelum itu aku masih ingin mendengar suaranya yang halus dan penuh perhatian, tatapan teduhnya saat memandangku, tubuh hangatnya saat memelukku, bahkan jika hanya sekali, aku sangat ingin merasakannya. Aku benar-benar merindukannya. Dongwoo hyung, apa ini karma untukku? Karena aku tidak cukup baik untuk menjadi anak hingga mereka berdua tidak menginginkanku?" Tanyanya berbalik menatap Dongwoo dengan air mata yang sudah mengalir derah membasahi wajahnya. Dongwoo segera memeluknya, menenangkan orang yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri itu.
"Maaf dulu kami datang terlambat"
To Be Continued
*ps
- Woohyun = 19 tahun
- Dongwoo = 28 tahun
- Hoya = 28 tahun
YOU ARE READING
We Were
Mystery / ThrillerKau tidak bisa serakah, ingin keduanya. Kau harus memilih salah satu. Lalu pilihan mana yang akan kau pilih? Keluarga? Atau Orang tersayangmu?
